Peringati Waisak 2570 BE, Ratusan Umat Buddha Kelilingi Vihara dalam Ritual Pradaksina
- analisapost

- 50 menit yang lalu
- 2 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Ratusan umat Buddha memadati Vihara Dhamma Jaya Surabaya untuk mengikuti peringatan Detik-detik Tri Suci Waisak 2570 BE/2026, Minggu (31/5/2026) sore.

Salah satu rangkaian utama dalam perayaan Hari Raya Waisak tahun ini adalah ritual Pradaksina yang diikuti lebih dari 500 umat Buddha sebagai bentuk penghormatan spiritual kepada Sang Buddha.
Perayaan Waisak 2570 BE yang bertepatan dengan tahun 2026 ini menjadi momentum sakral bagi umat Buddha untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddharta Gautama, yakni kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan Parinibbana atau wafatnya Sang Buddha.
Selain sebagai prosesi ibadah, perayaan Waisak juga diharapkan menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.
Ritual Pradaksina diawali oleh para bhikkhu yang berjalan di barisan terdepan. Selanjutnya, ratusan umat Buddha berjalan perlahan mengelilingi vihara sebanyak tiga kali searah jarum jam.
Dalam prosesi tersebut, para peserta berjalan tanpa alas kaki sambil mengenakan pakaian atasan berwarna putih dan bawahan hitam yang melambangkan kemurnian. Mereka membawa bendera Merah Putih, bendera Buddhis, lilin, bunga, buah-buahan, hingga bunga sedap malam.
Suasana khidmat dan penuh ketenangan terasa sepanjang ritual berlangsung. Umat Buddha tampak melantunkan paritta atau doa-doa suci sembari menunjukkan sikap anjali, yaitu kedua tangan dirangkap di depan dada sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan spiritual.
Gerakan mengelilingi vihara searah jarum jam dalam ritual Pradaksina memiliki makna filosofis yang mendalam.
Arah tersebut melambangkan pergerakan matahari yang merepresentasikan keberuntungan, harmoni, dan perjalanan menuju masa depan yang lebih baik. Konsep ini juga memiliki keterkaitan dengan simbol Swastika yang dalam ajaran Buddha dimaknai sebagai simbol keseimbangan dan keberuntungan.
Pendiri Vihara Dhamma Jaya Surabaya, Romo Widya Kusuma, mengatakan bahwa ritual Pradaksina merupakan bentuk penghormatan kepada Sang Buddha sekaligus ungkapan rasa syukur atas ajaran yang telah diwariskan kepada umat manusia.
āPerayaan Hari Suci Waisak merupakan momentum suci untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha, yaitu kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan ParinibbÄna atau wafat,ā ujar Romo Widya Kusuma kepada awak media AnalisaPost, saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Menurutnya, peringatan Waisak tahun ini menjadi pengingat bagi umat untuk kembali menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kedamaian, dan pengendalian diri di tengah berbagai persoalan dan perpecahan yang masih terjadi di dunia.
āAjaran Buddha mengingatkan bahwa perdamaian berasal dari hati dan pikiran kita. Melalui Waisak, umat Buddha diimbau untuk memperkuat sila, meditasi atau pengendalian pikiran, serta memperbanyak perbuatan baik agar dapat memberikan manfaat bagi sesama dan lingkungan,ā tegasnya.
Romo Widya berharap semangat Waisak dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat untuk terus menjaga toleransi, mempererat persaudaraan, dan membangun kehidupan yang damai.
āSemoga cahaya Waisak menerangi hati semua makhluk, membawa kedamaian, kebahagiaan, dan kebijaksanaan bagi dunia,ā ungkapnya.
Perayaan Waisak tahun ini memiliki sedikit perbedaan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 ritual dilaksanakan pada malam hari, maka pada 2026 rangkaian peringatan digelar sejak siang hingga menjelang sore untuk menyesuaikan waktu munculnya bulan purnama yang menjadi penanda penting dalam Hari Raya Waisak.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar