Institut STTS Kukuhkan Tiga Guru Besar AI Sekaligus, Perkuat Riset untuk Masyarakat
- analisapost

- 21 Agu
- 4 menit membaca
SURABAYA – AnalisaPost | Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (Institut STTS) untuk pertama kalinya memiliki tiga guru besar sekaligus yang memiliki kepakaran di bidang kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Ketiganya akan dikukuhkan pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Ketiga guru besar tersebut yakni Prof. Dr. Ir. Gunawan, M.Kom., guru besar bidang Kecerdasan Artifisial (AI) Computational Linguistics dari Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi S1 Informatika; Prof. Dr. Ir. Hj. Endang Setyati, M.T., guru besar bidang Kecerdasan Artifisial (AI) Computer Vision dari Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi S2 Teknologi Informasi; serta Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., guru besar bidang Kecerdasan Artifisial (AI) Multimodal and Multiplatform Data Analysis dari Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi S1 Sistem Informasi.
Pengukuhan tersebut tidak hanya menjadi penanda pencapaian jenjang akademik tertinggi bagi ketiganya, tetapi juga menjadi momentum bagi Institut STTS untuk memperkuat arah pengembangan riset AI. Kampus tersebut mendorong agar penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Prof. Gunawan mengatakan, jabatan guru besar merupakan puncak jenjang akademik seorang dosen. Karena itu, pencapaian tersebut juga menjadi bagian dari tanggung jawab untuk terus mengembangkan pendidikan dan memberikan kontribusi bagi mahasiswa maupun institusi.
"Ini adalah tanggung jawab yang melekat kepada saya untuk lebih memberikan yang terbaik bagi mahasiswa secara khusus yang kami asuh di iSTTS, baik S1, S2 maupun S3 demi kebaikan bangsa ini,” ujar Prof. Gunawan saat ditemui awak media AnalisaPost seusai konferensi pers pengukuhan guru besar di Kampus Institut STTS, Jumat, (21/8/26).
Dalam bidang penelitian, Prof. Gunawan menekuni Computational Linguistics, yaitu bidang yang mempelajari pengolahan bahasa menggunakan komputasi atau ilmu komputer. Menurutnya, perkembangan bidang tersebut kini dapat dilihat melalui hadirnya berbagai produk AI generatif, seperti ChatGPT dan Gemini.
"Pada tiga tahunan terakhir ini, menggeser riset baik S1, S2 ke arah prompting. Prompt itu apa yang kita tulis ke Gemini atau ChatGPT. Tapi, karena ini kampus IT, prompting-nya ini kita lakukan di dalam cloud, di dalam program komputer," jelasnya.
Sementara itu, Prof. Endang Setyati menekankan bahwa pencapaian sebagai guru besar tidak diraih seorang diri. Berbagai penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukannya selama ini melibatkan mahasiswa, dosen, serta berbagai pihak lainnya.
Prof. Endang memiliki kepakaran di bidang Computer Vision, yakni teknologi AI yang memungkinkan komputer memproses dan memahami informasi visual berupa gambar.
Ia menjelaskan, salah satu penerapan hasil penelitiannya berkaitan dengan pengelompokan gambar produk yang diunggah ke marketplace. Dengan memanfaatkan metode Vision Transfer Learning, sistem dapat membantu mengategorikan produk secara otomatis, mulai dari barang elektronik hingga fesyen.
"Alhamdulillah dari penelitian yang saya lakukan dengan mahasiswa bisa tembus di Q2. Dari bentuk barang itu dipecah-pecah dan dicampur seperti potongan puzzle. Ketika barang itu digabung ini benar-benar kerjaannya vision transfer learning," ungkapnya.
Menurut Prof. Endang, penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan AI dapat dilakukan melalui kolaborasi antara dosen dan mahasiswa. Hasil penelitian tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan akademik, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi teknologi yang memiliki manfaat praktis.
Di sisi lain, Prof. Esther Irawati Setiawan menegaskan bahwa riset AI bukan merupakan bidang baru di lingkungan Institut STTS. Menurutnya, pengembangan teknologi AI di kampus tersebut telah dilakukan sejak 1992 dan terus dikembangkan hingga saat ini.
"Artificial intelligence itu sudah ada lama di kampus kami. Sejak tahun 1992, sebenarnya AI sudah ada di kampus kami,” kata Kepala Program Studi Sistem Informasi Bisnis Institut STTS tersebut.
Prof. Esther menjelaskan, penelitiannya berfokus pada Multimodal and Multiplatform Data Analysis, dengan memanfaatkan teks dan gambar melalui metode transfer learning. Salah satu penerapannya adalah untuk membandingkan dan mendeteksi berita palsu atau hoaks.

Ia mengatakan penelitian tersebut telah dilakukan sejak 2016. Pada tahap awal, penelitian difokuskan pada pendeteksian berita palsu dari sisi teks. Namun, seiring perkembangan teknologi dan pola penyebaran informasi, pendeteksian tidak cukup hanya dilakukan terhadap teks.
"Sebenarnya mulai dari tahun 2016, saya melakukan penelitian. Saya juga dulu bimbingannya Pak Gunawan. Ini sebenarnya seperti chatbot seperti era sekarang. Waktu saya S3 memulai dengan mendeteksi berita palsu dari sisi teks, namun ternyata dalam perkembangan berita palsu tidak hanya teks saja," terangnya.
Menurutnya, perkembangan AI saat ini membuat proses pendeteksian informasi palsu perlu mempertimbangkan lebih banyak bentuk data. Informasi yang beredar di masyarakat tidak hanya berupa tulisan, tetapi juga gambar dan berbagai bentuk konten digital lainnya.
Pengembangan riset AI di Institut STTS pun dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antar-akademisi dengan latar belakang kepakaran yang berbeda. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting untuk menghasilkan penelitian yang lebih komprehensif sekaligus menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.
Pengukuhan tiga guru besar ini sekaligus menegaskan arah Institut STTS dalam memperkuat ekosistem riset dan pendidikan berbasis teknologi.
Dengan kepakaran di bidang Computational Linguistics, Computer Vision, serta Multimodal dan Multiplatform Data Analysis, ketiganya diharapkan dapat memperkuat pengembangan AI sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab bagi pendidikan dan masyarakat. (Che/Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar