20 Tahun Lumpur Lapindo, Warga Gelar Sambang Buyut Kenang Desa yang Tenggelam
- analisapost

- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca
SIDOARJO -analisapost.com | Memperingati 20 tahun tragedi Lumpur Lapindo yang terjadi pada 29 Mei 2006, puluhan warga terdampak menggelar ritual budaya bertajuk Sambang Buyut di tanggul utama Lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (29/5/26).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan dua dekade bencana Lumpur Lapindo yang juga diisi dengan pertunjukan teaterikal di atas tanggul, pembacaan puisi, pameran foto tragedi lumpur, diskusi, hingga pemutaran film dokumenter oleh sejumlah aktivis lingkungan dan seniman.
Ritual Sambang Buyut dilakukan dengan tabur bunga dan doa bersama untuk mengenang para leluhur serta pendiri desa-desa yang kini telah tenggelam akibat semburan lumpur panas. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana mempererat kembali hubungan sosial warga yang tercerai-berai akibat relokasi pascabencana.
Prosesi dimulai dari Taman Dwarakerta di sisi utara Polsek Porong. Warga kemudian berjalan kaki menuju titik P21 di bibir tanggul utama Lumpur Lapindo sambil diiringi doa dan tabuhan rebana. Suasana berlangsung khidmat dengan nuansa budaya Jawa yang kental.
Warga membawa sesaji dan perlengkapan adat sebagai simbol penghormatan kepada para leluhur yang dahulu membuka lahan dan mendirikan desa-desa yang kini telah hilang tertutup lumpur.
Salah satu penggagas kegiatan, Harwati, mengatakan ritual budaya dipilih sebagai pendekatan berbeda dalam memperingati tragedi Lumpur Lapindo. Selama ini, peringatan lebih banyak dilakukan melalui doa bersama maupun istigasah.
“Kami ingin bersilaturahmi kepada ahli kubur dan leluhur kami yang dulu babat alas mendirikan desa di sini. Selama 20 tahun, kami belum pernah berkumpul dalam bentuk ritual tradisi Jawa seperti ini,” ujar Harwati.
Menurutnya, ritual Sambang Buyut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah desa yang hilang akibat bencana Lumpur Lapindo.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut memiliki sejumlah makna penting, mulai dari mengenang 20 tahun tragedi Lumpur Lapindo, menghormati leluhur dan pendiri desa, mempererat hubungan antarwarga terdampak, merawat ingatan kolektif komunitas, hingga menjaga identitas budaya masyarakat yang terdampak.

Tragedi Lumpur Lapindo yang terjadi pada 29 Mei 2006 telah menenggelamkan ribuan rumah, tempat ibadah, fasilitas umum, serta lahan pertanian di wilayah Porong dan sekitarnya.
Peristiwa itu memaksa ribuan warga meninggalkan kampung halaman mereka dan menetap di berbagai daerah setelah ruang hidup mereka tertutup lumpur panas.
Meski sebagian besar warga telah menerima ganti rugi, dampak sosial dan psikologis dari tragedi tersebut dinilai masih dirasakan hingga kini. Banyak warga kehilangan ruang sosial, lingkungan tempat tinggal, serta ikatan komunitas yang sebelumnya terjalin kuat di desa asal mereka.
“Meski desa kami sudah tenggelam, kami tidak ingin sejarah dan ikatan batin antarwarga ikut terkubur. Kami ingin tetap menjaganya,” kata Harwati.
Bagi warga terdampak, ritual Sambang Buyut menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus perekat emosional bagi komunitas yang kini tersebar di berbagai wilayah.
Ritual tersebut juga menjadi pengingat bahwa tragedi Lumpur Lapindo tidak hanya meninggalkan kerugian material, tetapi juga luka sosial yang masih membekas hingga dua dekade kemudian.
Melalui kegiatan budaya tersebut, warga berharap sejarah desa-desa yang hilang akibat Lumpur Lapindo tetap dikenang dan nilai kebersamaan yang selama ini menjadi identitas komunitas mereka tidak memudar oleh waktu. (Che/Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar