10 Hari untuk Selembar Kain, Tenun Cagcag Jembrana Berjuang Menjaga Warisan Leluhur
JEMBRANA, AnalisaPost | Tenun Cagcag menjadi salah satu warisan budaya yang hingga kini masih bertahan di Kabupaten Jembrana, Bali. Kerajinan tenun tradisional yang telah berkembang sejak masa Kerajaan Jembrana tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya dan sejarah, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat serta berkembang menjadi berbagai produk fesyen dan kerajinan.

Penyebaran karya budaya Tenun Cagcag Jembrana terdapat di sejumlah desa dan kelurahan, antara lain Desa Sangkaragung, Kelurahan Pendem, Desa Batuagung, Dangin Tukad Daya, Dauhwaru, Mendoyo, Dauh Tukad, Desa Baluk, Loloan Timur, Kaliakah, Budeng, Yeh Embang, Pohsanten dan Penyaringan.
Keberadaan Tenun Cagcag tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Jembrana. Ketika pemerintahan kerajaan berada di bawah Raja Jembrana I Gusti Gede Seloka, dibangun keraton baru sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama Puri Agung Negeri atau yang kemudian dikenal sebagai Puri Agung Negara.
Pada masa tersebut, Kerajaan Jembrana diyakini telah memiliki perajin tenun tradisional yang dikenal dengan nama Tenun Cagcag. Para perajin diberikan tugas membuat kain untuk kebutuhan kerajaan maupun keperluan upacara.
Keterampilan menenun pada masa itu memiliki kedudukan penting. Orang yang memiliki kemampuan menenun mendapat perhatian dari kerajaan karena hasil karyanya digunakan sebagai sarana religius maupun kebutuhan sandang bagi raja dan masyarakat.
Kegiatan menenun yang dilakukan masyarakat Jembrana kemudian diwariskan secara turun-temurun. Kemahiran tersebut berkembang melalui proses panjang, dari teknik menenun yang sederhana hingga berkembang pada masa Kerajaan Jembrana.
Pada masa kerajaan, hampir setiap perempuan di Bali, termasuk di Jembrana, diwajibkan memiliki keterampilan menenun. Kemampuan tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan upacara keagamaan.
Sebelum memasuki masa pubertas, perempuan pada masa itu diajarkan menenun Cagcag oleh orang tuanya. Bahkan ketika seorang perempuan akan menikah, kain kamben atau songket yang ditenunnya dapat digunakan dalam upacara pernikahan.
Menggunakan Bahan Serat Alam
Secara tradisional, Tenun Cagcag menggunakan bahan baku berupa serat alam, seperti benang katun, sutra dan rayon. Pewarna yang digunakan juga dapat berasal dari bahan alami, antara lain akar, daun jati dan bahan alam lainnya.
Produk Tenun Cagcag antara lain berupa kain songket dengan ukuran sekitar 45-60 sentimeter x 180 sentimeter. Alat tenun yang digunakan sepenuhnya dibuat dari kayu dan bambu. Dalam proses pengerjaannya, penenun duduk dengan kedua kaki selonjor ke depan, sementara alat tenun dipangku di atas paha.
Peralatan tradisional Tenun Cagcag di Jembrana terdiri atas pengunadaran atau jantra, bungan cagcag, batis cagcag, pandalan, perogrogan, sisir atau serat, tali guwum, tundak, apit, seleran, belide dan por.
Proses pembuatannya juga melalui sejumlah tahapan. Setelah persiapan bahan benang seperti nyelub dan nganjinin, proses dilanjutkan dengan ngeliying atau pemintalan benang lusi, nganyinin untuk mengatur dan menghitung jumlah benang sesuai ukuran kain, nyuntik atau nusuk dengan memasukkan benang lusi ke serat atau sisir, kemudian nyasah untuk mengatur benang lusi pada papan pandalan.
Setelah itu dilakukan proses ngemotif hingga penenunan. Hasil Tenun Cagcag dapat digunakan sebagai busana adat dalam upacara yadnya maupun berbagai kegiatan lainnya. Dari sisi ekonomi, kerajinan tersebut juga menjadi komoditas yang dapat menambah penghasilan keluarga.
Nilai jual kain semakin tinggi apabila menggunakan bahan berkualitas dan memiliki motif khusus. Bagi masyarakat Jembrana, kain hasil Tenun Cagcag juga memiliki nilai sosial dan prestise.
Motif Tradisional Terus Dikembangkan
Seiring perkembangan zaman, motif Tenun Cagcag terus menjadi sumber inspirasi bagi para pengrajin. Selain mempertahankan bentuk tradisional, produk tenun kini dikembangkan menjadi berbagai jenis kebutuhan.
Kain tidak lagi hanya digunakan sebagai kamen dan selendang, tetapi juga dikembangkan menjadi saput, kemeja dan udeng. Pemanfaatannya juga meluas ke produk dekorasi dan perlengkapan rumah tangga, seperti taplak meja, dekorasi seni dan sarung bantal.
Sejumlah kelompok tenun juga mengembangkan produk kerajinan berbahan kain Tenun Cagcag, seperti tas, dompet, sandal, kipas, topi, gantungan kunci hingga berbagai jenis suvenir. Perkembangan tersebut menjadi salah satu upaya agar kain tradisional tetap memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat dan pasar saat ini.
Ngatini Menenun Sejak 1998
Salah seorang penenun di Sentra Tenun Jembrana, Ngatini (50), menjadi bagian dari masyarakat yang masih mempertahankan keterampilan tersebut.
Ngatini mengaku mulai menekuni pekerjaan menenun sejak 1998, setelah menikah. Saat itu, ia ingin memiliki pekerjaan dan belajar menenun secara otodidak.
Ia tidak mengikuti pelatihan khusus. Keterampilannya diperoleh dengan melihat orang lain menenun, kemudian langsung mempraktikkannya.
"Saya mulai menenun dari tahun 1998. Saya belajar dengan melihat, tidak latihan atau belajar secara khusus. Dari melihat saya langsung buat," tutur Ngatini kepada awak media AnalisaPost, Selasa (11/8/26).

Menurut Ngatini, menenun membutuhkan ketelitian tinggi. Salah satu bagian yang cukup sulit adalah ketika benang putus dan harus disambungkan kembali. Benang pada bagian atas dan bawah memiliki posisi masing-masing sehingga penenun harus mengetahui jalur setiap benang. Kesalahan saat menyambungkan dapat memengaruhi motif yang sedang dibuat.
"Kesulitannya mungkin saat benang putus. Kita harus belajar memperbaiki putus sambungnya dan tidak boleh salah. Kalau salah menyambung, motifnya nanti bisa rusak,ā jelasnya.
Kesalahan juga dapat terjadi ketika konsentrasi penenun terganggu, terutama ketika mengerjakan bagian motif. Posisi tangan dan benang harus diperhatikan karena kesalahan mengambil atau memasukkan benang dapat mengubah bentuk motif.
Namun, kesalahan tersebut masih dapat diperbaiki dengan membuka kembali bagian yang keliru dan mengerjakannya hingga motif kembali sesuai.
Motif Menjadi Identitas Tenun Jembrana
Sejumlah motif menjadi ciri khas Tenun Jembrana, di antaranya motif jembatan, bulan bintang dan palebu bunga. Salah satu kain yang ditunjukkan saat kunjungan awak media AnalisaPost merupakan kain dengan motif palebu bunga yang menampilkan bentuk bunga-bunga kecil.
Selain kain untuk busana dan kebutuhan adat, terdapat pula kain berukuran sekitar satu meter yang dibuat untuk kebutuhan pembuatan udeng. Sementara panjang kain tenun dapat mencapai sekitar dua meter, tergantung kebutuhan dan penggunaannya.
Ngatini mengatakan motif tradisional tetap dipertahankan, sedangkan warna dapat disesuaikan dengan perkembangan tren dan permintaan konsumen.
"Motifnya tetap seperti itu, tergantung peminat juga. Ada yang mau motif bintang, jembatan cinta dan lainnya. Kalau warna, kita mengikuti tren,ā terang Ngatini.
Salah satu produk utama yang dibuat para penenun adalah kain songket yang dapat digunakan dalam berbagai kegiatan dan acara. Jenis bahan yang digunakan serta tingkat kerumitan pengerjaan turut memengaruhi karakter dan nilai kain.
Satu Kain Bisa Dikerjakan Hingga 10 Hari
Harga Tenun Jembrana relatif tinggi karena proses pembuatannya masih dilakukan secara manual. Untuk menyelesaikan satu lembar kain, seorang penenun dapat membutuhkan waktu sekitar 10 hari.
Setiap benang dikerjakan satu per satu sehingga membutuhkan ketelitian dan konsentrasi.
"Pengerjaannya sekitar sepuluh hari untuk satu kain. Kita mengerjakan benang satu-satu," katanya.
Harga kain dapat semakin tinggi apabila menggunakan benang sutra. Ngatini mengatakan kain yang pernah dikerjakannya menggunakan benang sutra memiliki harga sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta per lembar.
Kain berbahan sutra umumnya digunakan untuk acara tertentu. Selain memiliki harga lebih tinggi, bahan tersebut memiliki karakter berbeda, seperti tekstur yang lebih halus dan tampilan lebih mengilap.
Pasar Tenun Jembrana juga tidak hanya berasal dari masyarakat Bali. Konsumen dari luar Bali disebut turut tertarik menggunakan produk tenun Jembrana, termasuk kalangan pejabat.
Dalam sejumlah kunjungan, produk tenun juga kerap dijadikan suvenir. Kondisi tersebut menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kain Tenun Jembrana kepada masyarakat luar daerah.
Bertahan Agar Tenun Tidak Punah
Keberadaan penenun tradisional menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Tenun Jembrana. Terlebih, jumlah penenun yang masih aktif dinilai tidak sebanyak sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya keberadaan Sentra Tenun Jembrana. Sentra yang diresmikan pada 22 Desember 2022 itu tidak hanya menjadi tempat promosi dan pemasaran, tetapi juga wadah untuk merangkul pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM).
Pelatihan menenun dilakukan untuk membuka kesempatan bagi generasi penerus mempelajari keterampilan tersebut.
Menurut Ngatini, antusiasme anak muda masih cukup baik ketika kegiatan pelatihan digelar. Pengenalan menenun juga mulai dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Ia menyebut kegiatan menenun antara lain terdapat di SMA Negeri 1 Melaya dan SMK. Kalangan mahasiswa juga disebut memiliki kegiatan yang berkaitan dengan menenun.
"Kalau ada pelatihan-pelatihan, antusias mereka lumayan banyak. Di sekolah juga ada anak-anak yang mengikuti ekstrakurikuler menenun,ā ujarnya.
Bagi Ngatini, mempertahankan tradisi menenun bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga menjaga agar keterampilan tersebut tidak hilang.
"Saya mencintai ini, biar nggak sampai punah juga. Jadi saya bertahan bekerja. Harapannya mudah-mudahan lebih diperhatikan juga para penenun, terutama kesejahteraan kita penenun," tuturnya.
Ia berharap keberadaan penenun semakin mendapat perhatian, terutama dari sisi kesejahteraan.
Sentra Tenun Jadi Wadah IKM
Koordinator Gedung Sentra Tenun Jembrana, Ni Made Risa Puspita Ayuni, mengatakan keberadaan sentra tidak hanya ditujukan sebagai tempat pemasaran produk tenun dan songket khas Jembrana. Sentra juga menjadi ruang promosi bagi pelaku IKM sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal proses dan budaya menenun.
Sentra Tenun Jembrana yang diresmikan pada 22 Desember 2022 dibangun sebagai wadah untuk merangkul pelaku IKM di Kabupaten Jembrana.
"Sentra tenun ini sebenarnya tujuannya untuk merangkul seluruh IKM yang ada di Kabupaten Jembrana. Lebih ke tempat promosi. Jadi masyarakat yang datang ke Jembrana atau masyarakat Jembrana yang mau mencari produk tenun, lebih gampang datang ke sentra tenun," ujar Risa.
Menurutnya, keberadaan sentra juga membantu pengrajin kecil yang masih melakukan produksi dari rumah dan memiliki keterbatasan dalam mempromosikan produknya.
"Pengrajin kecil yang biasanya menenun di rumah, promosinya masih tergolong kurang. Jadi kita membantu untuk promosinya. Kalau selesai di rumah, kita bantu promosikan di sini agar lebih dikenal masyarakat luar," katanya.
Tidak Sekadar Tempat Jual Beli
Selain menjadi pusat promosi dan pemasaran, Sentra Tenun Jembrana juga membuka ruang edukasi.
Siswa, mahasiswa maupun masyarakat yang melakukan penelitian dapat berkunjung untuk mendapatkan penjelasan mengenai tenun, proses pembuatannya hingga keberadaan sentra.
Pengunjung juga diberikan kesempatan mencoba langsung proses menenun dengan didampingi para penenun.
"Biasanya kalau siswa atau mahasiswa datang ke sini, kita kasih mereka untuk mencoba langsung. Tapi tetap didampingi penenun-penenun sentra,ā jelas Risa.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mengenalkan tenun kepada generasi muda. Sejumlah siswa dan mahasiswa juga memanfaatkan Sentra Tenun Jembrana sebagai lokasi pembuatan video tugas maupun penelitian.
"Anak muda itu jadi lebih tahu mengenai tenun. Itu yang utama kalau dari anak-anak muda sekarang,"ujarnya.

Enam Penenun Standby, Ratusan Beraktivitas di Luar Sentra
Saat ini terdapat enam penenun yang secara rutin berada di Sentra Tenun Jembrana. Mereka menjadi penenun yang siap memberikan pelayanan sekaligus mendampingi pengunjung yang ingin mengetahui maupun mencoba proses menenun. Sementara jumlah penenun yang beraktivitas di luar sentra disebut jauh lebih banyak.
"Kalau yang memang standby di sentra ada enam orang. Kalau untuk di luar sentra itu sangat banyak, jumlahnya bisa ratusan,ā kata Risa.
Sentra Tenun Jembrana beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WITA. Penutupan biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu, seperti saat Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Endek dan Songket Jadi Produk Utama
Produk utama yang ditawarkan di sentra adalah kain endek dan songket. Meski kerajinan tenun berkembang di berbagai kabupaten di Bali, Jembrana memiliki sejumlah motif yang menjadi identitas daerah.
Risa menyebut motif jala, makepung dan jegog sebagai beberapa motif yang dikembangkan untuk produk endek.
"Kalau untuk Jembrana, tenunnya ada endek dan songket. Kita lebih fokus ke motif. Untuk endek, motifnya ada jala, makepung dan jegog karena ketiga ini bisa ditemukan di Jembrana," tuturnya.
Motif tersebut mengambil inspirasi dari kekayaan budaya dan identitas Jembrana. Jegog merupakan alat musik tradisional yang dikenal sebagai bagian dari kebudayaan Jembrana, sedangkan makepung menjadi salah satu ikon daerah tersebut.
Produk yang dipasarkan tidak hanya berupa kain. Sejumlah produk turunan berbahan endek juga tersedia, seperti tas dan sepatu.
Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 50 jenis produk yang dipasarkan di Sentra Tenun Jembrana. Produk tersebut berasal dari berbagai IKM dan UMKM yang dirangkul oleh sentra.
"Produknya banyak sekali, lebih dari 50-an jenis produk. Karena kita juga merangkul banyak IKM dan UMKM. Tapi ikonnya tetap tenun dan songket,"kata Risa.
Harga Songket Mencapai Rp7,5 Juta
Harga produk tenun yang tersedia cukup beragam, tergantung motif dan tingkat kerumitan pengerjaannya. Untuk songket dengan motif relatif sederhana, harga berkisar Rp900 ribu hingga Rp1,5 juta. Sementara songket dengan motif lebih banyak dapat mencapai Rp1,5 juta hingga Rp7,5 juta.
"Kalau songket yang motifnya sedikit, kisarannya dari Rp900 ribu sampai Rp1,5 juta. Kalau motifnya lebih banyak, bisa Rp1,5 juta sampai Rp7,5 juta," jelas Risa.
Selain produk tenun, sentra juga menyediakan sejumlah produk UMKM lainnya. Namun, produk makanan masih dalam jumlah terbatas karena jenis produk yang dihasilkan sejumlah UMKM relatif sama.
Keberadaan Sentra Tenun Jembrana berada di bawah Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui bidang perindustrian pada Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian.
Dukungan pemerintah antara lain dilakukan melalui keterlibatan produk IKM dan UMKM dalam berbagai kegiatan pameran maupun event yang digelar pemerintah.
Ketika terdapat kegiatan seperti pasar rakyat maupun pameran, pelaku IKM dan UMKM dilibatkan untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat.
"Supportnya lebih banyak seperti kita diajak untuk pameran. Kalau sudah ada pameran, seperti kemarin ada pasar rakyat, IKM dan UMKM, produk makanan juga semuanya kita libatkan. Kita membantu untuk mempromosikan," katanya.
Selain kegiatan promosi, Sentra Tenun Jembrana juga menyediakan fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan tertentu. Terdapat dua ruangan yang dapat dipinjamkan, yakni ruang outdoor dan ruangan di lantai tiga. Salah satu ruangan tersebut disebut mampu menampung hingga sekitar 200 orang.
Kunjungan ke Sentra Tenun Jembrana berlangsung setiap hari. Pengelola juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah hotel di Jembrana untuk mendorong kunjungan tamu hotel ke sentra.
Pengunjung tidak hanya berasal dari Jembrana, tetapi juga dari luar daerah hingga luar Bali. Menurut Risa, sejak awal berdiri hingga 2024, Sentra Tenun Jembrana juga menerima kunjungan dari pemerintah pusat maupun sejumlah tokoh.
"Dari luar Jembrana, bahkan luar Bali. Saat kita baru opening sentra tenun dari 2022 akhir sampai 2024, kita full menerima kunjungan dari pusat. Dari menteri-menteri dan tokoh juga dulu ke sini," ujarnya.
Risa juga menyebut peresmian Sentra Tenun Jembrana dilakukan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Uno.
Meski kunjungan wisatawan berlangsung cukup rutin, karakter pembeli produk di sentra berbeda berdasarkan jenis produk. Untuk produk UMKM, khususnya makanan dan oleh-oleh, pembeli lebih banyak berasal dari luar Jembrana maupun luar Bali yang sedang melakukan perjalanan.
Sementara untuk produk tenun, pembelinya masih didominasi masyarakat Jembrana dan konsumen dari wilayah lain di Bali. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku tenun untuk memperluas pasar hingga tingkat nasional maupun internasional.
Menargetkan Tenun Jembrana Mendunia
Ke depan, pengelola berharap Sentra Tenun Jembrana semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya menjadi pusat promosi bagi masyarakat lokal, tetapi juga mampu membawa produk tenun Jembrana menembus pasar nasional hingga internasional.
Risa berharap keberadaan sentra dapat terus memberikan manfaat bagi para IKM dan penenun di Kabupaten Jembrana.
āHarapan saya untuk sentra tenun, pastinya biar bisa semakin dikenal lagi untuk seluruh masyarakat yang ada di Indonesia. Atau mungkin bisa mendunia nantinya,ā katanya.
Menurutnya, keberadaan Sentra Tenun Jembrana menjadi salah satu ruang penting dalam pengembangan industri tenun daerah. "Biar semakin dikenal dan semakin bisa membantu untuk IKM-IKM yang ada di Kabupaten Jembrana," pungkas Risa.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com






Komentar