top of page

Megawati Serukan Peradaban Dunia Berbasis Hati Nurani

Diperbarui: 22 Jul

BADUNG - analisapost.com | Gubernur Bali Wayan Koster membacakan sambutan Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri, pada pembukaan The 3rd World Civilizations Harmony Forum di Hotel Renaissance Bali Uluwatu, Badung, Senin (29/6).


Gubernur Bali Wayan Koster menyambut Mahfud MD saat menghadiri pembukaan The 3rd World Civilizations Harmony Forum di Hotel Renaissance Bali Uluwatu, Badung, Senin (29/6)
Gubernur Bali Wayan Koster menyambut Mahfud MD saat menghadiri pembukaan The 3rd World Civilizations Harmony Forum di Hotel Renaissance Bali Uluwatu, Badung, Senin (29/6) (Foto: Ist)

Tujuan Forum Internasional

Forum internasional tersebut mempertemukan tokoh lintas negara, agama, budaya, dan akademisi. Mereka berkumpul untuk membahas masa depan peradaban dunia yang damai, adil, dan berkelanjutan.


Dalam sambutan yang dibacakan Wayan Koster, Megawati menegaskan bahwa Bali menjadi contoh nyata harmoni antara alam, spiritualitas, budaya, dan masyarakat. Hal ini mencerminkan wajah peradaban Indonesia di mata dunia.


Filosofi Tri Hita Karana

"Bali adalah cerminan harmoni antara alam, spiritualitas, budaya, dan keramahan masyarakat. Filosofi Tri Hita Karana yang hidup di tengah masyarakat Bali mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Nilai ini sangat relevan dengan tema forum," ujarnya.


Tantangan Global

Megawati juga menyoroti berbagai tantangan global yang saat ini dihadapi dunia. Tantangan tersebut meliputi persaingan hegemoni, konflik bersenjata, ketidakadilan, serta dominasi ekonomi, teknologi, dan informasi. Semua hal ini dinilai berpotensi mengancam nilai-nilai kemanusiaan.


Lima Agenda Penting


Berangkat dari pengalaman Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, Megawati mengusulkan lima agenda penting untuk menjaga keberlanjutan peradaban dunia. Kelima agenda tersebut meliputi:

  1. Pembangunan regulasi global yang berkeadilan.

  2. Penguatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

  3. Reformasi sistem keuangan global.

  4. Pengembangan kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

  5. Penguatan sistem kebudayaan melalui pendidikan, kesehatan, dan pelestarian identitas budaya setiap bangsa.


Pesan Proklamator

Menutup sambutannya, Megawati mengutip pesan Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno. "Internasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berakar dalam bumi nasionalisme," demikian kutipan Bung Karno yang disampaikan Megawati.


Ia menegaskan bahwa kecintaan terhadap tanah air harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab membangun dunia yang lebih baik. Hal ini harus berlandaskan kesetaraan, kemanusiaan, keadilan, dan kemakmuran bersama.


Peran Generasi Muda

Megawati juga mengajak generasi muda di seluruh dunia untuk menjadi pembangun jembatan persaudaraan. Ini penting untuk terwujudnya peradaban dunia yang harmonis, bukan tembok pemisah.


Sementara itu, Ketua Yayasan Prajna Harmonis, Kasino, mengatakan bahwa forum tersebut diselenggarakan di tengah situasi dunia yang masih diwarnai berbagai konflik.


Mencari Jalan Menuju Perdamaian

Meski cita-cita mewujudkan perdamaian dunia terasa semakin jauh, para peserta memilih berkumpul untuk bersama-sama mencari jalan menuju masa depan umat manusia yang lebih baik.


"Meskipun cita-cita menciptakan harmoni dan perdamaian dunia terasa semakin jauh akibat berbagai konflik global, kita tetap memilih berkumpul untuk bersama-sama memikirkan masa depan umat manusia," ujar Kasino.


Menghormati Keberagaman

Menurutnya, forum ini bertujuan untuk menghormati keberagaman berbagai peradaban. Selain itu, forum ini juga berusaha menemukan nilai-nilai universal yang mampu menyatukan seluruh umat manusia.


"Hati nurani merupakan dasar martabat dan nilai setiap manusia tanpa memandang kebangsaan, suku, agama, budaya, maupun ideologi," katanya.


Nilai-Nilai Universal

Kasino mengutip pandangan sejarawan dunia, Profesor Wang Gungwu. Ia menyebut budaya sebagai identitas khas yang tumbuh dari kehidupan bersama suatu masyarakat. Budaya bersifat lokal dan beragam. Namun, di balik keberagaman tersebut terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.


Atas dasar itu, forum mengusung tema "Harmony in Diversity, Human Fraternity". Tema ini dinilai sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tema tersebut juga memiliki kesamaan dengan berbagai ajaran agama dan peradaban dunia. Misalnya, Vasudhaiva Kutumbakam dalam ajaran Hindu, Ukhuwah Insaniyah dalam Islam, Tianxia Yijia dalam Konfusianisme, serta konsep persaudaraan universal dalam tradisi Buddha dan Kristen.


Hukum Harmoni

Kasino juga mengingatkan kembali pesan Megawati Soekarnoputri pada The 2nd World Civilizations Harmony Forum. Ia menyatakan bahwa dunia yang setara dan bermartabat tidak boleh dipimpin oleh "hukum rimba", melainkan oleh "hukum hati nurani".


"Teori benturan peradaban lahir dari sejarah panjang persaingan dan dominasi antarmanusia. Padahal, hukum yang sesungguhnya bekerja di alam semesta adalah hukum harmoni yang menjaga keseimbangan, keterhubungan, dan kerja sama," ujarnya.


Harapan untuk Masa Depan

Ia berharap forum tersebut dapat menjadi ruang bagi para peserta untuk menyumbangkan gagasan, kebijaksanaan, dan suara hati. Semua ini penting dalam membangun peradaban dunia yang lebih damai, adil, serta bermartabat.


Turut hadir dalam pembukaan forum tersebut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia periode 2019–2024, Mahfud MD, bersama sejumlah tokoh nasional dan internasional dari berbagai negara. (Utm)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya