top of page

Gastronomi Jadi Jembatan Budaya Prancis-Indonesia, IFI Kenalkan Kuliner Prancis di Surabaya

13 jam yang lalu
5 menit membaca

SURABAYA - analisapost.com | Mengenal budaya suatu negara tidak selalu harus dilakukan melalui buku atau pembelajaran di kelas. Bagi para siswa SMAK St. Hendrikus Surabaya, budaya Prancis diperkenalkan melalui pengalaman langsung membuat dan mencicipi hidangan khas negara tersebut.

Rendez-vous Rasa 2026 Kenalkan Gastronomi Prancis kepada Pelajar Surabaya
Rendez-vous Rasa 2026 Kenalkan Gastronomi Prancis kepada Pelajar Surabaya (Foto: Div)

Pengalaman itu hadir dalam lokakarya memasak yang menjadi pembuka Rendez-vous Rasa: France-Indonesia Gastronomy Week 2026 di Surabaya, Jumat (25/9/2026). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Institut français d’Indonésie (IFI) Surabaya, Tristar Culinary Institute, dan SMAK St. Hendrikus


Dalam lokakarya ini, para siswa terlibat langsung dalam proses memasak dalam dua sesi. Sesi pertama membuat strawberry cheesecake galette, sedangkan sesi kedua membuat mini smoked beef mushroom quiche.


Dalam lokakarya tersebut, Chef Anton dari Tristar Culinary Institute mengajak para siswa membuat mini smoked beef mushroom quiche, hidangan mungil berbahan telur, keju, smoked beef, dan jamur. Menu tersebut dipilih karena quiche merupakan salah satu hidangan yang berasal dari tradisi kuliner Prancis, sekaligus menggunakan bahan yang cukup familiar bagi pelajar.


“Quiche sendiri adalah produk makanan asli dari Prancis. Terus kemudian banyak metode masak yang digunakan di sini. Rasanya juga sangat familiar untuk anak-anak,” ujar Chef Anton.


Menurutnya, penggunaan telur, keju, dan smoked beef membuat hidangan tersebut relatif mudah diterima oleh peserta yang masih berusia sekolah. Pengenalan kuliner melalui bahan yang dekat dengan keseharian juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan budaya Prancis kepada generasi muda.


Proses pembuatan mini quiche dilakukan dalam beberapa tahap. Adonan shell terlebih dahulu disiapkan dan dipanggang. Setelah itu, bagian dalam diisi tumisan smoked beef dan jamur. Campuran telur dan susu kemudian dituangkan, ditambah keju, sebelum kembali dipanggang hingga matang.


“Untuk tingkat kesulitannya buat produk ini menurut saya cukup mudah, tapi waktu pembuatannya saja yang cukup lama. Karena kita perlu buat shell-nya dulu, kemudian kita bake dulu, baru kita isikan, baru kita bake lagi,” jelasnya.

Direktur Institut français d’Indonésie (IFI), Vincent Padare membuka kegiatan di SMAK St. Hendrikus (Foto: Div)
Direktur Institut français d’Indonésie (IFI), Vincent Padare membuka kegiatan di SMAK St. Hendrikus (Foto: Div)

Dalam resep yang digunakan, pie shell dibuat dari tepung terigu, mentega dingin, kuning telur, sedikit cheddar, dan air dingin. Sementara bagian isi menggunakan bawang bombai, smoked beef, jamur, telur, susu, oregano, serta kombinasi cheddar dan soft cheese.


Setelah dirakit, mini quiche dipanggang pada suhu 180 derajat Celsius selama sekitar 25-30 menit.

Tidak hanya memperkenalkan hidangan bercita rasa gurih, lokakarya juga menghadirkan menu manis berupa mini strawberry cheesecake galette. Menu tersebut dibuat Chef Anton bersama Chef Helena dari Hendricus.


“Yang satu savoury, yang satu sweet,” kata Chef Anton.


Strawberry cheesecake galette menggunakan adonan shortcrust pastry sebagai dasar. Adonan kemudian diisi campuran cream cheese, selai stroberi, dan potongan stroberi. Bagian tepi adonan dilipat sebelum dipanggang, lalu disajikan dengan taburan almond dan gula halus.


Bagi Chef Anton, kegiatan memasak secara langsung memberikan ruang bagi peserta untuk memahami kuliner Prancis bukan sekadar dari bentuk dan rasa makanan, tetapi juga dari teknik pengolahannya.


Ia menjelaskan, sejumlah teknik dalam dunia kuliner berkembang dari tradisi memasak Prancis. Karena itu, praktik memasak dinilai dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan gastronomi sekaligus budaya Prancis kepada pelajar.


Direktur Institut français d’Indonésie (IFI), Vincent Padare, mengatakan gastronomi menjadi salah satu sarana yang digunakan untuk memperkenalkan budaya Prancis kepada masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.


Menurut Vincent, kerja sama dengan SMAK St. Hendrikus kembali dilakukan tahun ini untuk menghadirkan kegiatan yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa.


“In this year’s gastronomy program, we are once again partnering with SMAK St. Hendrikus. We want to provide an engaging session that gives students a hands-on experience,” kata Vincent.


Ia menambahkan, rangkaian Rendez-vous Rasa tidak hanya berupa lokakarya memasak. Program tersebut juga mempertemukan chef, profesional kuliner, institusi pendidikan, restoran, dan masyarakat dalam berbagai kegiatan.

Wakil Kepala SMAK St. Hendrikus Surabaya, Agnes Tutut Setianingsih, M.Pd.,
Wakil Kepala SMAK St. Hendrikus Surabaya, Agnes Tutut Setianingsih, M.Pd (Foto: Div)

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi gastronomi Prancis sekaligus membuka pertukaran pengetahuan dengan tradisi kuliner Indonesia.


Vincent menilai pertemuan antara tradisi gastronomi Prancis dengan bahan serta tradisi kuliner Indonesia juga dapat membuka peluang pengembangan dan inovasi di bidang kuliner.


“The meeting between French gastronomic traditions and Indonesian ingredients and culinary traditions is very important. There are many possibilities for innovation and development that can emerge from the interaction between these two traditions,” tambahnya.


Dari pihak sekolah, Wakil Kepala SMAK St. Hendrikus Surabaya, Agnes Tutut Setianingsih, M.Pd., mengatakan lokakarya tersebut bagian dari kerja sama sekolah dengan IFI Surabaya.


SMAK St. Hendrikus merupakan salah satu mitra IFI Surabaya dalam pengajaran bahasa Prancis. Karena itu, pengenalan budaya melalui makanan dinilai dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang memberikan pengalaman berbeda bagi siswa.


“Praktik belajar membuat kue ala Prancis ini merupakan kerja sama antara IFI Surabaya dan SMAK St. Hendrikus sebagai mitra IFI Surabaya dalam pengajaran bahasa Prancis,” terang Agnes kepada awak media AnalisaPost, Jumat (25/9/2026).


Menurut Agnes, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman praktik kepada siswa, tetapi juga memperluas wawasan mereka mengenai budaya Prancis.


“Ini merupakan bentuk kerja sama sekolah dengan IFI karena di sekolah kami ada mata pelajaran bahasa Prancis. IFI memiliki program untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Prancis, salah satunya melalui makanan,” jelasnya.


Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pengayaan pendidikan di sekolah.


“Harapannya, siswa kami memiliki lebih banyak wawasan dan pengetahuan, tidak hanya mengenai budaya Prancis, tetapi juga bahasa asing lainnya. Dari sisi sekolah, kegiatan seperti ini diharapkan dapat ikut meningkatkan kualitas pendidikan,” katanya.

Aleta, siswi kelas XII SMAK St. Hendrikus salah satu peserta lokakarya memasak dalam rangkaian Rendez-vous Rasa: France-Indonesia Gastronomy Week 2026
Aleta, siswi kelas XII SMAK St. Hendrikus salah satu peserta lokakarya memasak dalam rangkaian Rendez-vous Rasa: France-Indonesia Gastronomy Week 2026.(Foto: Div)

Sementara itu, pengalaman mengikuti lokakarya dirasakan langsung oleh para siswa. Salah satu siswi kelas XII SMAK St. Hendrikus, Aleta, mengaku senang karena dapat mengenal makanan sekaligus budaya Prancis melalui praktik secara langsung.


“Saya sangat senang mengikuti kegiatan ini karena bisa mengetahui budaya dan makanan khas Prancis. Makanannya berbeda dengan makanan Indonesia, jadi saya penasaran dan ingin tahu lebih banyak,” ungkapnya.


Aleta mengatakan sebelumnya belum banyak mengetahui makanan Prancis. Melalui kegiatan tersebut, ia tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga berkesempatan mencicipi hidangan yang dibuat selama lokakarya.


Jujur, saya sendiri sebelumnya belum tahu banyak tentang makanan Prancis. Dengan kegiatan ini saya jadi tahu dan bisa merasakannya juga,” katanya.


Rendez-vous Rasa merupakan pengembangan dari program gastronomi tahunan yang sebelumnya dikenal dengan nama Le Goût de France – Cita Rasa Prancis. Memasuki penyelenggaraan keempat pada 2026, program tersebut hadir dengan nama dan semangat baru.


Nama Rendez-vous Rasa, yang berarti “pertemuan rasa”, menggambarkan pertemuan antara tradisi kuliner Prancis dan Indonesia. Program tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang melibatkan berbagai pihak dari kedua negara.


Rangkaian kegiatan melibatkan chef, profesional kuliner, institusi pendidikan, pelaku usaha restoran, serta masyarakat. Agenda yang diselenggarakan mencakup edukasi, lokakarya, dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan budaya makan serta gastronomi.


Pekan gastronomi Prancis-Indonesia tersebut merupakan inisiatif Kedutaan Besar Prancis yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan berbagai mitra dari Prancis dan Indonesia.


Di Surabaya, rangkaian kegiatan dimulai dengan lokakarya memasak di SMAK St. Hendrikus pada 25 September 2026 dan akan berlangsung hingga 3 Oktober 2026.


Setelah kegiatan di sekolah, rangkaian Rendez-vous Rasa akan berlanjut dengan agenda yang mempertemukan mahasiswa dan calon profesional kuliner dengan chef dari Prancis.


Salah satunya adalah Chef Fabrice Danniel, Deputy Director of Culinary Arts Le Cordon Bleu Paris, yang dijadwalkan menggelar demonstrasi memasak di Petra Christian University pada 28 September dan The Sages International pada 29 September.


Dengan rangkaian tersebut, program Rendez-vous Rasa: France-Indonesia Gastronomy Week 2026 di Surabaya tidak hanya memperkenalkan hidangan Prancis kepada masyarakat, tetapi juga menghadirkan ruang belajar dan pertukaran pengetahuan melalui praktik, pendidikan, serta pertemuan langsung antara pelaku gastronomi dari Prancis dan Indonesia.(Dna)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya