top of page

Mengenal Geisha, Seniman Tradisional Jepang yang Menjaga Warisan Budaya di Tengah Modernisasi

7 menit yang lalu
3 menit membaca

SURABAYA - analisapost.com| Geisha merupakan salah satu simbol seni dan kebudayaan tradisional Jepang yang masih bertahan hingga saat ini. Di tengah perkembangan industri hiburan modern, para geisha tetap mempertahankan berbagai kesenian klasik, mulai dari tari, musik, upacara minum teh hingga keterampilan berkomunikasi.

Geisha Seniman Tradisional Jepang yang Mendunia Dengan Dandanan Khasnya
Geisha Seniman Tradisional Jepang yang Mendunia Dengan Dandanan Khasnya (Foto: Naritha)

Secara etimologis, kata geisha berasal dari dua kata dalam bahasa Jepang, yakni "gei" yang berarti seni dan "sha" yang berarti orang. Dengan demikian, geisha secara harfiah dapat diartikan sebagai seniman.


Sejarah geisha bermula pada abad ke-17, tepatnya pada periode Edo (1603-1868). Pada awal kemunculannya, profesi ini justru dijalankan oleh laki-laki yang dikenal dengan sebutan "taikomochi" atau "hokan". Mereka bertugas menghibur para tamu melalui cerita, lelucon, dan berbagai permainan.


Memasuki pertengahan abad ke-18, perempuan mulai mengambil alih peran tersebut. Geisha perempuan kemudian berkembang pesat dan lebih diminati karena menguasai berbagai kesenian tradisional Jepang. Salah satu tokoh awal yang dikenal dalam sejarah perkembangan geisha perempuan adalah Kikuya, yang disebut sebagai pelopor pembentukan citra geisha seperti yang dikenal saat ini.


Geisha dan Keahlian Seni Tradisional Jepang

Geisha merupakan seniman profesional yang menjalani pendidikan khusus dalam berbagai bidang seni tradisional. Profesi ini kerap disalahartikan sebagai pekerja seks, terutama dalam pandangan masyarakat Barat. Padahal, geisha memiliki peran berbeda dan berfokus pada pertunjukan seni serta pelayanan hiburan budaya.


Beberapa keterampilan utama yang harus dikuasai geisha antara lain tarian tradisional Jepang atau buyō, musik menggunakan alat seperti shamisen, seruling, dan drum kecil, serta pelaksanaan upacara minum teh.


Selain kemampuan artistik, geisha juga dituntut memiliki keterampilan komunikasi. Mereka harus mampu membangun percakapan yang menarik, cerdas, dan sesuai dengan suasana serta karakter tamu yang dihadapi.


Dalam menjalankan profesinya, geisha tinggal atau bernaung di okiya, yakni rumah geisha. Mereka kemudian tampil di ochaya atau rumah teh untuk menghibur tamu, yang umumnya berasal dari kalangan pejabat, pengusaha, hingga bangsawan.


Pendidikan dan Tahapan Menjadi Geisha

Menjadi geisha membutuhkan proses pelatihan panjang yang menuntut kedisiplinan tinggi. Calon geisha yang berada pada tahap awal dikenal dengan sebutan shikomi. Mereka biasanya mulai menjalani pendidikan sekitar usia 15 tahun.


Setelah melewati tahap tersebut, calon geisha memasuki jenjang maiko, yaitu geisha magang. Pada fase ini, mereka mempelajari berbagai kesenian tradisional, tata krama, serta cara berinteraksi dengan tamu di bawah bimbingan geisha senior.

Penampilan maiko sudah sejak dulu menjadi salah satu keunikan di negeri sakura Jepang
Penampilan maiko sudah sejak dulu menjadi salah satu keunikan di negeri sakura Jepang (Foto: Naritha)

Penampilan maiko memiliki ciri khas tersendiri, antara lain kimono dengan warna dan motif lebih mencolok, riasan wajah putih tebal, serta tatanan rambut tradisional yang rumit.


Setelah menyelesaikan masa pelatihan selama beberapa tahun, seorang maiko dapat beralih menjadi geisha penuh. Perubahan status tersebut ditandai dengan upacara erikae, yang secara harfiah berarti pergantian kerah kimono.


Perjalanan Geisha Menghadapi Perubahan Zaman

Perkembangan Jepang setelah Restorasi Meiji pada 1868 membawa perubahan besar terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat, termasuk profesi geisha. Kehadiran berbagai bentuk hiburan modern, seperti bioskop dan musik populer, turut memengaruhi popularitas mereka.


Meski demikian, komunitas geisha tetap bertahan dengan menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman sekaligus menjaga kesenian tradisional yang menjadi identitas profesi tersebut.


Situasi semakin sulit ketika Perang Dunia II berlangsung. Banyak geisha menghentikan aktivitas karena keterbatasan sumber daya dan kebijakan pemerintah yang membatasi kegiatan hiburan.


Setelah perang berakhir, sebagian geisha kembali menjalankan profesinya. Namun, jumlah mereka mengalami penurunan drastis. Pada masa pascaperang, geisha juga menghadapi persoalan lain berupa kesalahpahaman mengenai profesi mereka di dunia Barat.


Salah satu karya yang turut memengaruhi persepsi masyarakat internasional adalah novel Memoirs of a Geisha karya Arthur Golden. Kisah dalam novel tersebut menjadi salah satu faktor yang membentuk pandangan publik terhadap kehidupan geisha.


Saat ini, jumlah geisha memang jauh berkurang dibandingkan masa kejayaannya. Kendati demikian, komunitas mereka masih dapat ditemukan di sejumlah distrik tradisional Jepang, seperti Gion di Kyoto, Asakusa di Tokyo, dan Kanazawa.


Meluruskan Stereotip tentang Geisha

Salah satu anggapan keliru yang masih melekat hingga sekarang adalah menyamakan geisha dengan pelacur. Kesalahpahaman tersebut antara lain muncul akibat tercampurnya pemahaman mengenai geisha dengan oiran, yakni perempuan yang berprofesi sebagai pelacur kelas atas pada zaman Edo.


Keduanya memang memiliki kemiripan dalam penggunaan busana dan riasan yang mencolok. Namun, secara profesi dan peran, geisha dan oiran merupakan dua kelompok yang berbeda. Geisha berfokus pada penguasaan seni tradisional dan keterampilan menghibur tamu, sedangkan oiran dikenal sebagai pekerja seks kelas atas pada masa tersebut.


Upaya Pelestarian Geisha di Era Modern

Di tengah perubahan gaya hidup dan perkembangan industri hiburan, keberadaan geisha masih menjadi bagian penting dari warisan budaya Jepang. Berbagai upaya pelestarian terus dilakukan agar tradisi tersebut dapat dikenal dan diteruskan kepada generasi berikutnya.


Upaya tersebut mencakup promosi pariwisata di distrik-distrik geisha, penyelenggaraan program pelatihan bagi generasi muda, serta pemanfaatan teknologi modern, termasuk media sosial, untuk memperkenalkan kesenian geisha kepada masyarakat internasional.


Keberadaan geisha menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan melalui proses adaptasi tanpa sepenuhnya meninggalkan akar budayanya. Di tengah perubahan zaman, mereka tetap menjadi bagian dari identitas seni Jepang sekaligus pengingat pentingnya menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan perkembangan modernisasi.(Dwi)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya