Ketika Besi Menjadi Medium Seni, Henry Siswanto Pamerkan Karya Tiga Dimensi di Surabaya
SURABAYA- analisapost.com | Berawal dari kegemaran menggambar sejak kecil dan pengalamannya sebagai tukang las, Henry Siswanto mengembangkan ketertarikannya terhadap logam menjadi karya seni tiga dimensi. Pelat besi, termasuk material sisa dan bekas dari bengkel, diolah menjadi berbagai bentuk patung dengan detail yang beragam.

Karya-karya tersebut dipamerkan dalam Art Work, Painting, Chinese Ceramic & Sculptures Exhibition di Linear Atrium, Ground Floor, Ciputra World Mall Surabaya. Pameran yang dipersembahkan SUROBOYO VINTAGE Community bersama Ciputra World Surabaya itu berlangsung pada 15-27 September 2026.
Pameran menghadirkan sekitar 30 sculpture berbahan besi, serta lukisan dan koleksi keramik Tiongkok. Beragam karya tersebut ditempatkan dalam satu ruang pamer dengan medium dan karakter yang berbeda.
Henry yang memiliki latar belakang sebagai architectural engineer mengembangkan ketertarikannya pada bentuk dan struktur melalui pengalaman teknik serta kegemarannya menggambar. Pengetahuan mengenai struktur, presisi, dan detail kemudian diterapkan dalam proses pembuatan patung berbahan logam.
Ketertarikan Henry terhadap patung tumbuh sejak masa kanak-kanak. Ia mengaku terinspirasi setelah melihat patung-patung di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Keinginan untuk memiliki patung berukuran kecil yang saat itu tidak mudah ditemukan kemudian mendorongnya untuk membuat sendiri.
“Sejak kecil lihat patung yang berada di KBS. Kita ingin beli yang kecil-kecil, tapi tidak ada yang jual. Akhirnya saya punya cita-cita ingin membuat patung itu,” ujar Henry.
Keinginan tersebut diwujudkan secara bertahap. Henry awalnya membuat patung berukuran kecil, kemudian mulai mengembangkan karya dengan ukuran lebih besar. Eksplorasi tersebut semakin berkembang saat pandemi Covid-19 ketika ia bersama tim mencoba membuat patung dengan berbagai ukuran dan memanfaatkan material bekas, termasuk sisa komponen kendaraan.
Dalam berkarya, Henry menggunakan pelat besi dan material sisa bengkel. Sebagian karya juga dibuat berdasarkan pesanan atau custom dari klien.
“Konsepnya sebenarnya dari yang ada di bayangan saya. Karena basic saya tukang las, saya pakai bahan-bahan sisa bengkel. Ada besi-besi bekas yang saya pakai, lalu sebagian juga pesanan orang,” kata Henry kepada awak media AnalisaPost, Jumat (18/9/2026).

Selain besi, Henry menggunakan kaca hias atau stained glass pada sejumlah karya. Beberapa karya yang ditampilkan antara lain Kujaku, Vertical Root, Tangled, Ascended Temple, Merlin, Parametric, Icarus, Sentinel, Hermit, Iron Bee, Hop, Serenity, dan Jian Mu Tree yang diwujudkan sebagai pintu dengan konsep pohon kehidupan.
Tema yang dihadirkan juga beragam, mulai dari malaikat, burung merak, naga, phoenix, robot, hingga bentuk yang terinspirasi dari mitologi dan imajinasi masa kecil. Menurut Henry, sebagian karya muncul dari gagasan spontan, sementara lainnya dibuat berdasarkan permintaan klien.
Baca juga: Pelat Besi Disulap Menjadi Karya Seni, Henry Siswanto Gelar Pameran Sculpture di Surabaya
Tidak semua karya tersebut sejak awal memiliki makna simbolik tertentu. Sejumlah karya justru bermula dari gagasan yang muncul secara spontan, kemudian dituangkan melalui sketsa dan dikembangkan menjadi bentuk tiga dimensi.
“Biasanya langsung sketsa, terus saya gambar per bagian. Kalau ada waktu luang, saya buat,” ujarnya.
Setelah sketsa selesai, proses pembuatan dilanjutkan dengan penyusunan kerangka struktural, pemotongan pelat besi, pembentukan material, plating atau pelapisan pelat, hingga tahap finishing. Untuk karya yang memiliki banyak detail, setiap bagian pelat dipotong dan dibentuk sebelum dirangkai sesuai rancangan.
Pengerjaan karya dilakukan secara tim. Henry berperan sebagai penggagas dan perancang, sedangkan anggota tim menangani bagian sesuai keahlian masing-masing, termasuk membentuk dan mengolah pelat besi.
“Teman-teman itu ada yang spesialis mengemplang besi. Semua ada bagiannya masing-masing,” jelasnya.
Sebanyak lima orang terlibat dalam pengerjaan karya. Waktu penyelesaian setiap patung berbeda-beda, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan. Ada karya yang dapat diselesaikan dalam sekitar satu minggu, dua bulan, hingga satu tahun.
Salah satu karya yang membutuhkan waktu panjang adalah Icarus, patung berbentuk malaikat yang diselesaikan sekitar satu tahun. Karya tersebut menjadi salah satu yang paling disukai Henry.
“Dari semua karya yang saya paling suka yaitu malaikat,” katanya.
Selain Icarus, Henry menampilkan karya bertema Borobudur dengan konsep melayang. Gagasan tersebut terinspirasi dari gambaran pulau-pulau melayang dalam film kartun yang pernah dilihatnya saat kecil. Karya tersebut dikerjakan sekitar dua hingga tiga bulan.
Karya berukuran besar juga menjadi bagian dari pameran. Salah satunya memiliki tinggi hampir lima meter dengan bobot sekitar 500 kilogram dan seluruhnya menggunakan pelat besi. Karya tersebut dirancang tidak hanya sebagai objek seni, tetapi juga dapat difungsikan sebagai elemen pintu rumah.
Berbentuk menyerupai gapura, karya itu memiliki unsur pohon pada desainnya. Phoenix dan naga turut menjadi bagian dari ornamen gerbang yang mengangkat konsep Jian Mu Tree atau pohon kehidupan yang merujuk pada kebudayaan Tiongkok.
Sementara itu, karya berukuran lebih kecil juga ditampilkan, salah satunya kepala Buddha dengan bobot sekitar 40 kilogram. Keragaman ukuran tersebut menjadi bagian dari eksplorasi Henry dalam mengolah material besi menjadi karya tiga dimensi.
Henry telah berkecimpung dalam seni dekoratif sejak 2009. Perjalanannya berawal dari pekerjaan sebagai tukang las yang mengerjakan berbagai aksesori rumah. Di sela pekerjaannya, ia mulai membuat bentuk-bentuk dari besi berdasarkan gagasan yang muncul dalam pikirannya.
Seiring waktu, kegiatan tersebut berkembang menjadi proses berkarya yang lebih serius. Karya yang sebelumnya dibuat untuk kebutuhan dekorasi pribadi kemudian berkembang menjadi pesanan khusus dari klien.
Dalam mengembangkan kemampuan dan teknik, Henry juga berkomunikasi dengan sejumlah perajin dan seniman dari daerah lain, seperti Bantul dan Bogor. Pertukaran informasi tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan teknik dalam mengolah material logam.
Karya Henry telah dipamerkan di Surabaya dan Jakarta. Sebagian karyanya juga telah menjadi koleksi, termasuk karya yang dipesan dari luar negeri. Ia menyebut pesanan terjauh datang dari Singapura dan Australia.
Bagi Henry, besi dapat digunakan tidak hanya untuk kebutuhan industri dan konstruksi, tetapi juga sebagai medium untuk menerjemahkan gagasan ke dalam bentuk seni. Pengalaman sebagai tukang las menjadi bagian dari proses tersebut, sementara kemampuan menggambar digunakan untuk merancang bentuk sebelum diwujudkan dalam material logam.
Sejumlah karya bahkan tetap memiliki fungsi praktis selain sebagai dekorasi, seperti pintu atau elemen pengaman rumah.

“Selain menjadi dekorasi, sejumlah karya juga tetap dapat memiliki fungsi praktis, seperti elemen pengaman rumah,” katanya.
Pameran di Ciputra World Surabaya menjadi kesempatan bagi Henry untuk memperkenalkan karya sculpture berbahan besi kepada masyarakat. Ia menyebut peminat seni instalasi dan sculpture di Surabaya masih belum terlalu banyak.
Bagi Henry, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan karya berbahan besi adalah ketahanan material, terutama untuk karya yang ditempatkan di luar ruangan. Karena itu, bagian patung dilapisi bahan antikarat untuk mengurangi risiko korosi akibat paparan cuaca.
Perawatan untuk karya yang ditempatkan di luar ruangan dilakukan secara berkala. Henry menyebut perawatan dapat dilakukan sekitar tiga hingga lima tahun sekali, sedangkan karya yang berada di dalam ruangan relatif lebih sederhana dan dapat dirawat dengan membersihkannya secara rutin.
Salah satu pengunjung, Rebeka, mahasiswi Telkom Surabaya yang datang dari Medan mengatakan pameran tersebut memberikan pengalaman berbeda baginya karena menampilkan karya berbahan besi.
"Baru pertama kali saya melihat pameran seperti ini. Semua karya ini luar biasa," ujar Rebeka.
Melalui pameran tersebut, Henry memperlihatkan proses pengolahan material besi dari bahan yang digunakan dalam pekerjaan teknik menjadi karya seni tiga dimensi. Berbagai bentuk yang dihasilkan menunjukkan perpaduan antara keterampilan mengolah logam, pengalaman teknis, dan gagasan visual yang dikembangkan melalui sketsa.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com






Komentar