top of page

Sentra Durian Kawasan Kutuk Sidoarjo Rata-Rata Pembelinya Kalangan Menengah Atas


Foto : Dokpri

SIDOARJO - analisapost.com | Bau wangi menyengat buah durian segera menyergap ketika melintas di kawasan Jl. K.H. Mukmin, kota Sidoarjo, Jawa Timur. Hal itu tidaklah berlebihan, karena sepanjang jalan yang lebih dikenal dengan nama kawasan Kutuk, Sioarjo ini terdapat deretan lapak penjual durian yang buka selama 24 jam.(14 Desember 2021)


“Sudah lebih dari 10 tahun kami memilih berjualan durian di kawasan ini, karena lokasinya yang strategis menjadi lewatan orang dari arah Malang mau menuju ke Surabaya dan ke kota Sidoarjo sendiri” jelas Mohammad Toriqin, salah satu penjual durian yang berasal dari Desa Kronto Kecamatan Lumbang, Pasuruan yang dikenal sebagai penghasil durian Pasuruan, Jawa Timur. Di Kabupaten Pasuruan, total ada 8 Kecamatan penghasil durian, yakni di Purwodadi, Tutur, Puspo, Lumbang, Pasrepan, Purwosari, Prigen dan Sukorejo.

Foto : Dokpri

Lebih lanjut menurut Toriq, panggilan akrab pria yang cukup lancar menjawab pertanyaan analisapost.com ini, hampir satu kampung di desanya memilih profesi sebagai pedagang buah, khususnya durian karena keuntungannya cukup menjanjikan. Yaitu, rata-rata tiga puluh persen dari permodalan. Selain berjualan di Sidoarjo, mereka juga berjualan durian di Surabaya, Mojokerto, Pacet.


Namun, ketika saat sepi pembeli, mereka juga harus siap-siap untuk merugi karena dalam rentang empat sampai lima hari durian yang dipajang menurun kualitasnya, dan harus segera diganti dengan yang lebih segar agar pembeli tidak kecewa. Jadi, para pedagang harus benar benar jeli ketika kulakan memilih durian berkualitas terbaik dari para petani.


“Pembeli durian di kawasan ini rata-rata terdiri dari kalangan menengah atas, sehingga mereka memburu kualitas bukan sekedar durian murah. Pedagang durian di kawasan Kutuk, Sidoarjo ini memang benar-benar menjaga kualitas, sehingga para pembeli kami harapkan bisa menjadi pelanggan setia”, imbuh pria yang nampak benar-benar memahami seluk beluk bisnis berjualan durian ini.

Foto : Dokpri

Dalam satu tahun, para pedagang durian ini mulai berjualan saat musim durian tiba pada bulan November hingga bulan Mei. Jika sedang tidak musim durian, mereka berdagang jeruk dan manggis.


Selain berdagang durian yang berasal dari Pasuruan, rata-rata pedagang juga mengambil durian dengan berbagai jenis dan varian hingga Lampung, Bali, Kalimantan, Jember dan Pekalongan. Sekali kulakan, mereka bisa membeli hingga 1000 butir durian agar keuntungan yang didapat memadai dan bisa dilakukan subsidi silang.


Uniknya, pola pembelian durian oleh konsumen dari waktu ke waktu seakan bisa ditebak, yakni mulai awal hingga akhir pekan dan minggu. Pedagang bisa meraup penjulan antara tiga hingga empat juta rupiah seharinya antara hari Senin hingga hari Kamis. Pada hari Jumat dan hari Sabtu omset penjualan naik menjadi delapan juta per hari dan puncaknya pada hari Minggu rata-rata pedagang bisa mengantongi sepuluh hingga dua belas juta rupiah.


Buah berbau wangi khas dengan nama ilmiah durio zibethinus dari keluarga malvaceae durionaceae dan merupakan tanaman khas kawasan tropis di Asia Tenggara ini memang terdiri dari berbagai jenis.


Mulai dari jenis yang banyak dikenal masyarakat seperti durian Montong Susu Pasuruan, durian Petruk, durian Wonosalam Jombang, durian Bawor Jember , durian Merah dari Songgon Banyuwangi, hingga durian Pelangi berwarna merah kuning dari Manokwari.“Para pedagang durian di kawasan Kutuk Sidoarjo ini berkomitmen hanya menjual durian dengan kualitas terbaik saja.


Jadi Konsumen tidak perlu ragu dengan kualitas durian yang kami jajakan”, timpal Yono, pedagang durian lainnya yang juga berasal dari Desa Gronto Pasuruan ini meyakinkan bahwa durian yang mereka jajakan tidak akan mengecewakan para konsumen, sepadan dengan harga yang ditawarkan.


Dengan hanya merogoh kocek seratus ribu rupiah saja, konsumen bisa mendapatkan tiga butir buah durian dengan kualitas cukup bagus. Atau, mencoba jenis montong susu Pasuruan yang dibanderol hingga dua ratus limapuluh ribu rupih per butirnya, dengan rasa fantastis tentunya. (Kusuma Hidayat)








Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya