top of page

Dubes Australia Perkuat Kemitraan Pendidikan dan Budaya dengan Indonesia di Jawa Timur

SURABAYA - AnalisaPost | Hubungan bilateral Australia dan Indonesia terus diperkuat melalui kerja sama di bidang pendidikan, pertukaran budaya, serta hubungan antarmasyarakat. Penguatan hubungan tersebut menjadi bagian dari kunjungan kerja Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, ke Jawa Timur, Rabu (19/8/26).

Konsul Jenderal Australia di Surabaya Glen Askew (Kiri), Provost Western Sydney University Professor Deborah Sweeney (Tengah) dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier (Kanan) saat menghadiri Western Sydney University
Konsul Jenderal Australia di Surabaya Glen Askew (Kiri), Provost Western Sydney University Professor Deborah Sweeney (Tengah) dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier (Kanan) saat menghadiri Western Sydney University (Foto: Div)

Dalam kunjungannya, Brazier mengunjungi Western Sydney University (WSU) di Surabaya dan juga melakukan ziarah ke makam Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang.


Didampingi Konsul Jenderal Australia di Surabaya Glen Askew, Brazier menyambut baik pelaksanaan hari orientasi mahasiswa WSU Surabaya. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kemitraan pendidikan antara Australia dan Indonesia, khususnya di Jawa Timur.


"Ini menjadi bagian yang sangat penting dari kunjungan saya ke Jawa Timur selama beberapa hari terakhir," ujar Brazier.


Kegiatan orientasi tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak dan Provost Western Sydney University Professor Deborah Sweeney.


Emil mengatakan keberadaan WSU di Surabaya menunjukkan adanya kolaborasi pendidikan antara Australia dan Indonesia. Kerja sama tersebut antara lain diwujudkan melalui kolaborasi dosen serta kehadiran mahasiswa dari berbagai negara yang menempuh pendidikan di Surabaya.


"Ini yang memang kami harapkan. Ada kolaborasi dosen dari Australia dengan di Indonesia. Ada juga beberapa dari luar negeri yang menempuh studi di sini (WSU)," ungkap Emil.


Menurut Emil, program tersebut turut menjadikan Surabaya dan Jawa Timur semakin terbuka dan internasional dalam sektor pendidikan. Mahasiswa mendapatkan akses pendidikan berstandar internasional di pusat Kota Surabaya, sekaligus memiliki peluang untuk melanjutkan studi ke Australia.


Program pendidikan di WSU Surabaya memberikan pilihan masa studi mulai dari satu semester hingga dua tahun di Surabaya, dengan peluang melanjutkan pendidikan ke Australia.


Selain pendidikan formal, Brazier menilai aspek budaya dan hubungan antarmasyarakat memiliki peran penting dalam memperkokoh kemitraan Australia dan Indonesia.


Hal tersebut tercermin dalam agenda kunjungannya ke Jombang. Brazier melakukan ziarah ke makam Gus Dur di Tebuireng dengan didampingi Yenny Wahid.


Brazier mengenang Gus Dur sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam mendorong keharmonisan antarumat beragama. Ia mengaku telah mengenal Gus Dur sejak 1992 ketika melakukan riset sebagai mahasiswa di Jakarta.


"Saya telah mengenal Gus Dur sejak 1992, yakni saat melakukan riset sebagai mahasiswa di Jakarta," kenangnya.


Menurut Brazier, hubungan antarmasyarakat merupakan salah satu fondasi utama hubungan Australia dan Indonesia. Karena itu, pertukaran wawasan dan kerja sama dengan berbagai komunitas dinilai penting untuk memperkuat hubungan kedua negara.


"Saya terinspirasi oleh diskusi dan pertukaran wawasan dengan para pemimpin dan alumni NU maupun Muhammadiyah, khususnya mengenai upaya mempromosikan toleransi, memberdayakan generasi muda, dan memperkuat peran komunitas dalam memperdalam hubungan bilateral," tambahnya.


Sementara itu, Professor Deborah Sweeney mengapresiasi kehadiran WSU di Surabaya. Menurutnya, keberadaan kampus tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan Australia dan Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak bersama Provost Western Sydney University Professor Deborah Sweeney saat memberikan keterangan kepada awak media dalam kegiatan orientasi mahasiswa WSU di Surabaya
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak bersama Provost Western Sydney University Professor Deborah Sweeney saat memberikan keterangan kepada awak media dalam kegiatan orientasi mahasiswa WSU di Surabaya (Foto: Div)

Memasuki tahun ketiga operasionalnya di Surabaya, WSU telah memiliki hampir 90 mahasiswa yang mulai menempuh berbagai program studi, baik pada jenjang sarjana maupun pascasarjana.


"Pada tahun ketiga ini, terdapat hampir 90 mahasiswa yang mulai menempuh berbagai program studi, baik tingkat sarjana maupun pascasarjana," jelas Deborah.


Ia menegaskan WSU akan terus hadir di Surabaya dalam jangka panjang dengan mengembangkan pengalaman pendidikan ala Australia bagi mahasiswa di Indonesia.


Salah satu mahasiswa WSU Surabaya, Maria Godelava (19), mengatakan memilih WSU karena menawarkan masa studi yang relatif singkat sekaligus pengalaman perkuliahan yang dinilai relevan.

Perempuan yang akrab disapa Alva tersebut menilai kesempatan memperoleh gelar Australia serta membangun jejaring menjadi salah satu daya tarik WSU Surabaya.


"Hanya tiga tahun kuliah sudah dapat Australian Degree. Juga kesempatan untuk networking atau berjejaring," kata Alva kepada awak media AnalisaPost.


Kunjungan kerja Brazier ke Jawa Timur, yang mencakup sektor pendidikan dan ziarah ke makam Gus Dur, menunjukkan bahwa hubungan Australia dan Indonesia tidak hanya dibangun melalui kerja sama antar-pemerintah, tetapi juga melalui pendidikan, budaya, toleransi, generasi muda, dan hubungan langsung antarmasyarakat. (Dna)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya