Koster Percepat Pengembangan PLTS Massal, Bali Bidik Jadi Pusat Energi Hijau Nasional
- analisapost

- 2 hari yang lalu
- 2 menit membaca
DENPASAR - analisapost.com | Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali untuk mempercepat pengembangan energi hijau melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara masif. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi mewujudkan Bali Mandiri Energi sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2045.

Komitmen tersebut disampaikan Koster saat membuka Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 yang diselenggarakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pemerintah Provinsi Bali, dan Dewan Energi Nasional (DEN) di Denpasar, Selasa (14/7/2026).
Menurut Koster, kebutuhan listrik di Bali diproyeksikan terus meningkat hingga 2030. Karena itu, pengembangan energi bersih perlu dipercepat dengan memanfaatkan potensi energi surya yang melimpah di Pulau Dewata.
“Kami mengoptimalkan potensi energi surya melalui percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya secara masif, baik PLTS atap maupun PLTS terapung, sebagai bagian dari strategi Bali Mandiri Energi,” ujar Koster.
Ia menjelaskan, salah satu program prioritas yang tengah dipersiapkan adalah menjadikan Pulau Nusa Penida sebagai kawasan percontohan Green Island yang sepenuhnya memanfaatkan energi terbarukan pada 2030.
Selain memenuhi kebutuhan listrik dari energi bersih, program tersebut juga diarahkan untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai sebagai moda transportasi utama di kawasan tersebut.
“Program ini juga diarahkan untuk mendorong seluruh mobilitas di kawasan tersebut menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai. Kami akan menjadikan Nusa Penida sebagai kawasan rendah emisi dan rendah karbon,” katanya.
Koster menambahkan, pengembangan PLTS tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi Bali, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan ekonomi hijau, memperkuat daya saing sektor pariwisata, serta meningkatkan kemandirian energi daerah.
Indonesia Solar Summit 2026 yang berlangsung pada 14–16 Juli 2026 menjadi forum nasional untuk mempercepat transisi energi surya di Indonesia. Tahun ini, Bali menjadi tuan rumah pertama penyelenggaraan ISS di luar Jakarta.
Forum tersebut juga mempertemukan tiga provinsi yang telah menetapkan target pencapaian Net Zero Emission lebih cepat dibanding target nasional 2060, yakni Bali yang menargetkan NZE pada 2045, serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang menargetkan NZE pada 2050.
Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan Bali memiliki peluang besar menjadi contoh destinasi pariwisata rendah karbon melalui pemanfaatan energi surya. Menurutnya, setiap daerah perlu mengembangkan PLTS sesuai karakteristik dan potensi masing-masing dengan melibatkan pemerintah daerah sejak tahap perencanaan hingga implementasi.
Dalam kesempatan yang sama, IESR meluncurkan kajian bertajuk “Peta Jalan Pengembangan Industri Rantai Pasok Fotovoltaik Surya Domestik di Indonesia”. Kajian tersebut menyoroti pentingnya penguatan pasar, kapasitas industri, sumber daya manusia, serta riset dan pengembangan guna mendukung target nasional pembangunan PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW) sekaligus mendorong pertumbuhan industri surya dalam negeri.
Pada penutupan rangkaian acara, ISS 2026 juga memberikan Solar Awards kepada sejumlah pihak yang dinilai konsisten mendorong pemanfaatan energi surya. Penghargaan kategori pemerintah daerah diberikan kepada Provinsi Jawa Barat, kategori perguruan tinggi diraih Universitas Gadjah Mada (UGM), sedangkan kategori industri diberikan kepada Danone Indonesia atas komitmennya dalam mendukung dekarbonisasi operasional melalui pemanfaatan PLTS.(Dwa)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar