Baru Semester Satu, Mahasiswa ISTTS Ini Berhasil Lolos Google Student Ambassador Nasional
- analisapost

- 3 menit yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Program Google Student Ambassador (GSA) menjadi salah satu inisiatif yang membuka peluang bagi mahasiswa strata satu (S1) yang memiliki minat di bidang teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).

Melalui program berdurasi satu tahun ini, mahasiswa terpilih diberi kesempatan untuk menyelenggarakan sesi pembelajaran AI, menginisiasi berbagai kegiatan kampus, hingga mendampingi mahasiswa lain dalam memanfaatkan teknologi Gemini AI.
Untuk mengukur tingkat keterlibatan peserta, Google menerapkan sistem Penghargaan Lencana Bulanan. Lencana digital tersebut diberikan setiap akhir bulan berdasarkan skor akhir yang telah diverifikasi. Selain itu, peserta juga berkesempatan memperoleh hadiah setelah berhasil menyelesaikan berbagai tantangan prompt Gemini.
Sebelum dinyatakan lolos, para pendaftar harus melalui tahapan seleksi yang cukup ketat. Proses tersebut meliputi seleksi administrasi, pengerjaan tugas, hingga sesi wawancara.
Salah satu mahasiswa yang berhasil lolos pada batch pertama tingkat nasional adalah Innani Fiddinillah atau Diny, mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Digital Institut Sains dan Teknologi Terpadu SurabayaĀ (ISTTS). Menariknya, Diny mengikuti seleksi saat dirinya baru memasuki semester pertama perkuliahan.
Ketertarikan Diny mengikuti program ini berawal dari dorongan akademik di lingkungan kampus. Ketua Program Studi Manajemen Bisnis Digital, Prof. Esther, mendorong mahasiswa untuk aktif mencari peluang pengembangan diri di tingkat nasional, termasuk melalui program GSA.
"Saat itu saya masih semester satu. Sebagai bagian dari pengembangan diri, kami diarahkan untuk mencoba mendaftar GSA sekitar bulan Agustus. Akhirnya saya memberanikan diri untuk ikut,ā ujar Diny.
Program Google Student Ambassador sendiri merupakan wadah bagi mahasiswa terpilih untuk menjadi perpanjangan tangan Google di lingkungan kampus. Para ambassador bertugas mengedukasi mahasiswa mengenai produk, teknologi, dan inovasi Google, terutama yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.
Dalam program ini, peserta mendapatkan pembekalan terkait pemanfaatan teknologi berbasis AI melalui platform Gemini, termasuk berbagai fitur seperti Canvas, Nano Banana, hingga Gemini API.
Menurut Diny, proses seleksi tidak berfokus pada portofolio karya, melainkan pada motivasi, visi, serta kesiapan peserta dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
"Di tahap awal, kami lebih diuji dari sisi keberanian, motivasi, dan alasan ingin menjadi GSA. Bukan soal karya, tapi lebih pada visi dan komitmen,ā jelasnya.
Setelah dinyatakan lolos, peserta langsung mengikuti rangkaian pelatihan dan penugasan yang berlangsung selama satu semester penuh. Mereka ditargetkan untuk memahami dan menguasai berbagai fitur teknologi yang diperkenalkan.
"Kami benar-benar dituntut untuk belajar. Mau tidak mau harus bisa beradaptasi dengan teknologi Google dan Gemini, karena nantinya kami juga bertugas mengedukasi mahasiswa lain,ā tambahnya.
Di lingkungan ISTTS, tercatat empat mahasiswa yang berhasil lolos sebagai Google Student Ambassador. Secara nasional, jumlah peserta terpilih mencapai sekitar 800 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Program ini juga mencakup kegiatan berskala nasional, sebagian di antaranya diselenggarakan secara luring di Jakarta dengan melibatkan perwakilan dari berbagai kampus.
Selain memperluas jejaring dan pengalaman, peserta memperoleh akses Gemini Pro selama satu tahun serta paket perlengkapan pendukung. Namun bagi Diny, manfaat terbesar dari program ini adalah pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran kecerdasan buatan dalam dunia akademik dan profesional.
"Saat ini hampir 80-90 persen aktivitas kami sudah memanfaatkan AI, mulai dari tugas kuliah hingga proyek. Tapi tetap harus bijak, jangan sampai sepenuhnya bergantung,ā tuturnya.
Ia menegaskan, kecerdasan buatan seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat kreativitas dan pola pikir manusia. "AI itu sangat kuat dan berdampak besar, tapi tetap manusia yang mengendalikan, bukan sebaliknya,ā pungkasnya. (Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar