Ni Ketut Arini, Kartini Bali yang Setia Menjaga Warisan Budaya di Usia 83 Tahun
- analisapost

- 25 Apr
- 3 menit membaca
DENPASAR -analisapost.com | Di usia 83 tahun, Ni Ketut Arini tetap menunjukkan dedikasi tinggi dalam melestarikan tari klasik Bali. Ia masih aktif mengajar generasi muda secara langsung di kediamannya di Jalan Kecubung, Denpasar. Konsistensinya menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak mengenal batas usia.

Siang itu, Arini tampak bersemangat menyambut kedatangan awak media AnalisaPost. Mengenakan kebaya kuning cerah dan kamben batik kecokelatan, ia tetap luwes memperagakan gerakan tari.
Namanya telah lama dikenal sebagai salah satu maestro tari klasik Bali yang memiliki kontribusi besar dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi di tengah perkembangan zaman.
Perjalanan Arini di dunia tari tidak dimulai dengan mudah. Lahir di Denpasar pada 15 Maret 1943, ia sempat tidak mendapat restu keluarga untuk menekuni seni tari. Penolakan itu dilatarbelakangi anggapan bahwa postur tubuh dan warna kulitnya kurang mendukung. Namun, kondisi tersebut justru memacu semangatnya untuk membuktikan kemampuan diri.
Bakat seni Arini tidak terlepas dari pengaruh sang ayah, I Wayan Saplug, seorang seniman tabuh, serta bimbingan maestro tari I Wayan Rindi yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya.
Sejak usia dini, Arini kerap menyaksikan proses latihan yang dipimpin Rindi. Dari gurunya itu, ia tidak hanya mempelajari teknik tari, tetapi juga nilai-nilai pendidikan, seperti pentingnya mengajar dengan kesabaran dan tidak merendahkan murid.
Momentum penting dalam perjalanan kariernya terjadi pada 1957 saat ia terpilih sebagai penari Sang Hyang Dedari di Banjar Pande, Desa Sumerta Kaja. Pada masa itu, peran tersebut memiliki nilai sakral dan hanya diberikan kepada penari yang dianggap suci oleh masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi titik awal pengakuan atas kemampuan Arini sebagai penari.

Kariernya kemudian berkembang pesat. Ia menempuh pendidikan formal di KOKAR Bali (kini SMKI) dan STSI Denpasar, serta berguru kepada sejumlah seniman, termasuk I Nyoman Kaler. Melalui proses tersebut, Arini dikenal sebagai maestro tari Condong yang kerap tampil dalam pertunjukan Legong, Gambuh, dan Arja.
Selain itu, Arini berperan penting dalam pelestarian tari Legong klasik yang sempat terancam punah. Dari 14 gaya Legong yang ada di Bali, ia menguasai enam di antaranya, yakni Legong Pelayon, Lasem, Kuntul, Kuntir, Jobog, dan Semarandhana. Keenam tarian tersebut telah didokumentasikan pada 2010 sebagai bahan ajar di ISI Denpasar untuk memastikan keberlanjutan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Komitmennya di bidang pendidikan diwujudkan melalui pendirian Sanggar Tari Warini pada 1973. Nama “Warini” merupakan gabungan dari nama gurunya, Wayan Rindi, dan namanya sendiri. Di sanggar ini, Arini menerapkan metode pengajaran berbasis rasa dengan menggunakan iringan gamelan secara langsung, bukan hitungan angka.
Menurutnya, pendekatan tersebut membantu murid memahami tari sebagai ekspresi, bukan sekadar rangkaian gerak.
Sejak 1965, Arini juga aktif mengikuti misi kebudayaan ke berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Swiss. Melalui kegiatan tersebut, ia memperkenalkan seni tari Bali sekaligus menjalankan diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.
Sejak 1965, Arini juga aktif mengikuti misi kebudayaan ke berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Swiss. Melalui kegiatan tersebut, ia memperkenalkan seni tari Bali sekaligus menjalankan diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

Ia juga tercatat pernah tampil di hadapan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, sebuah pengalaman yang turut mengukuhkan kiprahnya di panggung nasional dan internasional.
Dalam konteks perjuangan perempuan, Arini kerap dipandang sebagai sosok “Kartini masa kini” dalam pelestarian budaya Bali. Semangatnya menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, melainkan juga melalui upaya menjaga dan merawat tradisi.
Melalui tari, Arini menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam mempertahankan identitas budaya bangsa.
Ia juga menekankan pentingnya kecintaan generasi muda terhadap tari Bali. Ia berharap seni tari tidak hanya dipandang sebagai ajang perlombaan atau kebutuhan akademik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan, termasuk dalam kegiatan “ngayah” di pura dan pengembangan pariwisata budaya.
Memasuki usia lanjut, Arini memaknai tari sebagai bagian dari perjalanan spiritual. Baginya, menari merupakan bentuk meditasi sekaligus pengabdian. Sanggar Tari Warini yang ia bina tidak hanya menjadi tempat belajar teknik, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kecintaan terhadap budaya. Dedikasi panjangnya menjadikan Arini sebagai salah satu figur penting dalam pelestarian warisan seni tradisional Indonesia.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar