Kisah Made Sujaya Menjaga Kharisma Music, Toko Kaset Terakhir di Denpasar
- analisapost

- 1 jam yang lalu
- 3 menit membaca
DENPASAR - analisapost.com | Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, keberadaan kaset pita, VCD, dan DVD kini semakin jarang ditemukan. Namun, di Kota Denpasar, Bali, masih ada satu toko kaset legendaris yang tetap bertahan, yakni Kharisma Music.

Toko yang berada di kawasan Pasar Kreneng, Jalan Rijasa, Denpasar, itu dikelola oleh Made Sujaya. Pria keturunan Tionghoa kelahiran Klungkung, 19 Desember 1938 tersebut telah menekuni usaha penjualan kaset sejak tahun 1986.
Selama 40 tahun, Sujaya konsisten menjaga Kharisma Music meski minat masyarakat terhadap rilisan fisik terus menurun. Saat banyak toko kaset memilih tutup karena tergerus zaman, Kharisma Music tetap beroperasi dan menjual kaset, VCD, serta DVD yang masih tersisa.
āYa, mau bagaimana lagi. Kalau cari kerja lain, pikiran sudah kalah, tenaga juga sudah kalah. Kalau semua kaset ini habis, saya akan langsung pensiun. Selain itu Desember 2026 kontraknya juga habis,ā ujar Sujaya kepada awak media AnalisaPost sembari tersenyum.
Kharisma Music awalnya berdiri di Jalan Kamboja, tepatnya di depan lokasi SPBU Kreneng saat ini. Pada 2016, toko tersebut kemudian berpindah ke kawasan Pasar Kreneng, tepatnya di pintu masuk sebelah selatan.
Pada masa jayanya, Kharisma Music menjadi salah satu toko kaset yang ramai dikunjungi pembeli. Berbagai jenis kaset tersedia, mulai dari tembang Bali, lagu anak-anak, pop Bali, lagu Indonesia lawas, hingga musik instrumen untuk relaksasi.
Sujaya mengatakan, saat kaset pita dan CD masih populer, omzet penjualan bisa mencapai Rp 500 ribu per hari. Namun, setelah perkembangan teknologi digital dan pandemi Covid-19, penjualan menurun drastis.
"Kalau sekarang dalam satu hari dapat jualan Rp 100 ribu saja sudah bersyukur. Sebelum pandemi dan masih booming kaset pita serta CD, bisa terjual hingga Rp 500 ribu sehari,ā ungkapnya,Selasa (26/5/26).
Harga kaset yang dijual di Kharisma Music mulai dari Rp 18-25 ribu. Meski stok kaset pita baru sudah tidak tersedia karena tidak lagi diproduksi, Sujaya masih rutin memesan VCD dan DVD dari luar Bali.
"Sampai sekarang saya masih order kaset-kaset VCD dan DVD dari Jawa. Biasanya saya order satu sampai dua kali dalam sebulan. Kalau untuk kaset pita stok baru sudah tidak ada, karena sudah tidak ada produksinya,ā jelasnya.
Menurut Sujaya, sebagian VCD dan DVD yang dijual masih merupakan keluaran baru, seperti film barat dan lagu-lagu Jawa. Selain itu, kaset gamelan, kidung, dan tembang Bali masih dicari pembeli, terutama menjelang hari raya.
"Kalau sekarang, pembeli dalam sebulan bisa dihitung dengan jari. Kalau dulu tahun 90-an tidak bisa dihitung jumlah pembelinya, ramai sekali. Walaupun sudah tidak zaman, masih ada saja yang mencari kaset untuk diputar di mobil. Begitu juga saat hari raya, ada yang mencari kaset gamelan atau kidung,ācerita Sujaya.
Sebelum pandemi Covid-19, sejumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Jepang, juga kerap membeli kaset di toko tersebut untuk dijadikan oleh-oleh.
"Biasanya kaset yang dijadikan oleh-oleh itu CD berisi musik tembang Bali, seperti gong atau musik tari Bali,ā tambahnya.
Sujaya mengakui, pandemi Covid-19 membuat usaha kaset yang telah ia geluti puluhan tahun semakin sepi. Ia berharap kondisi dapat kembali membaik.
Kini, keberadaan kaset, VCD, dan DVD lebih banyak menjadi bagian dari nostalgia. Bagi sebagian orang, memutar kaset bukan sekadar mendengarkan musik, tetapi juga menghadirkan kenangan masa lalu, mulai dari membuka kotak kaset, memasang pita, hingga menekan tombol play pada tape recorder.
Meski peminat rilisan fisik semakin terbatas, Sujaya tetap memilih bertahan. Ia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan menjaga Kharisma Music hingga seluruh kaset yang dimilikinya habis terjual, sembari menunggu masa kontrak tokonya berakhir. (Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar