top of page

APSILANGGA Soroti Fenomena Generasi Sandwich dan Kesehatan Mental Keluarga di Era Digital

SURABAYA - analisapost.com | Alumni Psikologi Universitas Airlangga (APSILANGGA) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Keluarga vs Gadget: Masih Bisa Dekat?” di Aula Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Kampus B, Surabaya, Sabtu (30/5/26).

Josephine M.J. Ratna, Psikolog, Clinical Psychologist dari Curtin University Australia saat memberikan materi
Josephine M.J. Ratna, Psikolog, Clinical Psychologist dari Curtin University Australia saat memberikan materi (Foto: Div)

Seminar yang berlangsung pukul 08.00-16.00 WIB tersebut membahas relasi keluarga, komunikasi lintas generasi, serta kesehatan mental di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).


Kegiatan yang menjadi program perdana Pengurus APSILANGGA periode 2025-2030 ini diikuti lebih dari 250 peserta secara luring dan daring.


Seminar menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, yakni Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog, Clinical Psychologist dari Curtin University Australia Josephine M.J. Ratna, M.Psych., Ph.D., MAPS, serta penulis buku anak Watiek Ideo yang telah menghasilkan lebih dari 350 judul buku.


Ketua APSILANGGA, Dr. Ikhsan, S.Psi., M.M., CGCAE, mengatakan seminar tersebut diselenggarakan sebagai ruang dialog ilmiah yang relevan dengan tantangan keluarga masa kini.


"Teknologi telah memasuki ruang paling intim dari kehidupan kita, yaitu keluarga. Tantangannya bukan menolak teknologi, melainkan memastikan keluarga tetap menjadi ruang aman yang manusiawi, adaptif, dan tangguh,” ujar Ikhsan.


Menurutnya, keluarga saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, APSILANGGA ingin menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya berbasis ilmiah, tetapi juga dekat dengan kehidupan sehari-hari.


“Melalui seminar ini, kami ingin masyarakat memperoleh strategi praktis untuk menjaga kualitas relasi keluarga di era digital,” katanya.


Seminar ini mengangkat berbagai isu psikososial keluarga yang berkembang di era digital, mulai dari fenomena technoference atau gangguan interaksi akibat teknologi, sharenting, hingga isolasi sosial pada lansia.


Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, sebanyak 80,66 persen penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan 11,97 persen populasi Indonesia merupakan kelompok lanjut usia, menandakan Indonesia telah memasuki fase aging population.


Dalam pemaparannya, Josephine M.J. Ratna menekankan pentingnya edukasi bagi orang tua untuk membangun ketangguhan (resilience) anak, terutama di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.



“Saya mendukung kegiatan seperti ini karena edukasi kepada orang tua sangat penting untuk membangun ketangguhan anak. Kegiatan ini juga membantu memberdayakan anak-anak berkebutuhan khusus melalui peran keluarga masing-masing,” ucapnya.


Ia menjelaskan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, langkah pertama yang harus dimiliki keluarga adalah penerimaan terhadap kondisi anak.

Josephine M.J. Ratna, Psikolog, Clinical Psychologist dari Curtin University Australia dan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Dr. Dewi Retno Suminar
Josephine M.J. Ratna, Psikolog, Clinical Psychologist dari Curtin University Australia dan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Dr. Dewi Retno Suminar (Foto: Div)

“Acceptance atau penerimaan menjadi hal yang sangat penting. Keluarga perlu menerima bahwa salah satu anggota keluarganya memiliki kebutuhan khusus. Namun kondisi tersebut tidak menghilangkan hak mereka untuk hidup, berkembang, belajar, dan menikmati kehidupan semaksimal mungkin,” kata Josephine.


Ia menambahkan bahwa pendampingan anak berkebutuhan khusus tidak hanya berfokus pada perubahan perilaku anak, tetapi juga pada kemampuan keluarga untuk menyesuaikan lingkungan dan pola pikir dalam proses pengasuhan.


Menurutnya, setiap anak autistik memiliki karakteristik yang berbeda sehingga strategi pendampingan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.


“Jika kita bertemu satu orang autistik, maka kita baru bertemu satu orang autistik. Kebutuhan dan cara berpikir setiap anak berbeda, sehingga pendekatan yang berhasil pada satu anak belum tentu efektif diterapkan pada anak lainnya,” jelasnya.


Josephine juga menyoroti pentingnya pemahaman orang tua terhadap aspek sensori anak. Ia menjelaskan bahwa kelelahan sensori dapat memicu berbagai perilaku seperti mudah marah, tantrum, hingga kesulitan mengendalikan emosi.


“Jika kelelahan sensori tidak dikenali, anak dapat mengalami kesulitan belajar, menolak mengerjakan tugas, bahkan berisiko menyakiti dirinya sendiri. Karena itu, orang tua perlu memahami kebutuhan sensori anak dan mengenali tanda-tanda ketika anak mulai merasa kewalahan,” tuturnya.


Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendampingan tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga pada kondisi keluarga secara keseluruhan.


“Setiap anggota keluarga membutuhkan perhatian dan dukungan. Ketika keluarga mampu mengenali serta mengembangkan kelebihan yang dimiliki masing-masing anggota, hal itu dapat menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan,” tegasnya.


Terkait penanganan anak berkebutuhan khusus, Josephine menekankan pentingnya identifikasi kebutuhan anak dan kerja sama berbagai pihak, termasuk terapis, psikolog, psikiater, dokter anak, serta keluarga.



Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa gadget pada dasarnya merupakan alat bantu yang manfaat maupun dampaknya sangat bergantung pada cara penggunaannya.


“Gadget adalah alat bantu. Yang menentukan manfaat atau dampaknya adalah bagaimana kita menggunakannya. Untuk anak-anak, penggunaan gadget masih perlu didampingi karena mereka belum mampu sepenuhnya mengatur kapan harus menggunakan dan kapan harus berhenti,” kata Dewi.

Narasumber dan panitia foto bersamausai kegiatan
Narasumber dan panitia foto bersamausai kegiatan (Foto: Div)

Menurutnya, penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak untuk melakukan aktivitas fisik yang penting bagi kesehatan dan perkembangan mereka.


“Jika anak terlalu lama menggunakan gadget, mereka kehilangan kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik. Karena itu, aktivitas fisik tidak boleh dihilangkan, baik di lingkungan keluarga maupun dunia pendidikan,” ujarnya.


Dewi mendorong keluarga untuk membangun budaya hidup aktif sejak dini melalui berbagai kegiatan seperti berjalan-jalan, bermain di luar rumah, berolahraga, mengunjungi museum, maupun mengikuti aktivitas sosial.


“Kegiatan seperti itu sebenarnya sangat bermanfaat dan dapat menjadi alternatif yang sehat untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget,” katanya.


Ia juga menilai dunia pendidikan perlu terus memperkuat aktivitas fisik sebagai bagian dari proses pembelajaran mengingat gaya hidup kurang aktif menjadi salah satu faktor meningkatnya berbagai masalah kesehatan pada usia muda.


Terkait pengaturan penggunaan gadget pada anak berkebutuhan khusus, Dewi menyarankan orang tua membuat aturan sederhana yang mudah dipahami anak.


“Misalnya menyediakan tempat khusus untuk menyimpan gadget saat tidak digunakan. Anak bisa diberi pemahaman bahwa gadget juga perlu beristirahat atau diisi ulang dayanya agar dapat digunakan kembali keesokan harinya. Cara sederhana seperti ini membantu anak memahami konsep jeda penggunaan gadget tanpa menimbulkan konflik,” jelasnya.


Melalui seminar nasional tersebut, APSILANGGA berharap masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tantangan keluarga di era digital sekaligus menemukan strategi praktis untuk menjaga kualitas hubungan keluarga, memperkuat komunikasi lintas generasi, dan mendukung kesehatan mental seluruh anggota keluarga. (Dna)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya