top of page

Ketua BEM UGM Kritik Program MBG dan Singgung Isu Pembungkaman Aktivis

SURABAYA - analisapost.com | Ketua BEM UGM, Tyo Adrianto, menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta isu pembungkaman terhadap aktivis dalam kegiatan Penguatan Jaringan dan Solidaritas yang digelar di Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC), Surabaya, Sabtu pagi (14/3/2026).

Ketua BEM UGM, Tyo Adrianto dalam forum diskusi yang digelar di Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC), Surabaya
Ketua BEM UGM, Tyo Adrianto dalam forum diskusi yang digelar di Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC), Surabaya (Foto: Div)

Dalam forum tersebut, Tyo menyampaikan pandangannya terkait kondisi kebijakan pemerintah saat ini. Ia menilai sejumlah program pemerintah, termasuk MBG, memunculkan berbagai persoalan yang perlu mendapat perhatian publik.


Dalam pemaparannya, Tyo menilai pelaksanaan program MBG berpotensi menjadi ruang penyalahgunaan anggaran apabila tidak diawasi secara ketat. Ia juga menyoroti sumber pendanaan program tersebut yang disebutnya berkaitan dengan sektor pendidikan.


"MBG merupakan maling berkedok gratis. Saya mengatakan demikian karena menurut saya ada potensi korupsi yang terorganisir dengan rapi. Apalagi program MBG itu mengambil dari dana pendidikan, sementara gaji guru tidak menentu dan kondisi sekolah di daerah masih banyak yang tidak layak,” ujar Tyo dalam diskusi tersebut.


Selain menyoroti kebijakan pemerintah, Tyo juga menyinggung situasi yang menurutnya berkaitan dengan pembungkaman terhadap aktivis. Ia menyebut kondisi tersebut tidak hanya dirasakan oleh kalangan aktivis, tetapi juga oleh sebagian media.


"Pembungkaman tidak hanya dialami aktivis, tetapi juga dirasakan oleh media. Langkah utama yang perlu dilakukan adalah membangun media alternatif agar masyarakat memiliki rujukan informasi di luar media arus utama,” katanya kepada awak media AnalisaPost saat di temui usai kegiatan.


Ia menambahkan bahwa media sosial saat ini telah menjadi salah satu sumber informasi bagi masyarakat. Namun, menurutnya, publik perlu bersikap kritis dalam menyaring informasi yang beredar di ruang digital.


"Media sosial harus dibaca secara kritis karena kadang ada penyusupan informasi yang secara halus membentuk pola pikir tertentu yang sering disebut framing. Hal ini perlu diwaspadai,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tyo juga menyinggung pentingnya peran generasi muda dalam menjaga masa depan bangsa. Ia menyatakan optimisme bahwa perubahan dapat lahir dari anak-anak muda yang memiliki kepedulian terhadap kondisi negara.


"Saya optimistis Indonesia yang baru akan lahir dari anak-anak muda yang peduli dan tidak rela negaranya hancur,” tuturnya.


Kegiatan diskusi tersebut dihadiri oleh mahasiswa dan sejumlah peserta yang membahas berbagai isu kebijakan publik serta peran masyarakat dalam kehidupan demokrasi. (Che)


Dapatkan berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari dan ikuti berita terbaru analisapost.com klik link ini jangan lupa di follow.

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya