top of page

Mahasiswa ITS Ciptakan Dua Alat untuk Bantu Lansia Bergerak Lebih Nyaman

SURABAYA - AnalisaPost | Tim mahasiswa dan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan dua inovasi teknologi kesehatan untuk membantu lansia yang mengalami keluhan lutut serta keterbatasan mobilitas.

Demonstrasi pemasangan dan pengoperasian AngetKnee, rancangan tim ITS, kepada salah satu peserta sosialisasi
Demonstrasi pemasangan dan pengoperasian AngetKnee, rancangan tim ITS, kepada salah satu peserta sosialisasi (Foto: Ist)

Kedua inovasi tersebut diberi nama AngetKnee dan Elevaid Chair, yang masing-masing dirancang untuk mendukung terapi lutut dan memudahkan proses transfer pasien.


AngetKnee merupakan perangkat wearable yang menggabungkan fungsi penyangga lutut, terapi panas (thermal therapy), dan terapi getaran (mechanical vibration). Integrasi tersebut dirancang sebagai pendekatan nonfarmakologis untuk membantu mengurangi nyeri dan kekakuan lutut pada penderita osteoarthritis.


Ketua tim pengembang, Maulana Yusuf Izzuddin, ST, MEng, mengatakan AngetKnee dikembangkan dengan menggabungkan sejumlah fungsi dalam perangkat yang ringkas dan mudah dibawa.


"Kami ingin menggabungkan fungsi penyangga, terapi panas, dan getaran dalam satu perangkat yang ringkas dan portabel," ujar Yusuf, Kamis (3/9/26)


Seluruh komponen AngetKnee, mulai dari heater pad, modul getar, sensor suhu, mikrokontroler, baterai hingga enclosure elektronik, dirancang dalam sistem nirkabel.


Dalam tahap pengujian, AngetKnee diuji menggunakan tiga variasi suhu heater, yakni 38°C, 42°C, dan 46°C, serta tiga tingkat intensitas getaran, yaitu level 1 hingga 3. Berdasarkan analisis Two-way ANOVA, kombinasi suhu 42°C dan intensitas getaran level 2 menghasilkan respons terbaik dari pengguna.


Sementara itu, Elevaid Chair dikembangkan untuk membantu proses pemindahan atau transfer pasien melalui mekanisme kursi yang dapat bergerak naik dan turun secara elektrik. Sistem tersebut memanfaatkan linear actuator yang dikendalikan menggunakan saklar DPDT sehingga ketinggian kursi dapat disesuaikan secara bertahap.


Menurut Yusuf, teknologi tersebut ditujukan untuk mengurangi beban fisik pendamping ketika membantu pasien berpindah posisi.


"Elevaid Chair dirancang untuk mengurangi kebutuhan mengangkat tubuh pasien secara manual saat proses transfer," kata dosen Departemen Teknik Mesin ITS tersebut.


Pengujian Elevaid Chair dilakukan dengan menggunakan variasi beban pasien 55, 70, dan 90 kilogram serta ketinggian transfer 45, 55, dan 65 sentimeter. Hasil pengujian menunjukkan bahwa berat pasien menjadi faktor dominan yang memengaruhi seluruh variabel respons.


Kelancaran proses transfer tercatat paling optimal pada beban sekitar 55 kilogram. Sementara itu, ketika beban mendekati 90 kilogram, kelancaran transfer menurun dan tingkat guncangan meningkat.

Hasil pengujian kedua perangkat tersebut menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan lebih lanjut. Tim berencana meningkatkan sistem kontrol suhu dan getaran pada AngetKnee.

Demonstrasi penggunaan Elevaid Chair untuk mendukung transfer pasien menjadi lebih mudah
Demonstrasi penggunaan Elevaid Chair untuk mendukung transfer pasien menjadi lebih mudah (Foto: Ist)

Adapun pada Elevaid Chair, penyempurnaan diarahkan pada kapasitas aktuator, kekuatan struktur, kestabilan, serta upaya mengurangi guncangan saat proses transfer.


"Hasil pengujian menjadi dasar kami untuk menyempurnakan alat agar semakin aman dan sesuai kebutuhan pengguna," ujar Yusuf.


Kedua inovasi tersebut juga telah diserahterimakan kepada Klinik Pratama Cita Husada dan perwakilan warga di Kecamatan Rungkut, Surabaya, melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat.


Penerapan teknologi dilakukan melalui sosialisasi, demonstrasi, pelatihan, praktik penggunaan, serta evaluasi terhadap performa dan penerimaan pengguna. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pemanfaatan teknologi dalam layanan kesehatan berbasis komunitas.


Pengembangan AngetKnee dan Elevaid Chair menjadi bagian dari upaya ITS menerapkan teknologi mekanik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Inovasi tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 mengenai Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta tujuan ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi kesehatan berbasis kebutuhan pengguna.(*)

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya