UINSA dan University of Canberra Buka Program Magister Internasional, Mahasiswa Indonesia Berpeluang Kuliah di Australia
- analisapost

- 3 hari yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Kesempatan mahasiswa Indonesia untuk meraih gelar magister bertaraf internasional semakin terbuka. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya bersama University of Canberra, Australia, resmi menjalin kemitraan akademik melalui Program Joint Master’s Degree Pendidikan Bahasa Inggris yang menawarkan pengalaman belajar lintas negara dan budaya.

Peluncuran program tersebut ditandai dalam kegiatan Celebrating Shared Success yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, di Oakwood Hotel & Residence Surabaya, Rabu (24/6/26).
Acara ini menjadi simbol penguatan hubungan pendidikan antara Indonesia dan Australia sekaligus menandai dimulainya implementasi kerja sama Program Joint Master’s Degree Pendidikan Bahasa Inggris antara kedua perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, menegaskan bahwa sektor pendidikan merupakan salah satu fondasi utama hubungan bilateral Indonesia dan Australia yang terus berkembang.
"Program Joint Master's Degree antara UINSA dan University of Canberra merupakan inisiatif yang sangat strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing global. Selain memperkaya pengalaman lintas budaya, program ini juga membuka peluang karier yang lebih luas bagi para lulusannya," ujar Glen Askew.
Menurutnya, kerja sama pendidikan tidak hanya memberikan manfaat di bidang akademik, tetapi juga mempererat hubungan antar masyarakat kedua negara.
Melalui interaksi lintas budaya dan pertukaran pengetahuan, mahasiswa diharapkan memiliki perspektif yang lebih luas dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun dinamika global.
Program magister bersama ini merupakan inisiasi Rektor Pelaksana UINSA, Prof. Akhmad Muzakki, yang juga merupakan alumnus perguruan tinggi di Australia. Gagasan tersebut lahir dari keinginan memperluas akses pendidikan internasional bagi mahasiswa Indonesia, khususnya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris.
Prof. Akhmad Muzakki mengatakan, kolaborasi internasional merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia.
"Kolaborasi internasional bukan sekadar kerja sama antarperguruan tinggi. Lebih dari itu, ini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun generasi akademisi dan profesional yang memiliki wawasan global serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat," terangnya.
Ia menjelaskan, skema pembiayaan program ini didukung oleh pemerintah Australia dan pemerintah Indonesia. Sebanyak 70 persen biaya kuliah beserta biaya hidup selama menempuh studi di Australia ditanggung oleh pemerintah Australia, sedangkan 30 persen sisanya didukung oleh pemerintah Indonesia melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
"Untuk tahun ini kuota yang tersedia sebanyak delapan mahasiswa," katanya.
Prof. Muzakki menambahkan, proses seleksi peserta mengikuti persyaratan yang ditetapkan oleh LPDP dan University of Canberra.
Selain memenuhi standar minimal kemampuan bahasa Inggris melalui IELTS, para calon mahasiswa juga wajib mengikuti tes psikologi yang berfokus pada aspek personal endurance atau ketahanan mental.
"Ketahanan psikologis menjadi salah satu aspek yang sangat penting. Bahkan, ada peserta yang memperoleh skor IELTS 7,5 tetapi tidak lolos karena dinilai belum memiliki ketahanan mental yang memadai. Sebaliknya, ada peserta dengan skor IELTS 5,5 yang dinyatakan lolos karena dianggap memiliki kesiapan mental untuk hidup mandiri selama menempuh studi di Australia," jelasnya.
Ia berharap program tersebut dapat menjadi model kerja sama akademik internasional yang berkelanjutan serta memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen, maupun pengembangan institusi pendidikan tinggi di Indonesia.

Sementara itu, pihak University of Canberra secara terpisah menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kemitraan tersebut. Universitas yang berbasis di ibu kota Australia itu menyatakan komitmennya untuk terus mendukung penyelenggaraan pendidikan berkualitas serta memperkuat kolaborasi akademik jangka panjang bersama UINSA.
Kerja sama ini juga sejalan dengan arah kebijakan pendidikan tinggi kedua negara. Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi Australia, Jason Clare MP, bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, telah menandatangani nota kesepahaman yang menegaskan pentingnya penguatan kerja sama pendidikan sebagai salah satu pilar utama kemitraan Australia–Indonesia.
Minat mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi ke Australia juga menunjukkan tren positif. Pada 2025, sekitar 25 ribu mahasiswa Indonesia tercatat menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Australia. Angka tersebut mencerminkan semakin kuatnya hubungan akademik kedua negara sekaligus tingginya kepercayaan terhadap kualitas pendidikan tinggi Australia.(Dna)





Komentar