Harga Cabai, Bensin hingga Emas Dorong Inflasi Jatim September Capai 3,33 Persen
SURABAYA- analisapost.com | Inflasi tahunan Jawa Timur pada September 2026 tercatat 3,33 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 2,53 persen. Kenaikan tersebut terjadi seiring meningkatnya harga pada seluruh kelompok pengeluaran.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 mencapai 112,53. Secara bulanan, Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,24 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun atau year to dateĀ (ytd) mencapai 2,07 persen.
Plt Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi secara tahunan pada September 2026.
"Kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan inflasi tahunan 4,68 persen dan andil 1,30 persen terhadap inflasi Jawa Timur," ujarnya, Jumat (2/10/26).
Sejumlah komoditas pangan menjadi sumber tekanan harga pada kelompok tersebut. Cabai rawit memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 0,21 persen. Berikutnya daging ayam ras sebesar 0,17 persen, daging sapi 0,14 persen, beras 0,13 persen dan minyak goreng 0,12 persen. Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah produk tembakau.
Tekanan inflasi berikutnya berasal dari kelompok transportasi yang mencatat inflasi tahunan 5,17 persen dengan andil 0,64 persen. Tarif angkutan udara dan harga bensin masing-masing memberikan andil 0,25 persen. Sementara sepeda motor menyumbang 0,05 persen dan mobil 0,03 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat tingkat inflasi tahunan tertinggi, yaitu 6,73 persen. Kelompok ini memberikan andil 0,48 persen terhadap inflasi Jawa Timur, dengan emas perhiasan menjadi salah satu komoditas utama yang mendorong kenaikan harga dan memberikan andil 0,37 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi. Komoditas tersebut antara lain bawang merah, telur ayam ras, kelapa dan cabai merah.
Jika dilihat dalam tiga tahun terakhir, inflasi tahunan Jawa Timur pada September menunjukkan tren peningkatan. Inflasi tercatat 1,73 persen pada September 2024, kemudian naik menjadi 2,53 persen pada September 2025 dan mencapai 3,33 persen pada September 2026.
Sumenep Catat Inflasi Tahunan Tertinggi
Berdasarkan wilayah penghitungan IHK, seluruh 11 kabupaten/kota di Jawa Timur mengalami inflasi tahunan pada September 2026.
Sumenep mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,85 persen dengan IHK 116,36. Berikutnya Kota Surabaya sebesar 3,68 persen dan Kota Madiun 3,66 persen.
Sementara itu, Banyuwangi mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 2,69 persen dengan IHK 112,85.
Daerah lainnya juga mencatat inflasi tahunan, yakni Kota Kediri sebesar 3,38 persen, Kabupaten Gresik 3,19 persen, Kota Malang 3,19 persen, Jember 3,04 persen, Kota Probolinggo 3,01 persen, Bojonegoro 2,91 persen dan Tulungagung 2,85 persen.
Untuk perkembangan harga secara bulanan, Kota Kediri mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,41 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi Jawa Timur yang mencapai 0,24 persen.
Pada September 2026, pergerakan inflasi bulanan Jawa Timur dipengaruhi sejumlah komoditas pangan dan jasa transportasi. Cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, beras, jeruk dan angkutan udara termasuk komoditas yang memberikan tekanan terhadap kenaikan harga.
Dengan perkembangan tersebut, dinamika inflasi Jawa Timur pada September 2026 tidak hanya ditentukan oleh kenaikan harga kebutuhan pangan. Perubahan harga transportasi, emas perhiasan dan sejumlah komoditas rumah tangga turut membentuk pergerakan harga konsumen sepanjang bulan tersebut.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com






Komentar