Dari Letusan Krakatau 1883 hingga Lahirnya Anak Krakatau, Sejarahnya Kembali Jadi Sorotan Dunia
- analisapost

- 21 jam yang lalu
- 5 menit membaca
SURABAYA - AnalisaPost | Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam di perairan Selat Sunda. Erupsi yang mulai terekam pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB tersebut berakhir pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.

Meski episode erupsi menerus telah berakhir, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih tinggi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempertahankan status gunung api tersebut pada Level III atau Siaga.
PVMBG juga mencatat satu erupsi susulan bertipe Strombolian pada Minggu (6/9/26) pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik. Potensi erupsi susulan masih ada, dengan ancaman berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi.
Badan Geologi meminta masyarakat, wisatawan, maupun pendaki tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sementara masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan mengikuti informasi serta arahan resmi pemerintah daerah dan instansi terkait.
Abu Vulkanik Menyebar hingga Sejumlah Wilayah
Dampak erupsi tidak hanya terlihat di sekitar gunung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (6/9/26) melaporkan hasil analisis citra satelit menunjukkan dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda dan Samudra Hindia.
Sebaran abu tersebut turut berdampak terhadap aktivitas penerbangan. BMKG menyebut sejumlah bandara mengalami penutupan sementara pada waktu berbeda berdasarkan perkembangan kondisi abu vulkanik dan keselamatan penerbangan.
Namun, hingga Minggu pagi, pemantauan BMKG tidak menunjukkan adanya indikasi tsunami. Berdasarkan pengamatan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB, tidak ditemukan anomali muka air laut. Pemantauan InaTEWS hingga pukul 07.30 WIB juga tidak menunjukkan anomali muka laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami akibat rangkaian erupsi tersebut.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Capai Jakarta, Dinkes Ingatkan Warga Lindungi Pernapasan
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan aktivitas Anak Krakatau kembali mendapat perhatian internasional. Sejarah gunung api di Selat Sunda ini tidak dapat dipisahkan dari peristiwa besar yang terjadi lebih dari satu abad lalu.
Ketika Krakatau Mengguncang Dunia pada 1883
Jauh sebelum Anak Krakatau muncul, kawasan tersebut dikenal sebagai lokasi Gunung Krakatau yang mengalami salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah.
Letusan besar Krakatau pada 1883 bukan hanya menjadi bencana di sekitar Selat Sunda. Dampaknya tercatat jauh melampaui kawasan gunung api tersebut dan menjadi salah satu peristiwa vulkanik yang mendapat perhatian luas dunia.
Krakatau berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik India-Australia dan Eurasia, wilayah yang dikenal memiliki aktivitas vulkanik dan kegempaan tinggi. Dalam perjalanan geologisnya, aktivitas vulkanik membentuk kerucut gunung yang tersusun atas aliran batuan vulkanik yang berselang-seling dengan lapisan kerikil vulkanik dan abu.
Diperkirakan sekitar 416 Masehi, bagian puncak Krakatau mengalami kehancuran dan membentuk kaldera dengan diameter sekitar enam kilometer.
Sebagian bagian kaldera kemudian berada di atas permukaan laut dan membentuk sejumlah pulau, antara lain Sertung atau Verlaten di barat laut, Lang dan Polish Hat di timur laut, serta Rakata di bagian selatan.
Tiga kerucut vulkanik baru kemudian terbentuk dan menyatu menjadi satu pulau. Salah satu kerucut tersebut mencapai ketinggian sekitar 813 meter di atas permukaan laut.
Sebelum bencana besar 1883, letusan yang telah dikonfirmasi tercatat terjadi pada 1680 dan tergolong sedang. Namun, aktivitas Krakatau kembali meningkat pada 1883.
Letusan Makin Dahsyat Menjelang 27 Agustus
Pada 20 Mei 1883, salah satu kerucut Krakatau mulai menunjukkan aktivitas. Awan abu vulkanik membumbung hingga sekitar 10 kilometer, sementara suara ledakan terdengar sampai Batavia atau Jakarta yang berjarak sekitar 160 kilometer.
Aktivitas tersebut sempat mereda pada akhir Mei. Namun, letusan kembali terjadi pada 19 Juni dan terus mengalami peningkatan.

Pada 26 Agustus 1883, rangkaian letusan semakin kuat. Sekitar pukul 13.00, aktivitas letusan meningkat, disusul awan hitam berisi abu yang membumbung hingga sekitar 27 kilometer pada pukul 14.00. Puncaknya terjadi pada 27 Agustus 1883.
Ledakan dahsyat terdengar hingga Australia yang berjarak sekitar 3.500 kilometer. Material vulkanik terlontar hingga ketinggian sekitar 80 kilometer. Gelombang tekanan atmosfer akibat ledakan tersebut bahkan tercatat di berbagai wilayah dunia. Setelah itu, aktivitas mulai melemah. Pada pagi 28 Agustus, Krakatau kembali relatif tenang. Namun, letusan-letusan kecil masih terjadi hingga Februari 1884.
Abu Vulkanik Menutupi Wilayah Luas
Letusan Krakatau 1883 melontarkan hampir 21 kilometer kubik pecahan batuan ke atmosfer. Abu vulkanik menyebar hingga menutupi wilayah sekitar 800.000 kilometer persegi.
Material batu apung yang mengapung di laut di sekitar gunung bahkan begitu tebal hingga menghambat pelayaran. Kawasan sekitar Krakatau juga mengalami kegelapan selama sekitar dua setengah hari karena abu vulkanik memenuhi atmosfer.
Partikel debu halus kemudian menyebar mengelilingi Bumi beberapa kali. Fenomena tersebut turut memengaruhi warna matahari terbenam yang terlihat merah dan jingga di berbagai tempat selama tahun berikutnya.
Namun, dampak paling mematikan dari peristiwa tersebut datang dari tsunami. Runtuhnya bagian tubuh gunung memicu gelombang tsunami yang menerjang kawasan pesisir Jawa dan Sumatra. Gelombang terbesar diperkirakan mencapai sekitar 37 meter. Bencana tersebut menewaskan sekitar 36.000 orang.
Catatan sejarah Krakatau 1883 kemudian menjadi salah satu alasan mengapa setiap peningkatan aktivitas vulkanik di kawasan tersebut mendapat perhatian serius.
Dari Krakatau Menjadi Anak Krakatau
Setelah kehancuran besar pada 1883, kawasan Krakatau tidak berhenti mengalami aktivitas vulkanik.
Pada Desember 1927, aktivitas vulkanik kembali muncul melalui letusan di dasar laut pada jalur yang sama dengan lokasi kerucut vulkanik sebelumnya.
Pada awal 1928, kerucut vulkanik baru mulai muncul hingga mencapai permukaan laut.
Perkembangan tersebut terus berlangsung. Pada 1930, kerucut itu telah berkembang menjadi sebuah pulau kecil yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.
Gunung api baru tersebut kemudian terus tumbuh dan beberapa kali mengalami erupsi. Dalam sejarah berikutnya, Anak Krakatau kembali menjadi perhatian besar pada 22 Desember 2018. Badan Geologi mencatat gempa memicu erupsi dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang kemudian menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda. Setelah kejadian tersebut, aktivitas erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai bagian dari fase pertumbuhan kembali gunung api hingga Desember 2023.
Aktivitas kembali meningkat pada 2 Juli 2026. Sejak saat itu, status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Serangkaian erupsi tipe Strombolian kemudian terus berlangsung hingga memasuki September 2026.
Anak Krakatau Kembali Menjadi Perhatian Dunia
Erupsi menerus yang terjadi pada awal September 2026 menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau masih berlangsung.
Fenomena tersebut juga memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa geologi yang terjadi lebih dari 140 tahun lalu masih memiliki hubungan dengan dinamika gunung api yang berlangsung hingga sekarang.
Peneliti senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, sebelumnya menyoroti perhatian dunia terhadap aktivitas Krakatau karena sejarah letusan 1883.
Menurut Erma, letusan Krakatau pada masa lalu memberikan dampak yang begitu luas sehingga aktivitas gunung api tersebut hingga kini tetap menjadi perhatian internasional.
Sementara itu, kondisi Anak Krakatau pada 6 September 2026 masih terus dipantau secara intensif oleh PVMBG dan BMKG. Badan Geologi menyatakan episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam telah berakhir, tetapi aktivitas vulkanik belum sepenuhnya mereda. Status Level III Siaga tetap berlaku dan potensi erupsi susulan masih diperhitungkan.
Bagi masyarakat, pesan otoritas saat ini bukan untuk panik, melainkan meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi. Sebab, sejarah Krakatau telah menunjukkan bahwa aktivitas gunung api di kawasan Selat Sunda merupakan bagian dari proses alam yang terus berlangsung.
Dari kehancuran Krakatau pada 1883, lahirnya Anak Krakatau pada 1930, hingga aktivitas vulkaniknya pada 2026, kawasan tersebut kembali mengingatkan dunia bahwa sejarah geologi belum benar-benar berakhir. (Dwi)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar