top of page

AISITS Rekam Pergerakan KM Virgo Transport 8 Sebelum Sinyal Hilang di Selat Madura

36 menit yang lalu
3 menit membaca

SURABAYA – AnalisaPost | Sistem pemantauan kapal berbasis Automatic Identification System (AIS) milik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mencatat pergerakan KM Virgo Transport 8 sebelum kapal tersebut kehilangan sinyal di Selat Madura. Data tersebut dinilai dapat menjadi salah satu bahan penting untuk menelusuri perjalanan kapal dalam rangka investigasi insiden maritim.

Alat receiver AIS, transmitter AIS, dan lampu navigasi yang diciptakan oleh ITS
Alat receiver AIS, transmitter AIS, dan lampu navigasi yang diciptakan oleh ITS (Foto: Ist)

Pakar Sistem Perkapalan ITS, Dr Eng Dhimas Widhi Handani ST MSc, mengatakan pergerakan KM Virgo Transport 8 terekam melalui Automatic Identification System of ITS (AISITS). Data tersebut diterima melalui Remote Base Station (RBS) dan server AISITS.


Berdasarkan rekaman AISITS, KM Virgo berangkat dari Terminal Jamrud Selatan pada 12 September sekitar pukul 10.00 WIB. Saat masih berada di kawasan pelabuhan, kapal tercatat bergerak dengan kecepatan antara 0,3 hingga 3,5 knots. Kapal kemudian memasuki Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).


Setelah berada di APBS, kecepatan kapal meningkat menjadi sekitar 12 hingga 14 knots. Dhimas menyebut, ketika berada di sekitar Karang Jamuang pada sekitar pukul 12.00 WIB, KM Virgo tercatat melaju relatif konstan pada kecepatan 13 hingga 14 knots.


“Melalui server AISITS, perjalanan kapal kemudian melanjut ke arah timur laut menuju Banjarmasin, Kalimantan,” ujar Dhimas.


Stasiun AISITS selanjutnya mencatat sinyal terakhir KM Virgo pada pukul 22.33 WIB dengan kecepatan 12,9 knots. Setelah waktu tersebut, data pergerakan kapal tidak lagi diterima oleh sistem.

Menurut Dhimas, terhentinya penerimaan data dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan. Salah satunya kapal berada di luar jangkauan pelaporan AISITS. Kemungkinan lainnya adalah perangkat AIS transponder yang terpasang di kapal berhenti mengirimkan data.


“Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa perangkat AIS transponder di kapal berhenti mengirimkan data,” jelas dosen Departemen Sistem Perkapalan ITS tersebut.


Sebagai Kepala Laboratorium Keandalan dan Keselamatan ITS, Dhimas menilai data historis dari sistem pemantauan kapal memiliki peran penting dalam proses investigasi insiden di laut. Rekaman pergerakan kapal dapat membantu mengidentifikasi pola pelayaran, termasuk apabila sebuah kapal keluar dari jalur yang ditentukan atau berhenti di kawasan yang tidak diperbolehkan.


Data tersebut, lanjutnya, juga dapat digunakan untuk mengawasi aktivitas kapal di sekitar fasilitas vital seperti pipa bawah laut dan offshore platform.


Tidak hanya untuk mendukung investigasi kecelakaan, AISITS memiliki sejumlah fitur yang dirancang untuk memperkuat pemantauan dan keamanan maritim. Fitur tersebut antara lain early warning system, ship tracking system, fuel oil monitoring, dan smart buoy monitoring.


AISITS juga dilengkapi dengan fitur predictive maneuvering plan, informasi cuaca, serta peta kepadatan lalu lintas kapal atau heat maps. Sistem peringatan dini tersebut dapat dipantau secara langsung melalui aplikasi maupun command center yang berada di tepi pantai.

Dosen Sistem Perkapalan ITS Dr Eng Dhimas Widhi Handani ST MSc menjelaskan platform AISITS bisa dibuka di telepon genggam
Dosen Sistem Perkapalan ITS Dr Eng Dhimas Widhi Handani ST MSc menjelaskan platform AISITS bisa dibuka di telepon genggam (Foto: Ist)

Dhimas menjelaskan, kemampuan pemantauan tersebut memungkinkan pihak terkait memperoleh informasi kondisi lalu lintas kapal secara lebih cepat. Dengan demikian, potensi gangguan terhadap fasilitas vital maupun aktivitas pelayaran dapat diidentifikasi dan diantisipasi lebih dini.


Pemanfaatan AISITS sekaligus menunjukkan penerapan teknologi pelacakan real-time dan analisis data historis dalam mendukung keselamatan pelayaran. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu proses investigasi serta mengurangi risiko kecelakaan dan gangguan keselamatan di perairan Indonesia.


Pengembangan AISITS juga dinilai sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Sistem tersebut mendukung SDGs ke-9 melalui pengembangan industri, inovasi, dan infrastruktur maritim yang andal.


Selain itu, pemanfaatan teknologi pemantauan maritim turut berkaitan dengan SDGs ke-14 yang berfokus pada perlindungan ekosistem laut, termasuk upaya mengurangi risiko pencemaran yang dapat ditimbulkan oleh kecelakaan maupun aktivitas industri maritim.(*)

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya