Lomba Sampi Grumbungan Jadi Daya Tarik Lovina Festival 2026, Tradisi Buleleng Tetap Lestari
- analisapost

- 28 Jul
- 2 menit membaca
BULELENG - analisapost.com | lomba Sampi Grumbungan Jadi Daya Tarik Lovina Festival 2026, Tradisi Buleleng Tetap Lestari Lomba Sampi Grumbungan kembali menjadi salah satu atraksi budaya yang paling dinantikan dalam rangkaian Lovina Festival 2026.

Ajang yang menampilkan pasangan sapi Bali tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi pengunjung, tetapi juga dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Buleleng sebagai sarana memperkenalkan budaya lokal kepada wisatawan sekaligus memperkuat pelestarian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan Lomba Sampi Grumbungan merupakan salah satu atraksi budaya yang mampu meningkatkan daya tarik pariwisata daerah. Di sisi lain, kegiatan tersebut menjadi bentuk apresiasi kepada para peternak yang selama ini berperan menjaga kualitas sapi Bali lokal.
"Melalui Lomba Sampi Grumbungan ini kami ingin memberikan apresiasi kepada para peternak yang selama ini menjaga kualitas sapi Bali lokal sekaligus melestarikan tradisi yang menjadi ikon Kabupaten Buleleng, sekaligus menjadi daya tarik wisata," ujar Melandrat, Senin (27/7/26)
Menurut Melandrat, pada penyelenggaraan tahun ini lomba diikuti 16 akit atau pasangan sapi Bali yang berasal dari wilayah Buleleng Timur, Tengah, hingga Barat. Tingginya jumlah peserta menunjukkan bahwa tradisi Sampi Grumbungan masih mendapat tempat di tengah masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Buleleng berharap penyelenggaraan Lomba Sampi Grumbungan dapat semakin memperkuat sinergi antara pelestarian budaya, pengembangan sektor peternakan, dan promosi pariwisata daerah.
Di balik semarak perlombaan, semangat menjaga tradisi juga terus diwariskan kepada generasi muda. Salah satunya ditunjukkan oleh Kadek Agus Yuda Saputra (23), pemuda asal Desa Galungan yang meneruskan tradisi keluarganya sebagai pemelihara sapi gerumbungan.
Bersama Kelompok Tani Giri Lestari, Agus secara rutin melatih pasangan sapi jantan unggulan yang didatangkan dari Desa Bebetin untuk mengikuti berbagai perlombaan. Latihan dilakukan tiga kali dalam sepekan guna membangun kekompakan dan keserasian gerak kedua sapi.
Agus menjelaskan, perawatan sapi gerumbungan memiliki teknik khusus yang dikenal dengan istilah mepagrug. Melalui metode tersebut, sapi dijemur di bawah terik matahari sejak pagi hingga sekitar pukul 13.00-14.00 Wita sebelum kembali ke kandang untuk diberi makan. Cara ini dipercaya dapat membentuk karakter sapi agar lebih tenang dan tidak mudah agresif.
"Untuk sapi gerumbungan biasanya ada istilah Balinya mepagrug. Pagi sapinya dikeluarkan berjemur di bawah terik matahari sampai sekitar jam satu atau jam dua siang, baru kemudian masuk kandang untuk makan. Tujuannya supaya sapinya lebih penurut dan tidak galak," jelas Agus.
Selain menjalani latihan fisik secara rutin, sapi gerumbungan juga hanya diberi pakan berupa rumput alami untuk menjaga kesehatan sistem pencernaannya. Agus mengungkapkan, membentuk satu pasangan sapi gerumbungan lengkap dengan perlengkapannya, seperti lampit dan payasan, membutuhkan biaya sekitar Rp50 juta.
Pada Lomba Sampi Grumbungan Lovina Festival 2026, pasangan sapi asal Desa Menyali, Kecamatan Sawan, berhasil meraih juara pertama. Juara kedua diraih peserta dari Desa Panji, Kecamatan Sukasada, sedangkan juara ketiga diraih peserta asal Kecamatan Sawan. Sementara itu, juara harapan pertama berhasil diraih peserta dari Desa Bebetin.
Penghargaan kepada para pemenang diserahkan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Buleleng, Putu Ayu Reika Nurhaeni, yang hadir mewakili Bupati Buleleng.(Red)





Komentar