top of page

Penjual Cilok Keliling Asal Pasuruan Jadi Jemaah Haji Tertua di Embarkasi Surabaya

Diperbarui: 7 menit yang lalu

Di tengah keterbatasan ekonomi dan usia yang tak lagi muda, seorang penjual cilok keliling asal Pasuruan membuktikan bahwa ketekunan dan harapan mampu menembus batas. Pada usia 85 tahun, Mislicha Kasib akhirnya berangkat ke Tanah Suci, menjadikannya jemaah haji tertua di Embarkasi Surabaya tahun ini.

Ibu Mislicha Kasib, calon jemaah haji tertua Embarkasi Surabaya asal Pasuruan, naik haji berkat menyisihkan uang dari berdagang cilok, Jumat (24/6/2026). (Foto: Dok.MCH)
Ibu Mislicha Kasib, calon jemaah haji tertua Embarkasi Surabaya asal Pasuruan, naik haji berkat menyisihkan uang dari berdagang cilok, Jumat (24/6/2026). (Foto: Dok.MCH)

SURABAYA - analisapost.com | Seorang penjual cilok keliling asal Kota Pasuruan, Mislicha Kasib (85), tercatat sebagai calon jemaah haji tertua di Embarkasi Surabaya tahun 2026. Di usia lanjut, ia berhasil mewujudkan impian menunaikan ibadah haji setelah bertahun-tahun menabung dari hasil berjualan.


Mislicha yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 10 tiba di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) pada Kamis (23/4/2026). Ia dijadwalkan berangkat ke Arab Saudi melalui Bandara Internasional Juanda pada Jumat (24/4/2026) pukul 20.20 WIB.


Keberangkatan Mislicha merupakan hasil dari ketekunan dalam menyisihkan penghasilan sehari-hari. Selama ini, ia berjualan cilok keliling di wilayah Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari. Dari jumlah tersebut, ia rutin menabung Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, serta mengikuti arisan sebagai tambahan biaya.


“Penghasilan harian saya sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. Setiap hari saya tabung Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Selain itu, saya juga ikut arisan untuk tambahan biaya,” ujar Mislicha, Jumat (24/4/2026).


Upaya tersebut membuahkan hasil pada 2017, ketika Mislicha mampu mendaftar haji dengan setoran awal sebesar Rp25 juta. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk membesarkan delapan anak seorang diri setelah suaminya meninggal dunia.


Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi tekadnya. Baginya, berjualan cilok bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sebagai ikhtiar untuk dapat menunaikan ibadah haji.


Pada musim haji 2026, Mislicha berangkat bersama putri bungsunya, Mariatul Kibtiyah (35). Mariatul yang mendaftar pada 2020 dapat berangkat tahun ini melalui skema penggabungan mahram. Kehadiran putrinya diharapkan dapat mendampingi dan membantu kelancaran ibadah Mislicha di Tanah Suci.


Sementara itu, pihak Embarkasi Surabaya menyatakan akan memberikan layanan prioritas bagi jemaah lanjut usia. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh jemaah, khususnya lansia, dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan lancar.(*)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya