Detik-Detik Waisak 2570 BE, Umat Buddha Mengenang Perjalanan Spiritual Siddharta Gautama
- analisapost

- 47 menit yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Ā Umat Buddha melaksanakan ibadah Puja Bhakti Peringatan Detik-Detik Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) di Vihara Dhamma Jaya, Minggu (31/5/26).

Sejak pukul 13.00 WIB, para jemaat mulai berdatangan dan duduk bersila di hadapan rupang Buddha untuk mengikuti rangkaian ibadah yang berlangsung khidmat.
Suasana hening menyelimuti vihara saat umat berdoa dan bermeditasi sambil menantikan momen sakral Detik-Detik Waisak yang jatuh tepat pada pukul 15.44.44 WIB.
Waktu tersebut dipercaya sebagai puncak purnama universal yang menandai tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha Gautama, yakni kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan Parinibbana atau wafatnya Sang Buddha.
Dalam khotbah Dhamma sebelum Detik-Detik Waisak, Bhante Abhayavaso menyampaikan kisah kehidupan Sang Buddha Gautama yang sarat dengan nilai-nilai kebijaksanaan dan pembelajaran spiritual.
Menurut Bhante Abhayavaso, kisah tersebut bermula dari Petapa Asita yang melihat tanda-tanda alam luar biasa sebagai pertanda akan lahirnya seseorang yang istimewa.
āSemuanya bermula dari kegelisahan Petapa Asita yang melihat adanya tanda-tanda alam yang tidak biasa,ā ujar Bhante Abhayavaso.
Ia menjelaskan, dalam perjalanan dari Pegunungan Himalaya menuju Kapilawastu, Petapa Asita bertemu Raja Suddhodana yang saat itu baru dikaruniai seorang putra berusia lima hari dan belum diberi nama.
Ketika Asita memeriksa tanda-tanda khusus pada tubuh bayi tersebut, terutama pada telapak kakinya, sang bayi bergerak hingga kakinya menyentuh dahi Petapa Asita. Peristiwa itu membuat Raja Suddhodana terkejut dan khawatir. Namun, Asita justru memberikan penghormatan yang mendalam kepada bayi tersebut.
āAsita tersenyum, tetapi kemudian beliau bersedih bahkan sampai meneteskan air mata. Asita mengatakan, āBayi ini kelak akan menjadi raja yang memiliki banyak kekuasaan. Namun, apabila ia melihat penderitaan yang ada di sekitarnya, ia akan meninggalkan istana dan menjadi Dhammaraja,"tutur Bhante Abhayavaso.
Bayi tersebut kemudian diberi nama Siddharta Gautama. Ramalan Petapa Asita pun terbukti ketika Siddharta dewasa dan memutuskan meninggalkan kehidupan mewah di istana untuk mencari jalan keluar dari penderitaan manusia.
Berbagai kenyataan hidup yang ditemuinya, seperti sakit, usia tua, dan kematian, mendorong Siddharta mencari kebenaran sejati. Setelah menjalani perjalanan spiritual yang panjang, Siddharta akhirnya mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Sang Buddha di bawah Pohon Bodhi pada hari purnama bulan Waisak.
āPada akhirnya, dalam perjalanan panjang, Siddhartha mencapai Penerangan Sempurna menjadi Sang Buddha di bawah pohon Bodhi pada hari purnama di bulan Waisak,ā ungkapnya.
Bhante Abhayavaso menambahkan, setelah mencapai Penerangan Sempurna, Sang Buddha mengajarkan Dhamma selama 45 tahun kepada banyak orang.
"Tidak sedikit dari mereka yang mendengarkan ajaran Beliau mencapai kebebasan akhir dari penderitaan,ā katanya.
Dari kisah tersebut, Bhante Abhayavaso mengajak umat memahami bahwa akar penderitaan berasal dari hawa nafsu, keinginan yang tidak terkendali, serta kegelapan batin. Menurutnya, seseorang dapat terbebas dari penderitaan apabila mampu membersihkan kedua hal tersebut.
āAnda boleh berkeinginan, tetapi keinginan tersebut haruslah diukur dengan kemampuan. Sekalipun keinginan Anda baik, jika tidak sesuai dengan kemampuan, maka keinginan itu bisa memicu penderitaan,ā tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa keinginan perlu dikendalikan dengan kesadaran agar tidak berkembang menjadi keserakahan, kebencian, maupun kebodohan batin. Kesadaran tersebut dapat dilatih melalui praktik kehidupan yang baik dan meditasi secara rutin.
Menurutnya, latihan spiritual dapat dilakukan dengan menghindari perbuatan jahat, memperbanyak kebajikan, serta bermeditasi. Meditasi diyakini mampu menghadirkan ketenangan batin sekaligus meningkatkan kesadaran diri.
Rangkaian Puja Bhakti Waisak ditutup dengan ritual pemercikan air suci yang dipimpin Bhante Abhayavaso. Setelah mengikuti seluruh prosesi, umat meninggalkan vihara dengan suasana hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih.
Peringatan Tri Suci Waisak menjadi momentum bagi umat Buddha untuk kembali meneguhkan keyakinan, memperdalam praktik Dhamma, serta meneladani ajaran dan kehidupan Sang Buddha Gautama.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar