ITS dan Konjen AS Dorong Generasi Muda Kembangkan Solusi Digital Lewat ASpire
SURABAYA – analisapost.com | Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Konsulat Jenderal Amerika Serikat (Konjen AS) di Surabaya menutup rangkaian ASpire Eastern Indonesia App Challenge, program yang mendorong generasi muda mengembangkan solusi digital berdasarkan persoalan nyata di masyarakat.

Program yang berlangsung selama delapan bulan tersebut ditutup melalui kegiatan luring di Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS, Kamis (17/9).
ASpire merupakan program pengembangan talenta digital bagi generasi muda berusia 18-25 tahun yang memiliki ketertarikan terhadap pengembangan aplikasi dan inovasi berbasis teknologi. Sebanyak 37 peserta dari Surabaya, Malang, Makassar, Ambon, serta sejumlah daerah lain di Jawa Timur mengikuti program tersebut.
Dalam pelaksanaannya, peserta diarahkan mengembangkan aplikasi berbasis web menggunakan pendekatan case-based learning. Rangkaian kegiatan yang dimulai pada Januari 2026 itu menghasilkan 13 aplikasi berbasis web.
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD mengatakan, pengalaman yang diperoleh peserta selama mengikuti program diharapkan menjadi bekal untuk mengembangkan inovasi digital yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Saya berharap pengalaman dan masukan yang diperoleh para peserta selama ini dapat menjadi bekal untuk terus mengembangkan inovasi digital yang bermanfaat bagi masyarakat," ujar Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut.
Konjen AS Soroti Pemanfaatan Teknologi dan AI
Public Affairs Officer Konjen AS di Surabaya Courtney J Woods mengapresiasi kolaborasi dengan ITS dalam pelaksanaan ASpire. Ia berharap kerja sama tersebut dapat dilanjutkan melalui berbagai program lain pada masa mendatang.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada ITS atas kerja sama dan dukungan selama program berlangsung.
"Semoga Konjen AS dan ITS dapat menjalin lebih banyak kerja sama ke depannya," kata Woods.
Menurut Woods, perkembangan teknologi dan kemudahan akses terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang bagi masyarakat di Indonesia maupun Amerika Serikat untuk mengembangkan solusi atas berbagai persoalan. Hal tersebut menjadi salah satu alasan dukungan Amerika Serikat terhadap program ASpire.
Woods yang turut menjadi juri dalam program tersebut mengatakan dirinya dapat melihat secara langsung berbagai gagasan yang dikembangkan peserta. Ia juga memperoleh pengalaman dengan mempelajari persoalan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Barat.
Menurut Woods, salah satu aspek penting dalam pengembangan solusi digital adalah keterlibatan masyarakat dalam menentukan persoalan yang hendak diselesaikan.
"Bagi saya, ini kesempatan yang baik bagi masyarakat untuk menceritakan kisah mereka sendiri. Ketika mereka dapat membuat aplikasi dan menyelesaikan masalah berdasarkan masukan dari komunitasnya sendiri, peluang solusinya benar-benar berhasil akan lebih besar," terangnya kepada awak media AnalisaPost.

Sejumlah gagasan peserta berangkat dari kebutuhan yang ditemukan langsung di lapangan, mulai dari pengembangan sektor pariwisata, penanganan sampah, hingga teknologi yang membantu petani meningkatkan produksi cabai.
Woods mengatakan pengembang teknologi perlu memahami kebutuhan pengguna dan tidak hanya mengandalkan asumsi dari pihak luar. Menurutnya, komunikasi dengan komunitas calon pengguna menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
"Beberapa ide dari peserta merupakan persoalan yang sangat nyata dan praktis. Mereka berbicara dengan anggota komunitas dan bertanya, apa yang kalian ingin teknologi lakukan untuk kalian?" ujarnya.
Ia juga menyoroti penggunaan perangkat seluler sebagai salah satu sarana untuk memperluas akses masyarakat terhadap teknologi. Menurut Woods, telepon seluler dapat menjadi sarana yang lebih mudah dijangkau karena semakin banyak aktivitas dilakukan melalui aplikasi dan media sosial dibandingkan komputer desktop atau laptop.
"Kalau mereka memiliki telepon dan dapat mengunduh aplikasi, akan jauh lebih mudah bagi mereka untuk menggunakan teknologi," katanya.
Peserta Kembangkan Solusi untuk Pertanian dan UMKM
Salah satu tim yang meraih penghargaan Best Web-Apps adalah TANIGA atau Tani dan Niaga. Tim tersebut mengembangkan situs web berbentuk marketplace yang mempertemukan petani dengan pembeli secara langsung.
Tim TANIGA terdiri atas tiga anggota yang berasal dari kolaborasi siswa SMA Negeri 1 Kandangan, Kediri, dan mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).
Ketua tim, Zulfa Fahmi, mengatakan gagasan TANIGA berangkat dari persoalan pemasaran hasil pertanian yang selama ini masih melibatkan tengkulak sebagai perantara.
"Melalui platform TANIGA, pembeli dapat berhubungan langsung dengan petani sehingga diharapkan proses penyaluran hasil panen menjadi lebih mudah dan harga dapat lebih terjangkau," ujar siswa SMA Negeri 1 Kandangan tersebut.
Gagasan lain dikembangkan Muhammad Anwar Syafriawan, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, melalui aplikasi SAPI.
SAPI dirancang untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melakukan pencatatan bisnis, termasuk stok, pemasukan, dan transaksi penjualan.
"Dari usaha-usaha itu mereka paling butuh catatan. Soalnya dalam penjualan bisnis itu paling susah itu mencatatnya, mulai dari stok, pemasukan, dan lain-lain," ujar Anwar.
Salah satu konsep yang ditawarkan SAPI adalah sistem harga berlangganan adaptif berdasarkan omzet pengguna. Melalui skema tersebut, UMKM dengan omzet lebih rendah memperoleh tarif berlangganan yang lebih ringan, sedangkan pengguna dengan omzet lebih besar dikenakan tarif yang lebih normal.
"Kalau omzet antara nol rupiah sampai Rp2 juta, biayanya paling rendah. Tapi kalau omzetnya sudah Rp100 juta, biayanya normal," jelasnya.
Menurut Anwar, konsep tersebut diharapkan dapat membantu UMKM yang baru memulai usaha maupun pelaku usaha yang mengalami penurunan omzet agar tetap dapat menggunakan layanan pencatatan tanpa terbebani biaya berlangganan.
Peserta Harapkan ASpire Berlanjut
Kompetisi ASpire mempertemukan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk mahasiswa dan pelajar SMA. Anwar menilai keterlibatan pelajar dalam program tersebut memberikan pengalaman lebih awal mengenai inovasi dan pengembangan teknologi.
"Menurut saya acara ini hebat. Karena mereka dari muda sudah mulai duluan, sudah tahu duluan. Jadi sudah tahu medan. Sementara saya sudah semester akhir, mungkin ketika mereka nanti kuliah dan sudah semester akhir, bisa jadi lebih hebat daripada saya," katanya.
Ia mengakui mahasiswa, khususnya yang telah memasuki semester akhir, kemungkinan memiliki pengalaman lebih banyak dalam mengikuti kegiatan akademik maupun pengembangan teknologi. Namun, pengalaman tersebut menurutnya bukan menjadi ukuran kemampuan peserta muda untuk berkembang di masa depan.

Anwar juga berharap penyelenggaraan ASpire dapat terus dilakukan pada tahun-tahun berikutnya. Ia menilai penyelenggaraan berikutnya dapat melibatkan lebih banyak peserta sehingga persaingan dan gagasan yang dihasilkan semakin beragam.
"Saya merasa masih ada sedikit saingan, kurang saingan. Soalnya mungkin ini akan acara pertama. Kalau sudah dipertahankan dua tahun, harusnya saingannya sudah lebih berat, idenya mungkin lebih matang," katanya.
Rangkaian ASpire juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 mengenai Pendidikan Berkualitas serta tujuan ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Sebanyak 13 aplikasi yang dihasilkan dalam program tersebut menjadi bagian dari karya peserta dalam mengembangkan solusi berbasis teknologi. Penyelenggara berharap karya-karya tersebut dapat terus dikembangkan setelah program berakhir sehingga manfaatnya dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com






Komentar