top of page

I Made Taro, Penjaga Satua Bali yang Tetap Berkarya di Usia Senja

SURABAYA - analisapost.com | Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, keberadaan dongeng dan permainan tradisional kian terpinggirkan oleh perkembangan teknologi. Namun di Bali, seorang tokoh budaya terus berupaya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan dikenal generasi muda.

I Made Taro, Penjaga Satua Bali yang Tetap Berkarya di Usia Senja
I Made Taro, Penjaga Satua Bali yang Tetap Berkarya di Usia Senja (Foto: Div)

Sosok itu adalah I Made Taro, yang dikenal luas sebagai "Bapak Dongeng Bali". Selama puluhan tahun, I Made Taro mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan satua Bali (dongeng tradisional), lagu anak-anak, serta berbagai permainan rakyat yang sarat nilai pendidikan dan karakter.


Upaya tersebut diwujudkannya melalui Sanggar Kukuruyuk, sebuah wadah pelestarian budaya yang didirikan pada 15 Juni 1979.


Lahir di Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem pada tahun 1939, I Made Taro tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan tradisi mendongeng. Kecintaannya terhadap dunia dongeng berawal dari kebiasaan orang tuanya yang selalu mendongeng sebelum tidur.


"Awalnya saya tertarik dengan dongeng karena setiap malam sebelum tidur selalu didongengi oleh orang tua. Cerita-cerita itu membekas dan tersimpan dalam ingatan saya. Dari situlah saya mulai tertarik mendongeng, kemudian saya gabungkan dengan musik dan nyanyian," ujar Made Taro saat ditemui awak media AnalisaPost di kediamannya, Kamis (18/6/26).


Menurutnya, dongeng bukan sekadar hiburan, tetapi sarana untuk menyampaikan pesan moral, nilai kehidupan, dan kearifan lokal kepada anak-anak.


Komitmennya dalam melestarikan budaya kemudian melahirkan Sanggar Kukuruyuk. Nama "Kukuruyuk" dipilih karena identik dengan suara ayam jantan yang berkokok di pagi hari, melambangkan semangat baru, optimisme, dan harapan bagi generasi muda agar tetap terhubung dengan akar budayanya.


Berbeda dengan sanggar pada umumnya, Sanggar Kukuruyuk tidak memiliki tempat pertunjukan tetap. Aktivitasnya lebih banyak dilakukan dengan mendatangi sekolah-sekolah, kegiatan pendidikan, dan berbagai festival budaya.


Sanggar ini aktif mengisi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar, tampil dalam Rare Bali Festival di Taman Budaya Bali, menggelar workshop permainan tradisional bagi guru PAUD dan TK di Denpasar, hingga mengadakan pertunjukan dongeng di sejumlah situs budaya seperti Pura Samuan Tiga.


Sementara itu, kantor pusat Sanggar Kukuruyuk berada di kawasan Penatih Dangin Puri, Denpasar Timur, yang berfungsi sebagai pusat administrasi dan koordinasi kegiatan.


Selain menghidupkan kembali tradisi mendongeng, I Made Taro juga dikenal sebagai pelestari permainan tradisional Bali.


Baginya, permainan rakyat merupakan media pembelajaran yang efektif untuk membangun karakter, melatih kecerdasan, serta memperkuat hubungan sosial anak-anak.

Beberapa karya buku yang ditulis I Made Taro, sang maestro
Beberapa karya buku yang ditulis I Made Taro, sang maestro (Foto:Div)

Permainan seperti meong-meonganĀ mengajarkan kerja sama, tajogĀ melatih keseimbangan dan ketelitian, sementara berbagai permainan kelompok lainnya menumbuhkan rasa kebersamaan dan kemampuan bersosialisasi. Melalui permainan tradisional, anak-anak dapat belajar nilai-nilai kehidupan secara menyenangkan tanpa harus berada di ruang kelas.


Salah satu keunggulan I Made Taro adalah kemampuannya mengemas dogeng atau satua Bali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dalam setiap dongeng yang disampaikan, ia menyisipkan pesan moral tentang pentingnya menjaga lingkungan, menghormati sesama, serta hidup harmonis dalam masyarakat.


Tidak jarang ia memodifikasi gaya bertutur agar lebih interaktif sehingga anak-anak merasa terlibat langsung dalam alur cerita. Dengan pendekatan tersebut, dongeng tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pendidikan karakter yang efektif.


Upaya pelestarian budaya yang dilakukannya tidak berhenti pada tradisi lisan. I Made Taro juga aktif mendokumentasikan berbagai satua Bali dalam bentuk tulisan.


Hingga kini, ia telah menulis lebih dari 30 buku, menghimpun sekitar 200 permainan tradisional, serta mendokumentasikan 225 lagu anak-anak Bali.


Beberapa karya yang cukup dikenal antara lain Bawang dan KesunaĀ (1997), Randu dan SahabatnyaĀ (2002), dan BalingkangĀ (2004). Melalui karya-karya tersebut, tradisi lisan Bali dapat dipelajari oleh generasi lintas daerah dan lintas zaman.


Dedikasinya dalam bidang kebudayaan mendapat pengakuan luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia pernah menerima Penghargaan Sastra Rancage pada 2005, dinobatkan sebagai Maestro Tradisi Lisan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada 2008, serta memperoleh Anugerah Kebudayaan Presiden Republik Indonesia pada 2009.


Penghargaan lainnya antara lain Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia dan Lifetime Achievement Award dari Ubud Writers & Readers Festival pada 2019.


Aktivitas mendongeng yang dijalaninya juga membawanya tampil di berbagai negara.

"Gara-gara dongeng saya pernah diundang ke Afrika Selatan hingga Australia. Sekarang Sanggar Kukuruyuk juga sudah memiliki empat cabang," tutur sang Maestro.


Meski usianya telah lanjut, semangat I Made Taro untuk berkarya tidak pernah surut. Ia masih aktif membina anak-anak maupun para guru melalui berbagai kegiatan budaya dan pendidikan.


Di tengah dominasi gawai dan permainan digital, keberadaan tokoh seperti I Made Taro menjadi pengingat bahwa budaya tradisional tetap memiliki ruang dan nilai penting dalam kehidupan modern.


Melalui dedikasi yang telah dijalaninya selama puluhan tahun, satua, lagu anak, dan permainan tradisional Bali tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus hidup sebagai bagian dari pendidikan budaya bagi generasi penerus.(Che)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya