Dari Wayang hingga Isu Sosial, Mahasiswa UK Petra Hadirkan Wajah Baru Kreativitas Indonesia
- analisapost

- 11 menit yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - AnalisaPost | Upaya menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Indonesia melalui pendekatan visual yang adaptif terhadap perkembangan zaman menjadi salah satu semangat dalam pameran karya tugas akhir mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) dan International Program in Digital Media (IPDM) Universitas Kristen (UK) Petra.

Semangat tersebut hadir dalam ADIWARNA 2026 yang mengusung tema SERAYA. Pameran ini menjadi ruang selebrasi sekaligus sarana edukasi kreatif bagi mahasiswa, dengan menampilkan karya yang memadukan estetika modern dan nilai-nilai lokal.
Tak hanya memamerkan hasil karya, Adiwarna 2026 juga menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa dalam bertumbuh dan menjalani proses kreatif selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Adiwarna 2026 digelar pada 20-22 Agustus 2026 di Basement Alun-Alun Kota Surabaya. Pameran berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB.
Dari sebanyak 183 karya mahasiswa DKV-IPDM UK Petra angkatan 2022, sebanyak 40 karya terpilih untuk dipamerkan selama tiga hari. Karya-karya tersebut merupakan hasil seleksi dari berbagai kategori yang tersedia.
“Seluruh karya yang dipamerkan merupakan karya terbaik dari setiap kategori yang ada,” ungkap Anang Tri Wahyudi, S.Sn., M.Sn., selaku Dosen Pembimbing.
Karya yang dipamerkan terbagi dalam empat kategori, yakni Visual Studies, Brand Communication, Digital Media, dan Graphic Design. Masing-masing karya membawa gagasan dan pendekatan yang berbeda, mulai dari pelestarian budaya hingga isu sosial yang dikemas melalui media visual yang dekat dengan generasi muda.

Salah satu karya dalam kategori Graphic Design dibuat oleh Christopher Agung. Mahasiswa DKV tersebut mengangkat karakter wayang Pandawa ke dalam bentuk art toys dan blind box melalui karya tugas akhir berjudul “Perancangan Art Toys Bertema Blind Box untuk Mengenalkan Karakter Wayang Pandawa kepada Generasi Alpha”.
Karya tersebut diberi nama Pan5 dan terdiri atas lima karakter, yakni Puni yang merepresentasikan Puntadewa, Bim Bim sebagai Bimasena, Aru sebagai Arjuna, Kuku sebagai Nakula, serta Dede sebagai Sadewa.
“Pan5 hadir untuk mengingatkan dan mengajarkan moral baik dalam budaya Indonesia. Salah satunya melalui karakter-karakter di wayang Pandawa yang kini mulai dilupakan, khususnya oleh Gen Alpha, di tengah gempuran internet dan globalisasi masa kini,” jelas Christopher.
Menurutnya, karakter dalam Pan5 dirancang dengan tampilan yang menarik dan imut, namun tetap mempertahankan unsur edukasi. Elemen busana, filosofi warna, hingga ukuran karakter disesuaikan untuk merefleksikan karakter masing-masing tokoh Pandawa.
"Elemen busana yang dikenakan, filosofi warna, dan ukuran karakter yang dibuat bertujuan untuk merefleksikan setiap karakter," lanjutnya.
Karya lain yang mengangkat persoalan sosial hadir melalui tugas akhir Shannon Faustine Wijaya berjudul “Perancangan Media Edukatif untuk Membantu Mengelola Duka Kehilangan Orang Tersayang secara Sehat bagi Remaja Indonesia”.
Shannon mengemas gagasan tersebut dalam bentuk buku berjudul The Dear Friend in Me. Buku ini dirancang sebagai media edukatif yang membantu remaja mengenali, menerima, dan mengelola duka akibat kehilangan orang yang mereka sayangi.
"Buku ini berangkat dari fenomena banyaknya remaja yang kehilangan orang tersayang, namun tumbuh tanpa memahami cara memproses duka tersebut," ungkap Shannon.
Ia menjelaskan, buku tersebut menggunakan pendekatan bibliotherapy melalui narasi personal dan guided journaling. Pendekatan tersebut digunakan untuk menjadikan buku sebagai teman perjalanan atau grief companion bagi remaja dalam menghadapi proses berduka.
"Dengan menggabungkan pendekatan bibliotherapy melalui narasi personal dan guided journaling, buku edukatif ini dirancang sebagai kawan perjalanan (grief companion) agar remaja tidak merasa sendirian," ujarnya.
Shannon berharap karya tersebut dapat membantu meningkatkan pemahaman remaja mengenai proses berduka, termasuk dalam menerima, mengekspresikan, dan meregulasi emosi secara lebih sehat.

Sementara itu, Ketua Panitia Adiwarna 2026, Gloria Tantadiputra, mengatakan tema SERAYA menjadi gambaran semangat untuk tumbuh dan melangkah bersama.
"Sesuai tema, yakni SERAYA, kami berharap Adiwarna bisa menjadi tempat untuk saling merayakan dan mengapresiasi setiap karya kreatif yang dilahirkan oleh anak muda bangsa," ujar Gloria.
Menurutnya, Adiwarna juga menjadi wujud keberanian mahasiswa untuk terus bergerak maju sekaligus membuka langkah menuju tahapan baru setelah menyelesaikan pendidikan.
"Sekaligus menjadi wujud keberanian untuk terus bergerak maju, dan sebagai gerbang untuk masuk ke bab berikutnya dengan penuh harapan dan keyakinan," lanjutnya.
Selain pameran karya, Adiwarna 2026 juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung berupa talkshow dan workshop. Kegiatan tersebut ditujukan bagi mahasiswa maupun siswa SMA yang ingin memperluas wawasan dan pemahaman di bidang kreatif.
Masyarakat juga dapat melihat lebih dari 160 karya mahasiswa melalui laman adiwarna.petra.ac.id.
Melalui Adiwarna 2026, DKV dan IPDM UK Petra memperlihatkan upaya mahasiswa dalam mengembangkan gagasan kreatif dengan memadukan budaya, isu sosial, dan perkembangan media modern. Pameran tersebut sekaligus menjadi ruang bagi karya mahasiswa untuk memperkenalkan perspektif generasi muda terhadap perkembangan industri kreatif Indonesia.





Komentar