Pemasangan EWS Kompartemen Kebencanaan IKA ITS – Ditmawa ITS
Oleh : Radian Jadid
Humas Kompartemen Kebencanaan IKA ITS
LUMAJANG - analisapost.com | Kompartemen Kebencanaan IKA ITS (KK IKA-ITS) berkolaborasi dengan Direktorat Kemahasiwaan (Ditmawa) ITS melanjutkan misi Giat Mitigasi Semeru 2022 dengan mengirimkan tim dari mahasiswa untuk memasang peralatan Early Warning System (EWS).

Tim yang terdiri dari Edwin Selanjaya (Teknik Mesin Industri), Adhe Wicaksono (Teknik Kelautan), Aditya Wasista Toyib (Teknik Lepas Pantai), Qul Mauladi, Arista Tri Kurnia Surin (Teknik Mesin Industri), Bernadus Daniel Sasmito Atmodiharjo (Teknik Elektro), dan Michael Novaryan (Kelistrikan PPNS) selama seminggu penuh melakukan rangkaian sosialisasi, setting dan pemasangan perangkat EWS Dipasang di delta sungai Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kec. Pronojiwo, Lumajang.
Tim yang dipimpin Edwin berangkat dari Kampus ITS pada 23 Februari 2022 dilepas oleh Dr. Eng. Yeyes Mulyadi (Kasubdit Pengembangan kemahasiswaan Ditmawa ITS, Ketua Posko) dari Posko Kebencanaan IKA ITS. Yeyes berpesan agar mahasiswa tidak meninggalkan etika dan adat istiadat serta “kulo nuwun" saat terjun di lapangan.
Tim harus selalu mengutamakan cara berpikir ilmiah, menjaga komunikasi dan bertindak untuk mencari solusi atas permasalahan di masyarakat. Temuan permasalahan di lapangan dapat dijadikan bahan untuk penelitian dan kajian lebih lanjut agar kampus dapat membantu memunculkan solusi yang tepat. Tim mulai menjalankan misi keesokan harinya, melakukan koordinasi dengan perangkat setempat serta jaringan relawan yang telah ada di lokasi sebelumnya.

Mereka melakukan koordinasi terkait tempat pemasangan perangkat EWS serta menjalankan sosialisasi kepada masyarakat sekitar akan keberadaan dan arti pentingnya EWS dalam upaya memberikan peringatan dini bahaya erupsi, banjir lahar maupun awan panas guguran (APG) dari hulu aliran sungai Curah Kobokan di Kawasan Supiturang.
Yeyes didampingi Ir. Djuwono Hadi Susanto, M.Si. (Dewan Pembina PP IKA ITS), Dr. Ginanjar Yoni Wardoyo, ST. MT. CEIA dan Ahmad Yazid Basthomi dari Dewan Pakar KK IKA-ITS, pada 26 Februari mulai melakukan pemasangan perangkat EWS, yakni satu tower yang memuat dua sirine berkekuatan 120dB catu daya mandiri, inverter, remoute control dan perangkat system yang terhubung dengan pos pemantauan.
Turut hadir dan bergabung dengan tim tersebut Fiqey Indriati Eka Sari (Teknik Informatika) yang merupakan Mahasiswa Berprestasi ITS 2022. Ia turut bergabung karena tergerak karena panggilan jiwa dan dalam rangka kepedulian sosial yang ingin terus dijalankannya. Selain berprestasi di akademik dan aktifitas riset serta penelitian, Mawapres yang sejak SD,SMP dan SMA aktif di Pramuka dan pernah dikirim ke Cibubur ini bertekad untuk mengabdikan dirinya di kerja-kerja sosial dan kemanusiaan.
Seluruh instalasi EWS sudah terpasang dan disetting dengan baik, serta telah dilakukan uji coba melalui remoute dari pos pantau Supiturang pada 28 Februari. Ginanjar menjelaskan bahwa unit EWS berupa sirine tanda bahaya sumbangan IKA ITS ini dihubungkan dengan pos pantau relawan yang dijalankan Paguyuban Relawan lokal Kaki Gunung Semeru (REKG) yang dikomandani oleh Nurcholis.
Juga terkoneksi dengan perangkat EWS yang dibangun sebelumnya oleh jaringan relawan (Indonesian Relief Box / IRBox, SARSU, HDCI, GUSDURian, Kitabisa.com) yang telah memasang CCTV dari berapa titik pantau. Mereka pun telah membuat aplikasi pemantauan kondisi secara riil time dan dapat diunduh di playstore dengan nama aplikasi JaGa Semeru. Dengan keberadaan EWS berupa sirine dari KK IKA ITS ini melengkapi dari sitem yang sudah ada dan dijalankan oleh para relawan semeru. Harapannya dapat lebih bermanfaat untuk masyarakat sekitar utamanya dalam tindakan awal penyelamatan apabila ada tanda-tanda erupsi Semeru.

Saat ini seluruh tim telah kembali ke Posko Kebencanaan IKA ITS dengan selamat, dan segera melaksanakan monitoring dan evaluasi untuk pengembangan lebih lanjut. Yazid mengatakan bahwa pemasangan EWS di Delta Sungai Curah Kobokan, Desa Supiturang ini dipandang paling urgen untuk mengcover dan melindungi masyarakat serta pekerja yang sekarang mulai melakukan aktifitas penambangan.
Selain itu di Kawasan tersebut, saat ini dijadikan jalur alternatif dan masih satu-satunya untuk transportasi ke arah Malang. Dengan dua sirine masing-masing berkekuatan 120 dB mempunyai jangkauan hingga radius 500 meter dan cukup untuk memberikan peringatan dini bagi semua yang beraktifitas disekitar Supiturang apabila ada bahaya yang meluncur dari hulu sungai yang bermuara ke Kawasan guguran erupsi Semeru.
“Semoga melalui perangkat EWS ini kami berharap dapat membawa manfaat bagi warga sekitar, para pengguna jalan alternatif serta para pekerja di kawasan Supiturang pada khususnya. Dengan pemasangan EWS berupa sirine dari Kompartemen Kebencanaan IKA ITS dapat menjadi pilot project yang bisa diduplikasi oleh siapa saja di daerah bencana mana saja. Selain itu EWS ini akan terus disempurnakan serta dikembangkan dengan perangkat / teknologi sensor yg secara otomatis akan memicu sirene pada saat datang bahaya banjir dan atau awan panas guguran dari hulu atau puncak gunung semeru.” Pungkas Yazid.






Komentar