Bensin Sawit Karya ITS Jadi Solusi Cerdas Tekan Impor BBM Fosil
- analisapost

- 31 menit yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Di tengah isu krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah dan dorongan percepatan transisi menuju energi hijau, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan inovasi bahan bakar alternatif berbasis kelapa sawit berupa bensin sawit (Benwit).

Proyek ini didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan dinilai berpotensi mendukung upaya pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) fosil.
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST, MScEng, PhD, mengatakan inovasi tersebut hadir pada momentum yang tepat, ketika negara-negara di kawasan ASEAN mulai terdampak fluktuasi harga minyak dunia.
"Ini peluang besar bagi pemerintah. Kita punya bahan bakunya, dan sekarang kita punya teknologinya untuk mengurangi beban impor BBM,ā ujar Bambang, Selasa (7/4).
Menurutnya, posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia menjadi modal penting dalam pengembangan bahan bakar alternatif tersebut.
Pengembangan Benwit dipimpin oleh dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Dr. Eng. Hosta Ardhyananta, ST, MSc, bersama tim peneliti. Hosta menjelaskan bahwa keunggulan Benwit terletak pada rekayasa katalis yang digunakan dalam proses produksinya. Fokus utama penelitian tersebut adalah mengonversi minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm OilĀ (CPO) menjadi bahan bakar bensin nabati rendah emisi yang siap digunakan.
āFokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,ā kata Hosta.
Dalam proses produksinya, tim memanfaatkan metode catalytic cracking, yakni teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil dengan bantuan katalis. Pada tahap awal, proses menggunakan katalis berbasis alumina (γ-AlāOā) untuk memecah trigliserida dalam CPO menjadi fraksi hidrokarbon ringan.

Melalui metode tersebut, tingkat konversi biogasoline mencapai sekitar 60 persen, namun masih membutuhkan suhu operasi tinggi hingga 420 derajat Celsius.
Pengembangan lanjutan kemudian dilakukan melalui penggunaan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) dengan komposisi seimbang. Hosta menjelaskan, kedua material tersebut bekerja secara sinergis, di mana NiO berfungsi memutus rantai karbon, sedangkan CuO membantu menghilangkan kandungan oksigen.
Hasilnya, suhu operasi berhasil diturunkan menjadi 380 derajat Celsius, sementara rendemen biogasoline meningkat signifikan dari 60 persen menjadi 83 persen.
Produk bensin nabati yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek pada rentang C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin komersial. Selain itu, sebagian produk samping berupa gas dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar untuk memanaskan reaktor.
Sementara itu, residu cair yang dihasilkan juga tetap dimanfaatkan sehingga mendukung konsep produksi minim limbah.
"Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,ā jelas Hosta.
ITS juga menerapkan prinsip life cycle assessmentĀ (LCA) dalam penelitian tersebut untuk memastikan proses produksi tetap sejalan dengan konsep energi terbarukan dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis, produksi biogasoline dari CPO dinilai memiliki jejak karbon yang rendah.
Baca Juga: Genesys Integrated Indonesia Luncurkan Solusi AI Tepat Guna untuk Dukung Efisiensi Bisnis
Sistem produksi yang menerapkan konsep zero emissionĀ ini disebut selaras dengan tujuan Sustainable Development GoalsĀ (SDGs), terutama poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau, poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin ke-13 terkait penanganan perubahan iklim.
Dari sisi implementasi, teknologi Benwit saat ini telah diuji pada mesin-mesin pertanian yang dinilai lebih fleksibel untuk dimodifikasi menggunakan bahan bakar alternatif.
āMelalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif,ā ujar Hosta.

Ia menambahkan, pengembangan teknologi ini juga diarahkan untuk mendukung kemandirian teknologi nasional, mengingat industri minyak dan gas di Indonesia masih banyak bergantung pada alat dan mesin produksi dari luar negeri.
Ke depan, ITS berencana memperluas implementasi inovasi tersebut dengan kapasitas produksi yang lebih besar agar dapat berkontribusi lebih luas dalam menjawab ancaman krisis energi nasional.
Sejalan dengan itu, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, ST, PhD, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI agar inovasi ini dapat diuji coba sebagai proyek nasional.
āMinimal dengan adanya inovasi ini akan mengurangi beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor,ā tegasnya. (Utm)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar