top of page

Blimbingsari dan Palasari, Dua Desa Rohani yang Jadi Magnet Wisatawan

Diperbarui: 16 Apr

JEMBRANA - analisappst.com | Di tengah dominasi budaya Hindu di Pulau Dewata, dua desa di Bali Barat, yakni Blimbingsari dan Palasari, menjadi simbol harmonisasi antara iman Kristiani dan adat Bali.

Kedua desa di Kabupaten Jembrana ini dikenal sebagai destinasi wisata rohani yang menawarkan arsitektur gereja bernuansa Bali, suasana asri, serta tradisi keagamaan yang berpadu dengan budaya lokal.


Akulturasi Budaya yang Menjadi Daya Tarik


Desa Blimbingsari dikenal sebagai kampung Kristen Protestan yang berdiri sejak 1939. Mayoritas penduduk desa ini memeluk agama Kristen, namun tetap mempertahankan identitas budaya Bali yang kuat dalam kehidupan sehari-hari.


Keunikan tersebut terlihat dari bangunan GKPB Jemaat Pniel Blimbingsari, gereja yang sekilas menyerupai pura dengan arsitektur bergaya Bali, lengkap dengan gerbang candi bentar, ornamen tradisional, dan tata ruang yang mengadopsi filosofi Bali.


Gereja ini menjadi ikon wisata religi sekaligus simbol akulturasi budaya di Bali Barat.


"Blimbingsari bukan sekadar desa wisata rohani, tetapi juga bukti bahwa identitas budaya Bali tetap hidup di tengah keberagaman keyakinan,ā€ ujar Sandy salah satu pengunjung, saat ditemui di kawasan desa.


Tradisi Bali juga tetap terasa dalam perayaan hari besar keagamaan seperti Natal dan Paskah. Masyarakat masih menggunakan dekorasi khas Bali, termasuk penjor dan ornamen adat dalam perayaan gerejawi.


Palasari, Pusat Wisata Rohani Katolik

Tak jauh dari Blimbingsari, Desa Palasari menjadi pusat komunitas Katolik di Bali Barat. Desa ini berdiri sekitar 1940 dan dikenal luas melalui Gereja Hati Kudus Yesus Palasari, salah satu gereja paling ikonik di Bali.


Gereja tersebut memadukan gaya arsitektur Eropa dan ornamen Bali, menjadikannya daya tarik wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.


"Palasari memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat. Banyak peziarah datang untuk berdoa sekaligus menikmati keindahan arsitektur gereja,ā€ kata Romo Petrus Adi, salah satu pengurus paroki.


"Wisatawan yang datang biasanya tidak hanya berziarah, tetapi juga menikmati panorama alam yang sangat asri. Ini yang membuat Palasari memiliki nilai wisata lengkap, spiritual dan alam,ā€ terangnya ke pada awak media AnalisaPost, Senin (13/4/26)


Di kawasan paroki juga terdapat kompleks pemakaman para uskup, imam, dan bruder yang pernah mengabdi di Keuskupan Denpasar.


Gua Maria Jadi Magnet Wisatawan


Selain gereja, kawasan Palasari juga memiliki Gua Maria atau Palinggih Dewi Kaniaka Maria, yang menjadi pusat ziarah umat Katolik. Tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata rohani favorit di Jembrana.


Suasana tenang dan rindang di sekitar gua menjadikan lokasi ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang refleksi spiritual bagi wisatawan.


Tak hanya wisata rohani, kawasan ini juga berdekatan dengan Bendungan Palasari, bendungan terbesar di Bali yang menambah daya tarik wisata kawasan Bali Barat


Simbol Toleransi di Bali Barat


Keberadaan Blimbingsari dan Palasari memperlihatkan wajah toleransi dan keberagaman yang hidup harmonis di Bali.


Tradisi lokal seperti penggunaan penjor saat Natal dan nuansa adat Bali dalam perayaan Paskah masih terus dipertahankan oleh masyarakat.


Kedua desa ini menjadi contoh bagaimana budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai keagamaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing


Pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan kawasan ini sebagai desa wisata berbasis masyarakat untuk memperkuat sektor pariwisata Jembrana. (Che/Dna)

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya