Lewat Kanvas, Seniman Maknai Kebangkitan Nasional di Museum Dr. Soetomo Surabaya
- analisapost

- 3 hari yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, sejumlah seniman menggelar pameran lukisan di Gedung Nasional Indonesia, Museum Dr. Soetomo, Jalan Bubutan Nomor 85ā87, Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu pagi (20/5/26)

Kegiatan tersebut digelar seusai upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Pameran ini menjadi agenda rutin para seniman sebagai ruang apresiasi sekaligus sarana mengenang nilai perjuangan bangsa melalui karya seni.
Dalam pameran tersebut, para seniman menampilkan beragam objek lukisan. Tema yang diangkat antara lain sejarah, alam, kehidupan masyarakat, hingga potret Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Keberagaman tema itu menunjukkan bahwa seni lukis dapat menjadi media untuk merekam ingatan sejarah, kehidupan sosial, dan keindahan alam.
Menariknya, beberapa karya para seniman mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Apresiasi tersebut dinilai menjadi penyemangat bagi para pelukis untuk terus berkarya dan menghadirkan karya yang memiliki nilai sejarah maupun estetika.
Salah satu pelukis, Nova, mengaku senang karena karyanya mendapat apresiasi. Dalam pameran itu, Nova membawa dua lukisan. Salah satunya berjudul āKetapang Straatā, menggunakan media watercolor on paperĀ berukuran 80 x 60 cm.
Lukisan āKetapang StraatāĀ menampilkan suasana kawasan lama dengan bangunan bernuansa kolonial. Dalam karya tersebut tampak bangunan langgar atau masjid dengan menara tinggi, atap berwarna merah, serta suasana jalan yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa lampau. Kehadiran figur manusia, pedati, dan arsitektur lama memperkuat kesan historis dalam lukisan tersebut.
Menurut Nova, karya itu terinspirasi dari foto lama yang kemudian ia adaptasikan ke dalam ukuran lebih besar agar dapat dinikmati secara estetik.
āSaya cukup senang sekali karena lukisan saya diapresiasi. Lukisan ini membutuhkan waktu agak lama. Inspirasinya dari foto lama, kemudian saya adaptasikan ke bentuk yang lebih besar agar bisa dinikmati secara estetik berdasarkan komposisi,ā ceritanya kepada awak media AnalisaPost.
Nova menjelaskan, lukisan tersebut menceritakan tentang Langgar Bafadhol di kawasan Ampel, Surabaya Utara, pada masa kolonial sekitar tahun 1914. Pada masa itu, bangunan langgar masih tampak dengan warna-warna terang. Suasana masyarakat yang ditampilkan juga memperlihatkan perpaduan budaya Jawa dan Timur Tengah.

āWaktu itu langgarnya masih berwarna terang. Masyarakatnya menggunakan pakaian Jawa yang bercampur dengan nuansa Timur Tengah, seperti sorban, sarung, sampai selendang yang dilingkarkan di dada,ā kata Nova.
Nova berharap kegiatan pameran seperti ini dapat terus digelar. Selain menjadi ruang bagi seniman untuk menampilkan karya, kegiatan tersebut juga dinilai penting untuk mengingat kembali jasa para pahlawan yang telah berjuang bagi bangsa.
āSaya berharap kegiatan seperti ini terus ada agar kita bisa mengenang jasa para pahlawan yang berjuang untuk negara kita. Dari sisi seniman, ini menjadi salah satu ajang agar karya kami diapresiasi dan bisa ditampilkan kepada masyarakat,ā ujarnya.
Sementara itu, pelukis Hamid Nabhan juga turut menampilkan dua karya dalam pameran tersebut. Salah satu karyanya berjudul āPetani di Tenggerā, menggunakan media acrylic on canvasĀ berukuran 90 x 70 cm.
Lukisan āPetani di TenggerāĀ menggambarkan dua orang petani yang sedang beraktivitas di lahan pertanian. Dengan latar alam pegunungan dan suasana pedesaan, karya tersebut menonjolkan kehidupan masyarakat agraris yang dekat dengan alam. Sapuan warna yang lembut menghadirkan kesan sederhana, tenang, dan menggambarkan kerja keras petani dalam kehidupan sehari-hari.
Hamid mengatakan, karya-karyanya selama ini banyak mengangkat tema alam. Meski karyanya belum mendapat apresiasi dalam pameran tersebut, ia tetap memandang kegiatan ini sebagai ruang penting bagi para seniman.
āKali ini saya membawa dua karya lukisan. Seperti biasa, karya saya banyak bercerita tentang alam. Cuma karya saya belum diapresiasi, mungkin karena bukan cerita sejarah,ā tutur Hamid Nabhan.
Menurut Hamid, pameran tersebut diikuti sekitar 10 seniman lukis. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
āIni ada 10 seniman dan kegiatan ini rutin dalam rangka memperingati Kebangkitan Nasional,ā terangnya.
Melalui pameran lukis ini, para seniman berharap karya seni tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga dapat menjadi media refleksi bagi masyarakat. Lukisan-lukisan yang ditampilkan menghadirkan beragam pesan, mulai dari sejarah, perjuangan, kehidupan sosial, hingga hubungan manusia dengan alam.
Pameran tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peringatan Hari Kebangkitan Nasional dapat dimaknai melalui berbagai cara, termasuk lewat seni rupa.
Bagi para seniman, karya lukis menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam merawat ingatan kolektif bangsa dan menumbuhkan semangat kebangsaan di tengah masyarakat.(Che)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar