ITS Kembangkan Bensin Sawit Lebih Efisien dan Rendah Emisi
- analisapost

- 13 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Diperbarui: 11 menit yang lalu
SURABAYA - analisapost.com | Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan metode produksi bensin berbahan dasar kelapa sawit yang dinilai lebih efisien dan rendah emisi sebagai solusi menghadapi krisis energi global.

Inovasi tersebut berupa bensin sawit atau biogasoline (Benwit) yang dikembangkan melalui riset bahan bakar alternatif berbasis crude palm oil (CPO).
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD, mengatakan inovasi ini memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil di tengah tantangan krisis energi dunia.
“Ini menjadi peluang besar bagi pemerintah untuk mengembangkan energi alternatif di tengah krisis global,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Riset tersebut dikembangkan oleh dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc, bersama timnya. Menurut Hosta, penelitian berfokus pada konversi minyak sawit mentah menjadi bensin biogasoline siap pakai dengan residu yang minimal.
Dalam prosesnya, tim menggunakan metode catalytic cracking, yakni teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil dengan bantuan katalis. Pada tahap awal, proses dilakukan menggunakan katalis alumina dengan tingkat konversi sekitar 60 persen pada suhu tinggi mencapai 420 derajat Celsius.
Namun, pengembangan terbaru menunjukkan peningkatan signifikan setelah tim menggunakan katalis bimetalik berupa nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO).
Melalui metode tersebut, suhu operasi berhasil diturunkan menjadi 380 derajat Celsius, sementara rendemen biogasoline meningkat hingga 83 persen.
Produk bensin nabati yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek C5–C11, yang setara dengan komponen bensin komersial. Selain itu, limbah hasil proses juga dapat dimanfaatkan kembali.

Gas hasil samping digunakan sebagai bahan bakar untuk pemanas reaktor, sedangkan residu cair dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif lainnya.
“Residu cair bisa dimanfaatkan kembali seperti bahan bakar kompor,” kata Hosta.
Selain menitikberatkan pada efisiensi produksi, riset ini juga memperhatikan aspek life cycle assessment (LCA) dengan jejak karbon rendah serta mengusung konsep zero emission yang sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs).
Inovasi tersebut telah diimplementasikan pada mesin-mesin pertanian yang lebih fleksibel dalam penggunaan bahan bakar alternatif.
Menurut Hosta, langkah ini membuka peluang bagi petani untuk tidak sepenuhnya bergantung pada bensin berbasis minyak bumi. “Petani bisa memiliki alternatif bahan bakar yang lebih stabil dan tidak tergantung harga BBM,” ujarnya.
Baca juga: BPS Jawa Timur Siap Gelar Sensus Ekonomi 2026, Targetkan Pendataan Lebih dari 5 Juta Usaha
Sementara itu, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS (DRPM), Fadlilatul Taufany ST PhD, menyatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mendorong uji coba pada skala nasional.
“Minimal inovasi ini bisa mengurangi ketergantungan impor energi Indonesia,” tegasnya.
Ke depan, ITS menargetkan peningkatan kapasitas produksi agar inovasi bensin berbahan kelapa sawit tersebut dapat diterapkan secara lebih luas. (Che)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar