Beban Domestik Perempuan Tetap Tinggi meski Menjadi Pencari Nafkah Utama
JAKARTA - analisapost.com | Menjadi pencari nafkah utama belum membuat perempuan terbebas dari tanggung jawab domestik dan pengasuhan. Studi Populix menunjukkan, perempuan yang menjadi penopang utama ekonomi keluarga justru masih menghadapi beban pengasuhan dan pengambilan keputusan rumah tangga yang relatif tinggi.

Temuan itu tercantum dalam kajian Populix bertajuk “Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi”. Kajian tersebut dilakukan melalui survei terhadap 1.000 rumah tangga urban yang bekerja pada Maret-April 2026.
Persoalan beban kerja tersebut berlangsung bersamaan dengan adanya kesenjangan rata-rata upah antara pekerja laki-laki dan perempuan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam kajian, rata-rata upah buruh laki-laki pada Mei 2026 mencapai Rp3,69 juta per bulan, sementara perempuan Rp2,86 juta.
Dengan demikian, terdapat selisih sekitar Rp830 ribu atau 22 persen secara agregat. Populix menegaskan angka tersebut tidak secara langsung menunjukkan perbedaan upah untuk pekerjaan yang sama.
Policy & Social Researcher Populix, Anisa Dwi Ariyani, mengatakan beban kerja perempuan tidak dapat dilihat hanya dari pekerjaan yang menghasilkan pendapatan. Ketika pekerjaan domestik dan pengasuhan ikut diperhitungkan, akumulasi waktu kerja perempuan justru lebih panjang.
Dalam studi tersebut, perempuan rata-rata menghabiskan waktu 22 menit lebih sedikit untuk pekerjaan berbayar dibandingkan laki-laki. Namun, setelah pekerjaan domestik turut dihitung, perempuan tercatat bekerja 19 menit lebih lama setiap hari.
Pekerjaan domestik yang dilakukan perempuan mencapai rata-rata 3 jam 14 menit per hari. Angka itu 41 menit lebih banyak dibandingkan laki-laki yang menghabiskan sekitar 2 jam 33 menit untuk pekerjaan serupa.
Jika dikalkulasikan selama satu tahun, selisih waktu tersebut mencapai 252 jam. Dengan asumsi delapan jam kerja per hari, jumlah itu setara sekitar 31 hari kerja.
“Pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan masih dianggap sebagai unpaid labor (pekerjaan tanpa upah), dan luput dari hitungan ekonomi. Padahal bila dihitung nilai ekonomisnya, selisih waktu pekerjaan domestik dan pengasuhan anak yang dibebankan kepada perempuan setara 31 hari kerja dengan hitungan 8 jam kerja sehari,” ujar Anisa.
Beban Pengasuhan Tidak Hanya Soal Waktu
Untuk mengukur beban pengasuhan, Populix menggunakan Gendered Care Burden Index atau Indeks Beban Pengasuhan Berbasis Gender. Indeks ini mencakup tiga dimensi, yakni beban waktu, beban keputusan dan mental, serta kekurangan dukungan pengasuhan.
Secara keseluruhan, rumah tangga urban yang menjadi responden mencatat skor beban pengasuhan 45,7 dari 100 dan berada dalam kategori menengah. Sebanyak 65,1 persen responden masuk kategori beban menengah, sedangkan 3,4 persen berada pada kategori tinggi.
Dari tiga dimensi tersebut, sumber beban terbesar bukan berasal dari durasi waktu. Kekurangan dukungan pengasuhan mencatat skor tertinggi, yakni 57,5. Berikutnya adalah beban keputusan dan mental sebesar 54,6, sedangkan beban waktu berada pada skor 24,9.
Keterbatasan layanan pengasuhan juga disebut dapat memengaruhi keputusan keluarga dalam mengatur pekerjaan. Populix mencatat biaya pengasuh anak berkualitas di Jakarta berada pada kisaran setengah hingga satu kali upah minimum provinsi.
Selain persoalan biaya, keamanan dan kualitas layanan menjadi pertimbangan orang tua ketika memilih layanan pengasuhan.
“Kombinasi antara keterbatasan layanan, biaya yang tinggi, dan keraguan terhadap kualitas menempatkan banyak keluarga dalam pilihan yang sulit. Akibatnya sebagian perempuan harus mengurangi waktu kerja, menolak peluang karier, atau mempertimbangkan berhenti bekerja karena tidak menemukan dukungan pengasuhan yang sesuai,” jelas Anisa.
Beban domestik dalam studi tersebut juga mencakup aspek yang tidak selalu terlihat secara fisik, seperti pengambilan keputusan dan beban mental. Pada dimensi ini, perempuan mencatat skor 59,7, sementara laki-laki 48,5.
Sebanyak 71,7 persen perempuan yang disurvei mengatur sedikitnya 60 persen keputusan pengeluaran harian rumah tangga. Tanggung jawab tersebut antara lain mencakup perencanaan kebutuhan keluarga, pengaturan jadwal anak, belanja, hingga memastikan pembayaran tagihan.

Tanggung jawab tersebut juga berkaitan dengan tingkat kewalahan yang dirasakan responden. Sebanyak 34,9 persen perempuan mengaku sering atau sangat sering merasa kewalahan akibat tanggung jawab rumah tangga. Pada laki-laki, proporsinya tercatat 18,4 persen.
Pencari Nafkah Utama Tetap Menghadapi Beban Ganda
Status sebagai pencari nafkah utama ternyata tidak otomatis mengurangi beban domestik perempuan. Studi Populix menunjukkan kelompok perempuan yang menjadi pencari nafkah utama memiliki skor beban pengasuhan 51,9, lebih tinggi dibandingkan skor keseluruhan responden yang mencapai 45,7.
Pada kelompok tersebut, beban keputusan dan mental bahkan mencapai skor 67,0.
Jika dibandingkan dengan laki-laki yang juga berstatus sebagai pencari nafkah utama, perempuan mencatat skor beban keputusan 17,3 poin lebih tinggi. Sementara skor beban waktu perempuan 9,9 poin lebih tinggi.
Sebanyak 8,2 persen perempuan pencari nafkah utama dalam studi tersebut masuk kategori beban pengasuhan tinggi.
Populix juga mengidentifikasi kelompok Double Burden, yakni rumah tangga yang menghadapi tekanan ekonomi sekaligus beban pengasuhan dalam kategori menengah hingga tinggi. Kelompok ini mencakup 35,2 persen responden, dengan 65,1 persen di antaranya merupakan perempuan.
Perempuan tercatat sekitar 1,5 kali lebih mungkin berada dalam kelompok Double Burden dibandingkan laki-laki. Proporsinya masing-masing 41,8 persen dan 27,2 persen.
Di antara rumah tangga yang masuk kelompok tersebut, sebanyak 46,6 persen mengaku sering atau sangat sering merasa kewalahan. Sementara itu, 54,3 persen tidak menggunakan layanan pengasuhan.
Anisa mengatakan temuan tersebut perlu ditempatkan dalam pembahasan yang lebih luas mengenai kesempatan perempuan untuk bertahan dan berkembang di dunia kerja.
“Studi ini memang tidak mengukur penyebab kesenjangan upah secara langsung, namun memperlihatkan bahwa perempuan masih mencurahkan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan bertanggung jawab dalam pengelolaan rumah tangga yang lebih besar,” terangnya.
Cakupan Studi Memiliki Sejumlah Batasan
Studi Populix dilakukan melalui survei daring terhadap 1.000 rumah tangga urban pada Maret-April 2026. Responden terdiri atas pencari nafkah utama atau pendamping yang sedang bekerja serta terlibat dalam pengambilan keputusan keuangan rumah tangga.
Populix menyebut hasil penelitian perlu dibaca berdasarkan cakupan respondennya. Survei tidak memasukkan ibu rumah tangga penuh waktu dan 80,1 persen responden berdomisili di Jawa.
Selain itu, estimasi jam kerja dalam studi dihitung berdasarkan titik tengah kategori jawaban responden, bukan melalui pencatatan penggunaan waktu secara langsung. Karena itu, Populix menyatakan besarnya beban pengasuhan yang terlihat dalam studi tersebut kemungkinan lebih rendah dibandingkan kondisi seluruh rumah tangga perkotaan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa ukuran beban kerja dalam keluarga tidak hanya dapat dilihat dari pekerjaan yang menghasilkan pendapatan. Waktu untuk mengurus rumah, merawat anak, mengambil keputusan keluarga, dan memastikan kebutuhan rumah tangga tetap berjalan menjadi bagian lain dari aktivitas kerja yang turut dijalankan oleh banyak perempuan.(Utm)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com






Komentar