Youth Forum ICTOH 2026 Ajak Generasi Muda Lawan Adiksi Nikotin dan Tembakau
- analisapost

- 20 Mei
- 4 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Menjelang peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diperingati setiap 31 Mei, berbagai pihak mengingatkan pentingnya perlindungan generasi muda dari ancaman adiksi nikotin.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam Youth Forum ke-9 di Surabaya, sekitar 6 juta anak Indonesia saat ini terjebak dalam ketergantungan nikotin, baik melalui rokok konvensional maupun rokok elektronik.
Menanggapi kondisi tersebut, Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), Research Group for Tobacco Control (RGTC) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Tobacco Control Support Center (TCSC), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), serta Jaringan Koalisi Save Our Surroundings (SOS) menggelar Youth Forum ke-9 di Surabaya, Rabu (20/5/26).
Kegiatan ini menjadi rangkaian hari pertama Indonesian Conference on Tobacco Control and Health (ICTOH) ke-11 yang diselenggarakan Universitas Airlangga. Konferensi ilmiah nasional yang terinspirasi dari World Conference on Tobacco Control (WCTC) tersebut berlangsung pada 20ā22 Mei 2026 dengan mengusung tema "Ungkap Adiksi Tembakau dan Nikotin untuk Indonesia Sehat".
Penyelenggaraan ICTOH ke-11 mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan, WHO, IAKMI, Vital Strategies, Campaign for Tobacco-Free Kids (CTFK), serta berbagai jaringan pengendalian tembakau di Indonesia.
Youth Forum bertujuan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan generasi muda dalam upaya pengendalian tembakau dan pencegahan adiksi nikotin. Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 peserta yang berasal dari perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), organisasi non-pemerintah (NGO), hingga pelajar dari Surabaya dan sejumlah daerah lainnya.
Jawa Timur dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki posisi strategis dalam isu pengendalian tembakau. Selain jumlah penduduk yang besar, provinsi ini juga menghadapi tingginya angka perokok serta keberadaan industri rokok berskala besar.
Di sisi lain, implementasi regulasi kawasan tanpa rokok dan pembatasan iklan rokok masih memerlukan penguatan.
Ketua Youth Forum 2026 sekaligus perwakilan RGTC Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Alisia Era, S.KM., mengatakan keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam rangkaian ICTOH tahun ini.
"Harapannya tidak hanya akademisi dan peneliti yang hadir dalam konferensi pada 21ā22 Mei, tetapi pada hari pertama ini kami menghadirkan pemuda untuk ikut mengampanyekan gaya hidup sehat tanpa adiksi tembakau maupun nikotin," ujarnya kepada awak media AnalisaPost, Rabu (20/5/26)

Menurut Alisia, konsumsi berbagai produk tembakau, termasuk rokok elektronik, terus mengalami peningkatan dan semakin banyak menyasar kelompok usia muda. Karena itu, pengendalian tembakau tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan generasi bangsa.
"Kita adalah generasi yang akan menentukan arah bangsa ke depan. Laki-laki akan menjadi tulang punggung keluarga, sementara perempuan akan melahirkan generasi berikutnya. Karena itu, mereka harus dipastikan dalam kondisi sehat," katanya.
Ia menegaskan bahwa dampak konsumsi rokok tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga memengaruhi aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
"Masalah rokok bukan sekadar satu batang rokok atau satu bungkus rokok. Ini juga menyangkut persoalan ekonomi, sosial, lingkungan, hingga kesehatan jangka panjang," jelasnya.
Melalui forum tersebut, Alisia mengajak generasi muda menjadi bagian dari gerakan menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.
"Pesan kami kepada generasi muda, mari hidup sehat, jauhi rokok dan produk nikotin, serta bersama-sama membangun Indonesia yang lebih sehat dan lebih berdaya," pungkasnya.
Dalam forum tersebut, Alisia juga menyoroti maraknya iklan rokok luar ruang yang masih banyak ditemukan di berbagai titik strategis di Surabaya.
"Surabaya sudah menyandang status Kota Layak Anak, namun di berbagai sudut jalan masih banyak ditemukan iklan rokok yang secara sistematis menyasar anak dan remaja. Industri rokok sering kali merancang strategi pemasaran yang dekat dengan kebutuhan orang muda, termasuk melalui program-program yang bertujuan membangun citra positif perusahaan," terangnya.
Ia menambahkan, implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 yang melarang iklan, promosi, dan sponsorship rokok dalam radius 500 meter dari sekolah perlu mendapat pengawasan bersama, termasuk dari kalangan generasi muda.
Dukungan terhadap upaya tersebut juga disampaikan Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji. Ia menegaskan bahwa predikat Kota Layak Anak harus diwujudkan melalui kebijakan yang mampu melindungi kesehatan anak dan remaja.
"Surabaya baru saja berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan dari 28,9 persen menjadi 1,6 persen. Namun keberhasilan itu tidak akan optimal apabila anak-anak masih tumbuh di lingkungan yang terpapar asap rokok," katanya.
Armuji menyatakan Pemerintah Kota Surabaya berkomitmen menyelaraskan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dengan regulasi nasional yang terbaru.
Sementara itu, Asisten Deputi Karakter Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga, Esa Sukmawijaya, yang mewakili Menteri Pemuda dan Olahraga, menilai pengendalian konsumsi rokok merupakan investasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
"Kecanduan rokok merupakan hambatan nyata dalam meningkatkan kualitas SDM. Semakin banyak anak muda yang mengalami gangguan kesehatan, maka produktivitas juga akan menurun. Jika ingin meningkatkan kualitas pembangunan pemuda, maka upaya pengendalian konsumsi rokok harus diperkuat," ucapnya.
Ancaman lain yang menjadi perhatian adalah penyalahgunaan rokok elektronik. Kepala BNN Kota Surabaya, Kombes Pol. Heru Prasetyo, mengungkapkan bahwa vape kerap dimanfaatkan sebagai media konsumsi zat narkotika sintetis.
"Vape memiliki karakteristik yang mudah digunakan dan sering dimodifikasi. Kami menemukan adanya cairan vape ilegal yang mengandung zat psikoaktif dan menyasar kalangan muda melalui jalur yang sulit terdeteksi. Ketika otak remaja sudah terbiasa dengan paparan nikotin dosis tinggi, risiko penyalahgunaan zat lainnya juga meningkat," tegas Heru.
Ia menambahkan bahwa pengawasan dari lingkungan terdekat, termasuk oleh generasi muda, sangat dibutuhkan untuk mencegah semakin banyaknya korban penyalahgunaan zat adiktif.
Dari sisi kesehatan masyarakat, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Faridha, menekankan bahwa dampak adiksi nikotin tidak hanya berkaitan dengan penyakit paru-paru, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi ekonomi keluarga.
"Jika usia muda sudah mengalami adiksi, maka risiko penyakit degeneratif akan muncul lebih cepat. Dari sisi ekonomi, keluarga dapat menghadapi beban biaya pengobatan yang besar akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah," jelasnya.
Forum ditutup dengan ajakan kolaboratif dari Duta BNN Kota Surabaya, Ni Luh Rara, serta influencer kesehatan dr. Kevin Almas Maromi. Keduanya mengajak generasi muda untuk menolak normalisasi penggunaan rokok dan produk nikotin serta membangun budaya hidup sehat sebagai bagian dari upaya menciptakan masa depan yang lebih baik.
Sebagai informasi, ICTOH merupakan konferensi pengendalian tembakau yang diselenggarakan secara berkala sejak 2014. Konferensi ini menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serta generasi muda untuk memperkuat upaya pengendalian tembakau dan pencegahan adiksi nikotin di Indonesia. (Che/Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar