Hanya 3 Sayatan, Dokter RSAL Ramelan Sukses Tangani Aneurisma Pasien Cuci Darah
- analisapost

- 27 Apr
- 3 menit membaca
Diperbarui: 29 Apr
SURABAYA - analisapost.com | Tim bedah vaskular Rumah Sakit Angkatan Laut (Rumkital) dr. Ramelan berhasil melakukan operasi menggunakan metode NAS (banding aneurisma dan bypass brachio-brachialis) untuk menangani kelainan pembuluh darah pada pasien cuci darah.

Prosedur ini dinilai efektif memperbaiki aliran darah dengan pendekatan minimal invasif, ditandai hanya dengan tiga sayatan kecil pada akhir operasi.
Operasi dipimpin oleh Laksamana Pertama dr. I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara, Sp.B.,Sp.BTKV.,Subsp.VE (K)Ā bersama dr.Abdul Kadir dari PPDS BTKV RS dr. SoetomoĀ serta 5 tim bedah vaskular.
Metode NAS merupakan kombinasi teknik untuk menangani aneurisma pelebaran abnormal pembuluh darah yang kerap terjadi pada pasien hemodialisis.
"Teknik ini dilakukan dengan menutup bagian pembuluh darah yang bermasalah dan sekaligus membuat jalur baru, sehingga aliran darah tetap aman dan normal,ā ujar dr. Nalendra saat ditemui awak media AnalisaPost, Jumat (24/4/26).
Secara teknis, prosedur terdiri dari dua tahapan utama. Pertama, banding aneurisma, yakni tindakan mengikat atau memperkecil bagian pembuluh darah yang melebar untuk mengurangi tekanan dan mencegah risiko pecah.
Kedua, bypass brachio-brachialis, yaitu pembuatan jalur baru aliran darah dengan menghubungkan arteri brakialis yang sehat agar sirkulasi tetap lancar tanpa melewati bagian yang rusak.
Kasus ini bermula dari pasien bernama Fauzia (42), warga Lamongan, yang menjalani cuci darah akibat gangguan ginjal. Setelah beberapa bulan terapi, ia mengalami keluhan seperti tangan kanan kesemutan dan terasa dingin, kram pada kaki, nyeri kepala, hingga sulit tidur. Karena keterbatasan fasilitas di rumah sakit sebelumnya, pasien kemudian dirujuk ke RSAL Ramelan untuk penanganan lanjutan.
Menurut dr. Nalendra, kondisi tersebut merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi pasca pembuatan akses vaskular untuk hemodialisis, bukan akibat kesalahan tindakan medis.
āKami melakukan operasi menggunakan metode NAS (banding aneurisma dan bypass brachio-brachialis), tujuan operasi ini adalah mengatur aliran darah ke jantung dan kepala agar tidak berlebihan,ā jelasnya.
Sebelum operasi, tim medis melakukan persiapan dengan sterilisasi area tindakan serta penandaan lokasi pembuluh darah yang mengalami aneurisma. Selanjutnya dilakukan pembukaan terbatas pada beberapa titik kecil untuk mengakses pembuluh darah. Pada tahap ini, dokter melakukan banding aneurisma guna menstabilkan kondisi pembuluh.

Prosedur kemudian dilanjutkan dengan teknik bypass brachio-brachialis menggunakan graft atau saluran pengganti untuk mengalihkan aliran darah. Dengan metode ini, sirkulasi tetap terjaga tanpa melewati pembuluh yang mengalami kerusakan.
Dr. Nalendra menambahkan, metode ini relatif sederhana dan dapat diterapkan secara luas, termasuk dalam sistem pembiayaan BPJS.
"Kasus seperti ini sebenarnya cukup banyak. Dengan pendekatan yang tepat dan sederhana, penanganan dapat dilakukan dengan baik, termasuk dalam skema pembiayaan yang telah diatur,ā ucapnya.
Ia menyebut, metode ini dapat menjadi solusi bagi banyak kasus serupa yang selama ini belum tertangani secara optimal.
Nalendra menekankan pentingnya edukasi bagi tenaga medis terkait teknik ini. Menurutnya, metode NAS dapat dipelajari dengan cepat oleh dokter yang memiliki dasar bedah vaskular.
"Kami akan menyampaikan teknik ini melalui forum ilmiah agar dapat diterapkan lebih luas oleh dokter di Indonesia,ā terangnya.
Dari sisi manfaat, teknik kombinasi ini tidak hanya menjaga aliran darah tetap optimal, tetapi juga memberikan keuntungan berupa luka operasi yang lebih kecil sehingga mempercepat proses pemulihan pasien.
Hasil akhir menunjukkan luka operasi hanya berupa tiga sayatan kecil yang berfungsi sebagai akses utama selama tindakan berlangsung.
"Dengan metode ini, aliran darah menuju akses cuci darah (av shunt) terbagi, sehingga tekanan av shunt menurun dan aneurisma membaik, selain itu aliran darah ke lengan bawah bertambah sehingga keluhan kesemutan dan dingin pada lengan bawah menghilang,ā kata dr. Abdul Kadir.
Ia menambahkan, keseluruhan prosedur berlangsung sekitar dua jam dan membutuhkan ketelitian tinggi.
Dari sisi pasien, hasil operasi memberikan perubahan signifikan. Fauzia mengaku kondisi kesehatannya membaik setelah tindakan.
āSebelumnya saya sulit tidur, tangan dingin, sering pusing, dan dada sesak. Setelah operasi, saya sudah bisa tidur dan tidak merasakan nyeri kepala lagi,ā ceritanya sambil tersenyum.

Secara umum, pemilihan metode banding aneurisma dan bypass brachio-brachialis dinilai sebagai solusi efektif dalam menangani aneurisma pada ekstremitas atas, terutama pada pasien hemodialisis. Selain menjaga aliran darah tetap optimal, metode ini juga memberikan keuntungan berupa luka operasi yang lebih kecil dan potensi pemulihan yang lebih cepat.
Tim medis mengimbau masyarakat, khususnya pasien cuci darah, untuk segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami gejala seperti pembengkakan pembuluh darah, kesemutan, nyeri, atau perubahan suhu pada anggota tubuh. Penanganan dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Keberhasilan prosedur ini menjadi bukti bahwa inovasi dalam bedah vaskular terus berkembang, dengan pendekatan yang semakin spesifik, efektif, dan terukur demi meningkatkan keselamatan serta kualitas hidup pasien. Konsultasi medis yang tepat tetap menjadi kunci utama dalam menentukan metode terbaik demi keselamatan pasien dan keberhasilan terapi jangka panjang.(Che/Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar