Peselancar Berkebaya Warnai Pantai Kuta, Usung Semangat Hari Kartini dan Inklusi
- analisapost

- 21 Apr
- 4 menit membaca
Diperbarui: 21 Apr
BADUNG - analisapost.com | Pantai Kuta, Bali, Minggu (19/4/2026), menghadirkan pemandangan tak biasa. Puluhan perempuan berselancar mengenakan kebaya dalam ajang Kartini Go Surf 2026 untuk memperingati Hari Kartini. Kegiatan ini tidak hanya menonjolkan olahraga selancar, tetapi juga menjadi simbol emansipasi, keberanian, serta inklusi perempuan di ruang publik.

Acara dibuka oleh I Nyoman Graha Wicaksana selaku Ketua Persatuan Surfing dan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Provinsi Bali. Pembukaan dilakukan secara simbolis melalui pengguntingan pita yang didampingi para peserta.
Sebanyak 20 peserta ambil bagian dalam kegiatan tersebut, termasuk enam peselancar penyandang disabilitas tunarungu dari Team Corti Deaf Surfers. Mereka tampil percaya diri menaklukkan ombak dengan kebaya berwarna cerah seperti putih, kuning, merah muda, dan biru muda, dipadukan dengan kamben yang dililit rapi.
Rambut para peserta disanggul sederhana, sebagian dihiasi bunga kamboja segar. Di tangan mereka, papan selancar berjejer, menciptakan kontras antara busana tradisional dan aktivitas olahraga ekstrem.
Meski mengenakan kebaya, para peserta tetap mampu bergerak lincah dan menjaga keseimbangan di atas papan selancar. Busana yang dikenakan tidak menghambat gerak, justru menghadirkan daya tarik visual yang memadukan tradisi Bali dengan dinamika laut.
Aksi tersebut menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara yang memadati Pantai Kuta. Sejumlah pengunjung tampak berhenti untuk menyaksikan dan mengabadikan momen. Beberapa di antaranya memberikan tepuk tangan, terpukau oleh keberanian serta penampilan para peserta yang tetap anggun saat menaklukkan ombak.
Dari pantauan tim awak media AnalisaPost, para gadis itu tersenyum lebar, menikmati kebebasan, menjaga identitas dan merayakan budaya mereka dengan cara yang tak biasa.
Ketua PSOI Bali, I Nyoman Graha Wicaksana, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai Kartini Go Surf menjadi ruang positif bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi sekaligus menjauhkan dari pengaruh negatif.
"Secara prinsip kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Selain memperkenalkan olahraga surfing, kegiatan ini juga dapat menjadi wadah peningkatan prestasi generasi muda,” ujarnya.
Ia juga menilai keterlibatan penyandang disabilitas sebagai langkah maju dalam mendorong inklusi. Menurutnya, kegiatan ini berpotensi melahirkan peselancar perempuan Bali dengan identitas budaya lokal yang kuat.

Founder Kartini Go Surf, Bagus Made Wirawan yang akrab disapa Piping, menjelaskan bahwa konsep berselancar dengan kebaya bertajuk "Kartini Go Surf 2026" yang digelar di Pantai Kuta Bali, bertujuan menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya Indonesia.
"Kegiatan ini sudah digelar di Pantai Kuta sejak tahun 2010 setiap perayaan Hari Kartini. Ini bentuk penghormatan kepada perempuan, khususnya peran ibu dalam kehidupan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan serupa juga pernah digelar di Pantai Merah Banyuwangi, Jembrana. Menurutnya, penggunaan kebaya menjadi pembeda sekaligus identitas.
"Jika berselancar dengan bikini itu sudah umum. Sebagai bangsa Indonesia, kita perlu menunjukkan kebanggaan terhadap Kartini melalui identitas budaya,” terangnya.
Piping menyebut, penyelenggaraan tahun 2026 merupakan edisi ke-12 setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Kegiatan ini tidak bersifat kompetisi dan terbuka bagi seluruh perempuan.
"Kegiatan ini bukan untuk profesional. Siapa pun bisa ikut selama mampu berdiri di atas papan selancar,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan kebaya justru menjadi tantangan yang menarik. “Jika tidak mencoba sesuatu yang dianggap sulit, maka hal tersebut tidak akan pernah terjadi,” tegasnya.
Ketua Yayasan Corti Bali, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari, menyatakan keterlibatan tim tunarungu merupakan bagian dari komitmen inklusi.
"Ini merupakan kali ketiga tim Corti berpartisipasi. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dan terus berlatih,” jelasnya kepada tim AnalisaPost saat di temui usai kegiatan.
Menurutnya, selancar membantu meningkatkan fokus bagi penyandang tunarungu. “Saat berada di air, mereka seperti dalam kondisi meditasi sehingga dapat lebih fokus tanpa gangguan,” katanya.
Salah satu peserta, Sang Ayu Putu Anastyasta Mega Dewi, mengaku mulai menekuni selancar sejak pandemi Covid-19.
"Saya sebelumnya atlet renang, namun saat kolam ditutup, saya mencoba surfing dan terus berlanjut hingga sekarang,” ujarnya.
Ia menuturkan, pengalaman berselancar menggunakan kebaya memberikan tantangan. Gadis 19 tahun ini mengaku, walau lahir dari keluarga surfer, berada dalam komunitas surfing, namun tampil dengan kebaya cantik dan lengkap ini menimbulkan sensasi sekaligus kebanggaan tersendiri.
"Awalnya saya tampil menggunakan kebaya tahun 2022 terasa sulit, namun dengan latihan menjadi lebih terbiasa. Rasa takut tetap ada, tetapi dapat diatasi jika dijalani dengan santai,” ceritanya.

Gadis cantik yang baru lulus dari SMA Negeri Kuta ini bisa berdiri dengan seimbang di atas papan surfing dan mampu berlekak-lekuk di atas ombak. Mega Dewi juga menilai semangat Hari Kartini menjadi inspirasi bagi perempuan dalam menghadapi tantangan.
"RA Kartini mengajarkan perempuan untuk kuat. Hal itu serupa dengan menghadapi ombak di laut. Jadi jangan pernah takut tetap semangat, bangun Indonesia dan Bali tanpa pamrih. Dan juga penting, wanita itu tetap cantik walau terkena sinar matahari, sebab kecantikan itu lahir dari dalam,” tuturnya.
Kartini Go Surf 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga memperkuat pesan tentang kesetaraan, keberanian, serta pelestarian identitas lokal dalam ruang olahraga dan pariwisata. (Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar