Konjen AS Dorong Pemanfaatan AI untuk Solusi Persoalan Masyarakat melalui ASpire
SURABAYA - analisapost.com | Konsulat Jenderal Amerika Serikat (Konjen AS) di Surabaya mendorong pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu masyarakat mengembangkan solusi atas berbagai persoalan di lingkungannya.

Dorongan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam program ASpire Eastern Indonesia App Challenge. Program pengembangan talenta digital berlangsung selama delapan bulan sejak Januari 2026 tersebut resmi ditutup melalui kegiatan luring di Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS, Kamis (17/9).
Public Affairs Officer Konjen AS di Surabaya Courtney J Woods mengatakan perkembangan teknologi dan semakin mudahnya akses terhadap AI membuka peluang bagi masyarakat di Indonesia maupun Amerika Serikat untuk mengembangkan solusi atas berbagai persoalan.
Menurut Woods, peluang tersebut menjadi salah satu alasan dukungan Amerika Serikat terhadap pelaksanaan ASpire.
Woods yang turut menjadi juri dalam program tersebut mengatakan dirinya dapat melihat secara langsung berbagai gagasan yang dikembangkan peserta. Ia juga memperoleh pengalaman dengan mempelajari persoalan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Barat.
"Bagi saya, ini kesempatan yang baik bagi masyarakat untuk menceritakan kisah mereka sendiri. Ketika mereka dapat membuat aplikasi dan menyelesaikan masalah berdasarkan masukan dari komunitasnya sendiri, peluang solusinya benar-benar berhasil akan lebih besar," terangnya kepada awak media AnalisaPost.
Woods menilai pengembangan teknologi perlu diawali dengan pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat yang menjadi calon pengguna. Menurutnya, pengembang tidak cukup hanya mengandalkan asumsi, tetapi perlu berkomunikasi langsung dengan komunitas.
"Beberapa ide dari peserta merupakan persoalan yang sangat nyata dan praktis. Mereka berbicara dengan anggota komunitas dan bertanya, apa yang kalian ingin teknologi lakukan untuk kalian?" ujarnya.
Sejumlah gagasan peserta dalam ASpire, kata Woods, berangkat dari persoalan yang ditemukan di lapangan. Gagasan tersebut antara lain berkaitan dengan pariwisata, penanganan sampah, serta teknologi yang membantu petani meningkatkan produksi cabai.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam proses tersebut penting agar teknologi yang dikembangkan memiliki tujuan dan sasaran pengguna yang jelas.
"Dengan mendengarkan peserta dan memahami bahwa mereka memiliki keahlian serta dapat memberi tahu apa yang sebenarnya diinginkan generasi muda, kemudian mereka juga turun ke masyarakat dan bertanya apa yang dibutuhkan, komunikasi seperti itulah yang harus terjadi untuk memastikan kita mengembangkan teknologi untuk tujuan dan orang yang tepat," tuturnya.
Woods juga menyoroti penggunaan perangkat seluler dalam memperluas akses terhadap teknologi. Menurutnya, telepon seluler dapat menjadi sarana yang lebih mudah dijangkau karena semakin banyak aktivitas masyarakat dilakukan melalui aplikasi dan media sosial.
"Kalau mereka memiliki telepon dan dapat mengunduh aplikasi, akan jauh lebih mudah bagi mereka untuk menggunakan teknologi," katanya.
ASpire diikuti 37 peserta berusia 18-25 tahun dari Surabaya, Malang, Makassar, Ambon, dan sejumlah daerah lain di Jawa Timur. Peserta mengembangkan aplikasi berbasis web dengan pendekatan case-based learning. Dari rangkaian program tersebut, dihasilkan 13 aplikasi.
Woods mengapresiasi kerja sama dengan ITS dalam pelaksanaan program tersebut. Ia berharap kolaborasi antara Konjen AS dan ITS dapat dilanjutkan melalui berbagai kegiatan lain pada masa mendatang.
"Semoga Konjen AS dan ITS dapat menjalin lebih banyak kerja sama ke depannya," kata Woods.
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD mengatakan pengalaman dan masukan yang diperoleh peserta selama mengikuti ASpire diharapkan dapat menjadi bekal untuk mengembangkan inovasi digital yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Saya berharap pengalaman dan masukan yang diperoleh para peserta selama ini dapat menjadi bekal untuk terus mengembangkan inovasi digital yang bermanfaat bagi masyarakat," ujar Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut.
Salah satu tim yang memperoleh penghargaan Best Web-Apps adalah TANIGA atau Tani dan Niaga. Tim yang terdiri atas siswa SMA Negeri 1 Kandangan, Kediri, dan mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) tersebut mengembangkan situs marketplaceĀ yang mempertemukan petani dengan pembeli.
Ketua tim TANIGA, Zulfa Fahmi, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari persoalan pemasaran hasil pertanian yang masih melibatkan tengkulak sebagai perantara.
"Melalui platform TANIGA, pembeli dapat berhubungan langsung dengan petani sehingga diharapkan proses penyaluran hasil panen menjadi lebih mudah dan harga dapat lebih terjangkau," ujar Zulfa.

Contoh lainnya adalah aplikasi SAPI yang dikembangkan Muhammad Anwar Syafriawan, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Aplikasi tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melakukan pencatatan bisnis, termasuk stok, pemasukan, dan transaksi penjualan.
Salah satu konsep yang ditawarkan SAPI adalah sistem harga berlangganan adaptif berdasarkan omzet pengguna. UMKM dengan omzet lebih rendah memperoleh tarif berlangganan yang lebih ringan, sedangkan pengguna dengan omzet lebih besar dikenakan tarif yang lebih tinggi.
"Kalau omzet antara nol rupiah sampai Rp2 juta, biayanya paling rendah. Tapi kalau omzetnya sudah Rp100 juta, biayanya normal," jelas Anwar.
Rangkaian ASpire juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development GoalsĀ (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan tujuan ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Melalui program tersebut, Konjen AS dan ITS mempertemukan pengembangan talenta digital dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Sebanyak 13 aplikasi yang dihasilkan menjadi bagian dari karya peserta yang diharapkan dapat terus dikembangkan setelah program berakhir.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar