Kamsia Bidik UMKM Kuliner, Tawarkan Digitalisasi Transaksi Tanpa Markup Harga
SURABAYA - analisapost.com | Digitalisasi usaha kuliner kini tidak hanya menyasar restoran berskala besar. Kamsia, aplikasi yang merupakan singkatan dari Kaki Lima Indonesia, diperkenalkan sebagai platform digital yang ditujukan untuk membantu pelaku UMKM, khususnya pedagang kuliner, dalam mengelola transaksi dan operasional usaha.

Aplikasi tersebut dikembangkan oleh PT Imaji Cipta dengan sasaran pengguna mulai dari pedagang kaki lima, warung makan, food truck, toko kue, pusat oleh-oleh, warung kopi hingga berbagai usaha kuliner lainnya.
Richard Andrea dari PT Imaji Cipta menjelaskan, Kamsia dibuat dengan konsep yang sederhana agar konsumen tidak perlu mengunduh aplikasi terlebih dahulu untuk melakukan pemesanan. "Ini aplikasi yang memang diperuntukkan untuk para UMKM. Jadi ini aplikasi yang sangat memudahkan sekali bagi pedagang maupun pembeli," ujarnya.
Menurutnya, konsumen cukup memindai kode QR yang disediakan pedagang. Kode tersebut dapat ditempatkan di meja maupun poster apabila pedagang tidak memiliki meja untuk pelanggan.
"Kalau Bapak Ibu punya warung, kita bisa meletakan barcode-nya dimejanya masing-masing. Kalau Bapak Ibu nggak punya meja, bikin poster. Nah, ada konsumen datang, tinggal scan saja,ā katanya.
Setelah dipindai, konsumen langsung diarahkan menuju menu atau produk milik pedagang melalui ponsel.
āYang menariknya, saya tidak meminta konsumen untuk mendownload. Konsumen tinggal datang, ada arahan tolong scan barcode. Mereka tinggal keluarkan handphonenya, mereka scan, langsung masuk ke menu atau produk,ā jelasnya.
Konsumen kemudian dapat memilih makanan, melakukan pemesanan dan pembayaran. Untuk pembayaran digital, sistem menggunakan QRIS. "Mereka tinggal pilih, pesan, bayar, keluar QRIS-nya. Begitu mereka bayar di handphonenya, ada notifikasi Kamsia. Anda tinggal buka saja, dan tenang, itu sudah dibayar,ā ujarnya.
Konsep tersebut juga ditujukan untuk mengubah pengalaman konsumen ketika makan di tempat. Konsumen tidak harus berdiri mengantre di kasir untuk memesan makanan. Setelah memilih meja, konsumen dapat memindai kode QR yang tersedia, melihat menu melalui ponsel, kemudian melakukan pemesanan dan pembayaran. Setelah makanan selesai disiapkan, konsumen memperoleh pemberitahuan sehingga dapat mengambil pesanannya.
Sementara bagi konsumen yang ingin melakukan pembelian untuk dibawa pulang, pemesanan dapat dilakukan terlebih dahulu melalui sistem Kamsia. Konsumen dapat memilih usaha yang tersedia, termasuk berdasarkan lokasi, kemudian melakukan pembayaran sebelum datang mengambil pesanan.
Dari sisi pedagang, Kamsia menawarkan pendaftaran tanpa biaya dan tidak mengenakan biaya langganan bulanan. "Aplikasi kita ini gratis pendaftaran. Tidak ada biaya bulanan. Tinggal pakai saja," kata Richard
Selain itu, Kamsia menyatakan tidak menerapkan potongan atau komisi terhadap nilai penjualan produk. "Yang menariknya lagi, tanpa biaya potongan penjualan,ā ujarnya.
Ia memberikan ilustrasi apabila seorang pedagang menjual nasi goreng seharga Rp15.000.
"Kalau Anda jual nasi gorengnya Rp15 ribu, konsumen bayar QRIS, hari ini atau besok, kita bayar tetap Rp15 ribu tidak ada perubahan,ā terangnya.
Kamsia juga mengklaim tidak menerapkan markup harga produk. Artinya, harga yang ditampilkan secara digital disebut sama dengan harga yang berlaku secara langsung di tempat usaha.
"Tanpa markup harga. Ini juga banyak contoh produknya, harganya Rp10 ribu, tapi kemudian di aplikasi akhirnya jadi Rp15 ribu atau Rp14 ribu. Kita nggak ada markup. Jadi harga offline sama dengan harga online,ā jelasnya.

Meski menyatakan tidak mengenakan potongan penjualan dan biaya bulanan, Kamsia tetap menerapkan biaya jasa aplikasi dalam transaksi.
Dalam penjelasan kepada calon pengguna, biaya jasa tersebut sebesar Rp500 untuk transaksi di bawah Rp25.000 dan Rp1.000 untuk transaksi di atas Rp25.000.
āUntuk penjualan transaksi yang di bawah Rp25 ribu, itu cuma biaya jasanya Rp500. Di atas Rp25 ribu, baru Rp1.000,ā ujarnya.
Menurutnya, biaya jasa tersebut berbeda dengan model komisi yang secara langsung memotong nilai penjualan pedagang.
Kamsia juga memberikan token awal senilai Rp30.000 kepada pengguna baru.
āKetika bergabung itu dapat token Rp30 ribu,ā katanya.
Token tersebut, menurut penjelasannya, digunakan dalam mekanisme transaksi tunai. Ia memberikan contoh transaksi makanan senilai Rp15.000 dengan tambahan biaya jasa aplikasi Rp500.
āKalau tunai, sama saja. Ini saya beli di Ibu nasi goreng Rp15 ribu, karena saya pakai aplikasi, keluarnya Rp15.500. Saya pilih tunai. Uang Rp500-nya saya akan diterima Ibu,ā jelasnya.
Ia kemudian menjelaskan fungsi token yang diberikan kepada pedagang.
āToken ini saya kasih nanti Rp30 ribu. Jadi kalau ada transaksi tunai sebanyak 30 kali, anggaplah semua Rp1.000, transaksi 30 kali, maka Bapak Ibu dapat Rp30 ribu,ā katanya.
Mekanisme penggunaan token setelah saldo awal tersebut habis menjadi salah satu bagian dari sistem Kamsia yang perlu dipahami oleh pedagang sebelum menggunakan layanan secara penuh.
Selain pembayaran, Kamsia juga menawarkan digitalisasi pengelolaan pesanan.
Ketika konsumen melakukan pemesanan, notifikasi akan langsung diterima pedagang melalui perangkat yang digunakan. Pedagang kemudian dapat melihat detail pesanan dan menyiapkan makanan.
Setelah pesanan selesai, pedagang memperbarui status melalui sistem sehingga konsumen memperoleh pemberitahuan untuk mengambil makanan.
Sistem tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual menggunakan kertas.
Kamsia juga memperkenalkan fitur pengelolaan data pelanggan atau CRM. Melalui sistem tersebut, pedagang disebut dapat memperoleh informasi mengenai perilaku dan preferensi pelanggan.
Data tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pemasaran, termasuk promosi
Pedagang juga disebut dapat membuat pemberitahuan promo dan mengirimkannya kepada pelanggan melalui sistem secara digital
Dengan demikian, Kamsia tidak hanya menempatkan diri sebagai sarana pemesanan makanan, tetapi juga sebagai alat untuk membantu pedagang mengelola data pelanggan, transaksi dan kegiatan pemasaran.
Menurut PT Manji Cipta, Kamsia memang dirancang untuk menjangkau pelaku usaha mikro yang belum tentu mampu menggunakan sistem manajemen restoran dengan biaya tinggi. Targetnya mencakup pedagang kaki lima hingga usaha kuliner yang sudah menggunakan konsep modern seperti food truck dan cloud kitchen.
āIni aplikasi yang memang diperuntukkan untuk para UMKM yang siap menanjak, dari kecil apa-apa semuanya pasti mulai dari kita. Masih bayi, kemudian kita kerjanya jadi remaja dan hingga dewasa saat ini,ā ujarnya.
Ia mengatakan, digitalisasi diharapkan dapat membantu pelaku usaha kecil mengelola bisnis secara lebih terstruktur tanpa harus menggunakan sistem yang kompleks.
Selain aspek bisnis, Kamsia juga membawa konsep transaksi minim kertas dengan mengurangi penggunaan nota dan pencatatan manual.
Meski demikian, klaim mengenai dampak lingkungan dan besaran pengurangan penggunaan kertas masih memerlukan data pengukuran yang lebih konkret.
Kehadiran Kamsia pada akhirnya memperlihatkan upaya membawa sistem digital ke lapisan usaha kuliner yang lebih kecil. Bagi pedagang, tantangannya bukan hanya soal memiliki teknologi, tetapi juga memahami biaya, mekanisme transaksi dan manfaat yang benar-benar diperoleh dari sistem tersebut.(Dna)






Komentar