top of page

Dari Ma’Lettoan hingga Ma’dero, Warga Toraja Rawat Tradisi di Tanah Rantau

4 hari yang lalu
4 menit membaca

Diperbarui: 4 menit yang lalu

MALANG -analisapost.com | Masyarakat Toraja yang tinggal di tanah perantauan menggelar ibadah syukur tahunan Gereja Toraja Jemaat Surabaya dan Tongkonan Toraya yang dikemas dalam nuansa budaya Toraja. Kegiatan bertema “Tammuan To Sikamali” tersebut berlangsung di Kampus ITN Malang, Minggu (27/9/26).

Warga Toraja mengarak Lettoan, rumah adat Tongkonan yang dihias dengan janur dan daun-daunan, dalam rangkaian ibadah syukur dan pesta budaya di Malang.
Warga Toraja mengarak Lettoan, rumah adat Tongkonan yang dihias dengan janur dan daun-daunan, dalam rangkaian ibadah syukur dan pesta budaya di Malang.(Foto: Div)

Kegiatan tersebut dihadiri warga Toraja dari sejumlah daerah, di antaranya Gresik, Sidoarjo, Malang, Surabaya dan Semarang. Mereka mengenakan pakaian adat maupun kain bermotif khas Toraja yang memadukan ibadah, prosesi adat, kesenian dan tradisi masyarakat Toraja.


Rangkaian kegiatan diawali dengan Ma’Lettoan, yakni prosesi mengarak sebuah kotak berbahan bambu berbentuk rumah adat Tongkonan. Lettoan dihias menggunakan janur, daun tabang dan sirri-sirri atau daun puring.


Lettoan kemudian diarak atau dibulle menuju lokasi pelaksanaan upacara. Orang-orang yang memikul Lettoan diatur berdasarkan rumpun keluarga, mulai dari yang lebih tua hingga yang lebih muda.


Dalam prosesi tersebut, warga turut menyanyikan lagu dan bersorak sambil berjalan sebagai bagian dari ungkapan kegembiraan. Prosesi ini juga menjadi salah satu bentuk pelestarian tradisi dan kebersamaan masyarakat Toraja di tanah perantauan.


Setelah Ma’Lettoan, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian tradisional, antara lain Manimbong yang dibawakan laki-laki dan Ma’dandang oleh perempuan.


Tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dipertahankan masyarakat Toraja, termasuk mereka yang tinggal di tanah perantauan.


Tetua Toraja, Dr. Daniel Sau’, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Tamboan Tosika Mali, yang dimaknai sebagai pertemuan orang-orang yang saling merindukan atau temu kangen.

Tetua Toraja, Dr. Daniel Sau menyampaikan sambutan dalam kegiatan ibadah syukur dan pesta budaya Toraja di Malang.
Tetua Toraja, Dr. Daniel Sau menyampaikan sambutan dalam kegiatan ibadah syukur dan pesta budaya Toraja di Malang.(Foto: Div)

"Kegiatan ini dihadiri warga Toraja dari berbagai daerah. Ini merupakan bagian dari Tamboan Tosika Mali artinya pertemuan orang-orang yang saling merindukan atau temu kangen,” ujar Daniel kepada awak media AnalisaPost, Minggu(27/9/26).


Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh Toraja, salah satunya Drs. Jacobus Kamarlo Mayong Padang, atau yang akrab disapa Bung Kobu, mantan anggota DPR RI.


Selain prosesi adat dan ibadah syukur, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Ma’lelang atau lelang natura. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari berbagai kegiatan masyarakat Toraja, termasuk pernikahan, syukuran dan kegiatan sosial.


Dalam pelaksanaannya, setiap keluarga atau setiap sektor membawa berbagai barang untuk dilelang. Di tanah asal, barang yang dilelang dapat berupa daging babi atau kerbau. Sementara di tanah perantauan, barang yang dilelang disesuaikan dengan kondisi setempat, seperti pa’piong, kue tradisional, buah-buahan, hasil bumi, kopi Toraja hingga kerajinan tangan.


Ma’lelang bukan sekadar transaksi jual beli, tetapi juga menjadi sarana menghimpun dana dari keluarga, warga dan tamu yang hadir. Dana yang terkumpul dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan bersama, seperti pembangunan rumah ibadah, sekolah, fasilitas sosial, kas komunitas maupun pembangunan kampung.


Teknis pelaksanaan lelang biasanya diatur oleh panitia atau tokoh masyarakat setempat. Barang yang telah disiapkan keluarga kemudian ditawarkan kepada peserta, yang memberikan penawaran sebagai bentuk partisipasi dan gotong royong.

Sherly Bota berharap warga Toraja ikut menghadiri kegiatan ibadah syukur tahunan di Malang
Sherly Bota berharap warga Toraja ikut menghadiri kegiatan ibadah syukur tahunan di Malang.(Foto:Div)

Daniel mengatakan, semangat gotong royong juga terlihat dari makanan yang dibawa masing-masing keluarga atau sektor. Makanan tersebut tidak seluruhnya disiapkan oleh panitia.


"Masing-masing keluarga atau sektor itu bawa bekal sendiri-sendiri. Tidak disiapkan oleh panitia. Di situ gotong royongnya terlihat," ucap Daniel.


Sementara itu, Bung Kobu mengapresiasi kegiatan yang menggabungkan pengukuhan pengurus Tongkonan Surabaya atau ikatan keluarga Toraja di perantauan dengan pesta budaya dapat menjadi ruang untuk menjaga hubungan antarwarga Toraja.


"Ini menjadi kesempatan bagi masyarakat Toraja untuk bersilaturahmi sekaligus merefleksikan kebersamaan di tengah kesibukan masing-masing. Dengan adanya pengukuhan pengurus perkumpulan atau ikatan keluarga Toraja di perantauan Surabaya yang dikemas sebagai pesta budaya, tentu menjadi kesempatan yang sangat bagus selain sebagai ajang silaturahmi atau temu kangen bagi masyarakat Toraja,” tegasnya saat di konfirmasi kehadirannya oleh awak media AnalisaPost.


Setelah rangkaian ibadah, prosesi adat dan Ma’lelang, acara dilanjutkan dengan Ma’dero atau tari Dero. Para peserta membentuk lingkaran besar dan bergandengan tangan mengikuti irama musik dan lagu daerah.


Ma’dero menjadi bagian dari perayaan sukacita yang melibatkan peserta dari berbagai usia. Tarian tersebut melambangkan kerukunan, kesetaraan dan persaudaraan masyarakat Toraja.


Sementara itu, Sherly Bota, warga Toraja yang akrab disapa Leli, mengaku senang dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, inti kegiatan adalah ibadah pengucapan syukur atas berkat, kesehatan, pekerjaan dan penyertaan Tuhan sepanjang tahun yang telah dilewati.


"Inti acara merupakan ibadah pengucapan syukur atas berkat, kesehatan, pekerjaan dan penyertaan Tuhan sepanjang tahun yang telah dilewati," tuturnya.

Drs. Jacobus Kamarlo Mayong Padang (Baju hitam) berfoto bersama di sela kegiatan ibadah syukur dan pesta budaya.
Drs. Jacobus Kamarlo Mayong Padang (Baju hitam) berfoto bersama di sela kegiatan ibadah syukur dan pesta budaya. (Foto: Div)

Sherly berharap warga Toraja semakin aktif dalam berbagai kegiatan sehingga dapat membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat luas. Menurutnya, keterlibatan generasi muda juga penting agar budaya Toraja dapat terus diperkenalkan di Surabaya. Sehingga kepengurusan berikutnya dapat memberikan ruang lebih besar kepada anak-anak muda untuk terlibat dan memimpin kegiatan, sementara generasi senior tetap memberikan pendampingan.


Dengan menggabungkan ibadah syukur dan pesta budaya tersebut menjadi salah satu ruang bagi masyarakat Toraja di perantauan untuk mempertahankan tradisi, memperkenalkan budaya kepada generasi muda, serta menjaga hubungan kekeluargaan di tengah kehidupan masyarakat yang tersebar di berbagai daerah. (Dna)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya