Universitas Ciputra Gelar Lomba Poster Nasional 2026, Angkat Tokoh Kebangsaan yang Terlupakan
- analisapost

- 12 Jun
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Universitas Ciputra (UC) Surabaya sukses menyelenggarakan Lomba Poster Nasional 2026 bertema "Tokoh Kebangsaan yang Terlupakan", sebuah ajang yang bertujuan mengenalkan kembali tokoh-tokoh bangsa yang kurang mendapat perhatian dalam narasi sejarah, sekaligus menanamkan nilai-nilai Pancasila dan kebinekaan kepada generasi muda.

Puncak kegiatan berupa pameran dan penjurian finalis berlangsung di Integrity Hall, UC Main Building lantai 7, Universitas Ciputra, Surabaya, pada 9 Juni 2026. Kegiatan dilaksanakan secara hybrid dengan melibatkan peserta dan dewan juri yang hadir secara langsung maupun daring.
Kepala Departemen Kajian Humaniora dan Interdisipliner Universitas Ciputra, Dr. Johan Hasan, mengatakan lomba ini mendorong mahasiswa untuk menggali pemikiran, gagasan, serta aktivitas sosial-kemanusiaan dari tokoh-tokoh yang selama ini kurang dikenal masyarakat, termasuk mereka yang tidak banyak tercatat dalam buku sejarah.
Menurutnya, konsep "tokoh yang terlupakan" tidak hanya terbatas pada figur yang belum dikenal, tetapi juga mencakup tokoh yang kontribusinya belum mendapatkan perhatian yang layak dalam narasi sejarah nasional.
"Melalui lomba ini, mahasiswa didorong untuk bersikap kritis dan objektif dalam menelusuri jejak tokoh yang mereka angkat. Mereka juga dituntut menggunakan sumber-sumber terpercaya serta membandingkan berbagai referensi agar karya yang dihasilkan memiliki dasar yang kuat," ujar Johan dalam sambutannya saat sesi penjurian finalis.
Lomba Poster Nasional 2026 diikuti mahasiswa dari 15 perguruan tinggi di Indonesia, di antaranya Universitas Bina Nusantara Jakarta, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Malang, Universitas PGRI Banyuwangi, IFTK Ledalero Nusa Tenggara Timur, Universitas Riau Kepulauan, Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, Politeknik Negeri Samarinda, Universitas Paramadina, Universitas Multi Data Palembang, Universitas Jember, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Yogyakarta, serta Universitas Ciputra.
Adapun dewan juri terdiri atas lima pakar dari berbagai bidang, yakni sejarawan independen Didi Kwartanada, pakar sosiolinguistik Dede Oetomo, Ph.D., sejarawan Universitas Airlangga Dr. Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, sejarawan Dr. Yerry Wirawan, serta peneliti KITLV Leiden Adrian Perkasa, Ph.D.
Dalam kompetisi ini, peserta diminta membuat poster yang memuat pesan kebangsaan, nilai sejarah, dan semangat Pancasila dengan mengangkat tokoh Indonesia yang telah wafat namun kurang dikenal atau mengalami penafsiran ulang atas kiprahnya.
Setiap karya wajib didukung referensi yang dapat dipertanggungjawabkan dan dipresentasikan di hadapan dewan juri.
Pada tahap final, masing-masing peserta diberikan waktu tiga menit untuk mempresentasikan karya dan 10 menit untuk menjawab pertanyaan dari dewan juri.
Penilaian dilakukan berdasarkan kreativitas visual, kejelasan informasi, orisinalitas karya, serta kemampuan peserta mempertanggungjawabkan isi poster yang dibuat.
Lomba ini mendapat antusiasme tinggi dengan total 634 karya yang masuk dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 105 poster lolos ke tahap penyisihan hingga akhirnya terpilih 10 finalis terbaik.
Sepuluh finalis tersebut adalah Angie Michelle Grafiella, Arya Athaullah Rafi, Claudia Felicia Wahyudi, Ezekiel Reuben Kandoko, Faikha Adhwa Naura, dan Heather Setiawan dari Universitas Ciputra; Cinta Aisyah Nur Rahmadita dan Puspita Sari dari Universitas Multi Data Palembang; Hilldania Hellena dari Universitas Negeri Surabaya; serta Rahadian Haryo Luqman Nur Hakim dari Universitas Jember.
Berdasarkan hasil penilaian akhir dewan juri,
Juara I : Rahadian Haryo Luqman Nur Hakim dari Universitas Jember dengan total nilai 44,9.
Juara II: Claudia Felicia Wahyudi dari Universitas Ciputra dengan nilai 42,3,
Juara III: Arya Athaullah Rafi dari Universitas Ciputra dengan nilai 42,2.
Juara IV: Heather Setiawan dari Universitas Ciputra dengan nilai 42,0,
Juara V : Angie Michelle Grafiella dari Universitas Ciputra dengan nilai 40,9.
Rahadian mengaku mengangkat sosok Siti Rukiah Kertapati dalam karya posternya. Menurutnya, tokoh tersebut merupakan figur penting yang memiliki kontribusi besar terhadap pendidikan, literasi, dan perjuangan perempuan Indonesia, namun namanya tidak banyak dikenal generasi saat ini.
"Dalam lomba ini, saya mengangkat Siti Rukiah Kertapati, seorang perempuan kampung yang berasal dari Purwakarta. Ia lahir dari kalangan rakyat biasa, bukan bangsawan, priyayi, atau pemilik privilese sosial," kata Rahadian melalui pesan WhatsApp kepada panitia.
Lanjut ia sampaikan,"Siti Rukiah Kertapati tidak berjuang dengan bedil dan tidak pula bertumpu pada kekuatan harta warisan, melainkan menjadikan sastra sebagai senjata untuk memperjuangkan pendidikan, literasi, dan martabat perempuan Indonesia,ā ceritanya.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Jember itu menjelaskan bahwa Siti Rukiah Kertapati pernah memperoleh pengakuan dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada 1952 dan disejajarkan dengan sejumlah sastrawan besar pada masanya.
Selain itu, karya-karyanya untuk anak-anak turut berkontribusi dalam menumbuhkan semangat literasi pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
"Prestasinya luar biasa. Namun alih-alih dikenang, namanya justru perlahan hilang dalam arus sejarah karena menjadi korban situasi politik saat peristiwa G30S terjadi,ā ujarnya.
Selain memberikan penghargaan berupa uang tunai dan sertifikat kepada para juara, Universitas Ciputra juga memberikan sertifikat penghargaan kepada seluruh finalis.
Melalui kegiatan ini, Universitas Ciputra berharap semangat Pancasila, kebangsaan, dan penghargaan terhadap jasa para tokoh bangsa dapat terus hidup melalui kreativitas serta karya generasi muda Indonesia.(*)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar