Wamenag Jenguk Tujuh Santri Manbaul Hikam, Minta Dugaan Keracunan MBG Diinvestigasi
- analisapost

- 3 hari yang lalu
- 4 menit membaca
SIDOARJO - AnalisaPost | Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H. R. Muhammad Syafi'i menjenguk tujuh santri Pesantren Manbaul Hikam yang menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur. Ketujuh santri tersebut dirawat setelah mengalami keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam kunjungannya, Wamenag didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama RI Basnang Said.
Wamenag memberikan santunan kepada masing-masing santri. Ia juga menyampaikan dukungan serta doa agar para santri segera pulih dan dapat kembali beraktivitas.
Setelah mengunjungi para santri, rombongan Wamenag melanjutkan kunjungan ke Pesantren Manbaul Hikam. Kedatangan mereka diterima Ketua Yayasan Manbaul Hikam, KH Abdul Wachid Harun. Pada kesempatan itu, Wamenag menyampaikan perhatian dan dukungan Kementerian Agama kepada pihak pesantren serta para santri yang terdampak kejadian tersebut.
Menurut Wamenag, program MBG tetap dibutuhkan oleh pesantren dan madrasah. Karena itu, kejadian di Manbaul Hikam dinilai perlu menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui penyebab secara pasti, bukan dijadikan alasan untuk menghentikan program tersebut.
"Dari kunjungan ke santri tadi, mereka menunggu dan sangat membutuhkan MBG. Program ini sudah berjalan beberapa bulan dari SPPG yang sama dan tidak ada persoalan. Baru kali ini terjadi masalah. Karena itu, harus ada investigasi untuk mengetahui penyebabnya," ujar Wamenag.
Ia mengatakan, berdasarkan informasi awal yang diterima, keluhan santri terutama berkaitan dengan menu telur dan sayuran. Namun, Wamenag menegaskan informasi tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab kejadian.
Pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah persoalan tersebut berkaitan dengan proses pengolahan makanan atau waktu konsumsi yang tidak sesuai dengan ketentuan petunjuk teknis (juknis).
"Yang perlu kita pastikan adalah penyebabnya apa. Apakah proses memasaknya atau jadwal makannya yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam juknis. Ini yang perlu kita selesaikan," jelasnya.
Wamenag menegaskan proses investigasi tidak berkaitan dengan perlu atau tidaknya keberlanjutan program MBG. Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk memastikan kualitas, keamanan, serta standar pengolahan makanan tetap terpenuhi bagi para penerima manfaat.
"Bukan investigasi yang masuk ke wilayah perlu atau tidaknya MBG, tetapi kita ingin mengetahui ada apa. Apalagi dari dapur yang sama, untuk anak-anak yang sama, setelah berjalan sekian bulan, baru terjadi hari ini. Tentu harus ada investigasi," tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa para santri pada dasarnya tetap antusias terhadap program MBG. Berdasarkan keterangan yang diperolehnya saat kunjungan, para santri justru menunggu makanan yang disediakan melalui program tersebut.
"Artinya, MBG-nya, semuanya mengatakan mereka sangat senang dan menunggu datangnya makanan dari MBG," ungkapnya.
Selain membahas kejadian di Manbaul Hikam, Wamenag mengatakan Kementerian Agama terus mendorong perluasan program MBG agar dapat menjangkau lebih banyak pesantren dan madrasah.
Koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terus dilakukan, termasuk untuk menjangkau lembaga pendidikan yang berada di wilayah terpencil.
"Kita sedang ngebut agar tidak ada lagi pesantren yang tidak mendapat jatah MBG, termasuk madrasah. Kita terus berkomunikasi dengan kepala BGN yang baru. Kita berharap tahun ini tidak ada lagi madrasah dan pesantren yang tidak mendapat manfaat makan gratis dari MBG," katanya.
Berdasarkan data yang disampaikan Wamenag, sebanyak 42 persen pesantren sasaran saat ini telah memperoleh manfaat program MBG. Cakupan tersebut akan terus ditingkatkan agar program dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
Wamenag juga menjelaskan adanya kebijakan yang memungkinkan pesantren dengan jumlah santri sekitar 1.000 orang mengelola dapur MBG secara mandiri.
Menurutnya, pesantren tidak harus membangun dapur baru dengan model Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dapur yang sudah tersedia dapat dioptimalkan dengan memenuhi standar higienitas yang ditetapkan.
"Dapur yang ada di-update. Yang perlu ditambah adalah higienisnya, tentang pencucian, penyimpanan, dan pembuangan limbahnya. Kalau itu bisa dipenuhi, pesantren yang santrinya mendekati atau sekitar 1.000 sudah bisa membuat dapur sendiri, tidak perlu harus mendapat asupan dari dapur yang ada di luar pesantren," jelasnya.
Kronologi Dugaan Keracunan
Ketua Yayasan Manbaul Hikam, KH Abdul Wachid Harun, mengatakan pesantrennya telah menerima program MBG selama sekitar tiga bulan.
Selama periode tersebut, makanan biasanya dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan dibagikan kepada para santri sekitar pukul 12.00 WIB. Jadwal itu menyesuaikan kegiatan pendidikan madrasah yang dimulai pukul 13.00 WIB.
Pada Selasa (1/9), sebanyak 1.010 porsi MBG dari SPPG Kalitengah dikirim ke Pesantren Manbaul Hikam untuk dikonsumsi siswa-siswi MA dan MTs.
Menu yang diterima pada hari tersebut terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.
Para santri kemudian menyantap makanan tersebut secara bersama-sama. Beberapa jam setelah makan siang, sekitar pukul 16.00 WIB, sejumlah santri mulai mengalami berbagai keluhan kesehatan.
Keluhan yang dilaporkan antara lain pusing, mual, muntah, diare, hingga sesak napas.
Pengurus pesantren kemudian membawa santri yang mengalami keluhan ke bidan terdekat di Desa Putat untuk memperoleh penanganan awal. Sekitar pukul 16.30 WIB, jumlah santri yang mengalami mual dan muntah terus bertambah hingga mencapai puluhan orang.
Menjelang Magrib, karena jumlah santri yang membutuhkan penanganan semakin banyak, pengurus pesantren menghubungi layanan ambulans untuk melakukan evakuasi ke fasilitas kesehatan. Secara keseluruhan, terdapat sembilan rumah sakit yang menjadi tujuan penanganan para santri.
Keluhan kesehatan juga muncul secara bertahap. Sebagian santri mengalami keluhan pada malam hari, sementara kasus lainnya kembali ditemukan pada Rabu pagi hingga siang. Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut.
Kementerian Agama memastikan akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memperoleh informasi dan hasil pemeriksaan secara menyeluruh mengenai penyebab munculnya keluhan kesehatan pada para santri.
Selain memberikan santunan kepada para santri yang menjalani perawatan, Kementerian Agama juga menyerahkan bantuan kepada pihak pesantren sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap proses pemulihan para santri yang terdampak.(*)





Komentar