Prof. Gatut Dikukuhkan Jadi Guru Besar Pertama Ilmu Komunikasi UK Petra, Kenalkan Phenomenography Digital
- analisapost

- 16 jam yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - AnalisaPost | Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya mengukuhkan Prof. Drs. Gatut Priyowidodo, M.Si., Ph.D., sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Komunikasi, Kamis (27/8/26). Pengukuhan tersebut berlangsung mulai pukul 09.00 WIB di Auditorium Kampus Timur, Gedung Q UK Petra.

Pengukuhan ini sekaligus menambah jumlah Guru Besar yang aktif mengajar di UK Petra menjadi 17 orang. Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Gatut memperkenalkan metode riset inovatif yang diberi nama Phenomenography Digital.
Metode tersebut digunakan untuk memahami dan memetakan keberagaman pengalaman serta cara pandang manusia ketika berinteraksi dengan berbagai fenomena di ruang digital.
Ia menjelaskan, Phenomenography Digital dapat digunakan untuk melihat bagaimana seseorang memberikan persepsi yang berbeda terhadap konten digital yang sama. Misalnya, sebuah konten viral di media sosial dapat memunculkan pengalaman dan respons yang berbeda pada setiap orang.
Menurut Prof. Gatut, perbedaan tersebut menjadi penting untuk dikaji karena masyarakat saat ini hidup di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat cara setiap orang merasakan, memahami, dan merespons informasi di dunia maya tidak selalu sama.
"Kita tengah berada di era Post-Truth digital, sebuah masa di mana batasan antara fakta dan opini menjadi kabur. Sesuatu yang tidak benar bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak, hanya karena disebarkan secara terus-menerus dan didorong oleh subjektivitas atau keyakinan pribadi," terang Prof. Gatut kepada awak media AnalisaPost saat di temui usai pengukuhan.
Fenomena tersebut, lanjutnya, juga terlihat dalam kehidupan generasi Z atau Gen-Z yang menjadikan ruang digital sebagai salah satu tempat utama untuk berdiskusi dan memperoleh informasi.
Topik yang dibicarakan pun beragam, mulai dari persoalan politik dan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga isu populer seperti drama Korea (drakor), drama China (dracin), musik, serta tren olahraga padel.
Melalui Phenomenography Digital, keberagaman pengalaman masyarakat dalam merespons berbagai fenomena tersebut dapat dipetakan dan dipahami secara lebih mendalam.
Metode tersebut tidak hanya relevan untuk melihat perilaku dan tren di kalangan Gen-Z, tetapi juga dapat diterapkan untuk mengevaluasi layanan publik berbasis digital yang disediakan pemerintah.
Salah satu contohnya adalah pengalaman warga atau citizen experience ketika menggunakan sistem Coretax milik Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Menurut Prof. Gatut, pengalaman masyarakat dalam menggunakan layanan digital pemerintah juga menjadi bagian penting yang dapat dikaji melalui pendekatan tersebut.
Ketertarikan Prof. Gatut terhadap dunia akademik dan riset digital tidak terlepas dari latar belakang keluarganya yang berasal dari lingkungan pendidik. Kebiasaan membaca sejak kecil juga turut membentuk ketertarikannya terhadap dunia akademik dan penelitian.
Selain aktif mengajar dan menulis, Prof. Gatut juga dipercaya sebagai Asesor Beban Kinerja Dosen dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) sejak 2016 hingga sekarang. Ia juga telah menulis lebih dari 10 buku di bidang komunikasi.
Prof. Gatut menilai tantangan menghadapi disinformasi di era post-truth bukan persoalan sederhana. Namun, kondisi tersebut menurutnya tetap dapat dihadapi apabila berbagai pihak bergerak bersama dan memberikan perhatian lebih besar terhadap penyampaian informasi yang benar.
Pakar Komunikasi Organisasi tersebut menyebut setidaknya ada tiga langkah yang perlu dilakukan untuk menghadapi persoalan disinformasi.
Pertama, literasi digital perlu dilakukan secara masif dan berkelanjutan agar masyarakat memiliki kesadaran serta kemampuan dalam memilih informasi yang benar.
Kedua, media massa perlu kembali menjalankan peran utamanya dengan memproduksi berita yang objektif. Ketiga, diperlukan kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menciptakan ekosistem informasi yang lebih bersih.
"Jangan mentang-mentang objeknya digital langsung dianggap cocok pakai Phenomenography Digital, kita harus tetap kritis menyaring informasi viral, fokus memahami keberagaman cara pandang orang, dan terus menggalinya hingga tuntas ke akar masalah agar tidak mudah tertipu oleh riuhnya persepsi semu di dunia maya," kata Prof. Gatut.
Guru Besar tersebut diketahui aktif sebagai dosen di UK Petra sejak 2006. Pengukuhannya menjadi momentum penting dalam perjalanan akademiknya sekaligus membawa tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu komunikasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rektor UK Petra Prof. Dr.(H.C.) Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng., menyampaikan bahwa pengukuhan Guru Besar bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga menjadi bentuk tanggung jawab untuk terus belajar, membagikan ilmu, dan membentuk manusia.
"Menjadi profesor bukan sekadar tentang gelar, tapi tentang tanggung jawab untuk terus belajar, membagikan ilmu, dan membentuk manusia. Terlebih dalam Ilmu Komunikasi, ketika orang semakin mudah berbicara namun sulit mendengarkan, ilmu komunikasi harus hadir untuk membangun pemahaman, menjembatani perbedaan, dan menghadirkan perubahan," ujar Rolly Intan.
Dengan dikukuhkannya Prof. Gatut Priyowidodo sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi, UK Petra kini memiliki total 17 Guru Besar yang aktif mengajar. Pengukuhan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas akademik universitas, tetapi juga mendorong pengembangan ilmu komunikasi yang relevan dengan berbagai perubahan di era digital. (Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar