top of page

Megawati Sentil Penanganan Abrasi, Ingatkan Kementerian Jangan Bekerja Sepotong-sepotong

6 menit yang lalu
2 menit membaca

BADUNG - analisapost.com | Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri, menekankan pentingnya penanganan abrasi pantai secara terpadu dengan melibatkan kementerian, lembaga riset, akademisi, dan pemerintah daerah. Hal itu disampaikan saat meninjau kondisi abrasi di Pantai Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (11/10/2026) siang.

Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri
Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri (Foto: Ist)

Dalam kunjungan tersebut, Megawati didampingi Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta. Ia mengingatkan bahwa penanganan abrasi harus mempertimbangkan karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, sehingga tidak bisa dilakukan secara parsial.


"Orang-orang pintar di lembaga, kementerian, harus memahami bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Jadi jangan berpikir seperti menangani benua atau daratan kontinental," tegasnya.


Ia juga meminta seluruh pemangku kepentingan mengesampingkan ego sektoral dan mengedepankan kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan untuk mencari solusi penanganan abrasi.


"Jadi kerjanya jangan sepotong-sepotong," ujarnya.


Selain pendekatan ilmiah, Megawati mendorong penerapan kearifan lokal Bali, khususnya filosofi Tri Hita Karana, sebagai landasan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Menurutnya, nilai tersebut relevan untuk mendukung pelestarian lingkungan dan keberlanjutan kawasan pesisir.


Megawati turut menyoroti ancaman perubahan iklim, termasuk pemanasan global dan pencairan es di kutub, yang berpotensi memperburuk kondisi pesisir di negara kepulauan seperti Indonesia. Ia mendorong para ilmuwan dan akademisi memperkuat riset serta mengembangkan inovasi teknologi untuk menghasilkan solusi konkret.


"Ingat, ancaman dari global warming, pencairan es di kutub kian terasa bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Bertahun-tahun lalu sudah dibahas dan kita sebagai penerus harus mampu mencari solusi terbaik," katanya.


Abrasi Ancam Infrastruktur dan Pariwisata Pantai Kuta

Abrasi di Pantai Kuta berdampak pada kondisi fisik pantai, fasilitas publik, serta aktivitas pariwisata dan perekonomian masyarakat. Pada 2026, kondisi tersebut dilaporkan semakin mengkhawatirkan akibat cuaca ekstrem dan gelombang laut yang kuat.


Kemunduran garis pantai diperkirakan mencapai 1,9 meter per tahun, sehingga kawasan berpasir yang dimanfaatkan wisatawan semakin menyempit. Terjangan gelombang juga menyebabkan kerusakan sejumlah fasilitas, termasuk jalur pejalan kaki, tembok pembatas, dan area aktivitas pedagang.


Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum Bidang Hubungan Antarlembaga, Triono Junoasmono, mengatakan pemerintah terus mengupayakan penanganan abrasi melalui pembangunan infrastruktur pengaman pantai.


Salah satu upaya tersebut adalah pembangunan pemecah gelombang (breakwater) di bagian selatan Pantai Kuta oleh Balai Wilayah Sungai bersama pemerintah daerah. Infrastruktur ini diharapkan mampu meredam energi gelombang laut dan mengurangi dampak abrasi terhadap kawasan pesisir.


"Pantai di Bali adalah aset strategis, bukan sekadar untuk wisata, tetapi juga menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat," ungkapnya.


Sekitar 30 Persen Garis Pantai Bali Terdampak Abrasi

Triono mengungkapkan, sekitar 30 persen dari total garis pantai Bali yang panjangnya lebih dari 1.300 kilometer telah terdampak abrasi. Pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk menangani sekitar 85 kilometer garis pantai.


Ia berharap kunjungan Megawati bersama jajaran pemerintah dan pemangku kepentingan terkait dapat memperkuat koordinasi serta mempercepat penanganan abrasi di Bali.


"Dari 30 persen dari 1.300 kilometer lebih garis pantai di Bali yang terkena abrasi, kami masih menyisakan PR sepanjang 85 kilometer untuk ditangani. Mudah-mudahan dengan kunjungan Ibu Ketua Dewan Pengarah BRIN dan pihak terkait lainnya bisa segera diselesaikan," katanya.


Peninjauan tersebut turut dihadiri Wakil Kepala BRIN Prof. Amarulla Octavian, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, serta Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta.(Dwa)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya