Rektor ITS: Kampus Masa Depan Harus Inklusif, Aman, dan Berpusat pada Manusia
- analisapost

- 30 Jul
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Dr. (HC.) Ir. Bambang Pramujati, ST., MSc.Eng., Ph.D. menegaskan bahwa perguruan tinggi masa depan harus mampu membangun ekosistem yang berpusat pada manusia (human-centered ecosystem), bukan hanya berorientasi pada capaian akademik.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam gelar wicara bertajuk "Universitas Inklusif dan Antikekerasan: Aksesibilitas, Kesejahteraan, dan Kesempatan yang Setara", yang merupakan rangkaian U25 PTN-BH Leaders Forum 2026Ā di Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (29/7).
Forum yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi wadah strategis bagi para pimpinan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) se-Indonesia untuk membahas penguatan tata kelola perguruan tinggi yang inklusif, aman, dan berdaya saing.
Dalam paparannya, Bambang menyampaikan bahwa indikator keunggulan perguruan tinggi saat ini tidak lagi semata-mata diukur dari prestasi akademik. Menurutnya, universitas harus mampu menciptakan lingkungan yang menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan.
"Jadi yang menjadi arah melaju universitas adalah mampu membangun ekosistem yang berpusat pada manusia (human-centered ecosystem)," ujar Bambang.
Ia menjelaskan, sebagai institusi yang memiliki misi membangun peradaban, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengakomodasi keberagaman. Universitas juga harus menjadi ruang yang mampu mendorong setiap individu berkembang secara optimal.
"Universitas harus menyediakan wadah yang merekayasa setiap individu agar dapat berkembang secara optimal (flourish)," katanya.
Bambang menambahkan, bagi perguruan tinggi berbasis teknologi seperti ITS, inovasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menghasilkan teknologi canggih atau membangun infrastruktur modern. Menurutnya, ilmu rekayasa harus diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ITS mengembangkan lima pilar utama yang meliputi tata kelola, infrastruktur, kampus digital, kesejahteraan, serta inovasi yang inklusif. Kelima pilar tersebut dirancang secara terpadu agar nilai inklusivitas menjadi budaya yang hidup di lingkungan kampus.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inovasi teknologi asistif yang dikembangkan sivitas akademika ITS. Di antaranya Neutrack AI Glove, sarung tangan pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu navigasi penyandang tunanetra dan pasien Alzheimer, BaaDaaBooĀ sebagai media edukasi pramenulis bagi anak, SMILE Hand TherapyĀ untuk terapi fisik berbasis gamifikasi, hingga MobiAi, kursi roda pintar yang dikendalikan melalui gerakan mata.

"Seluruh inovasi ini menegaskan prinsip bahwa teknologi harus dikembangkan dengan empati agar tidak ada satu pun yang tertinggal," tegasnya.
Selain aksesibilitas, Bambang juga menyoroti pentingnya kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kampus yang inklusif. Ia menilai tingginya ritme akademik di perguruan tinggi teknologi menghadirkan tantangan psikologis yang semakin kompleks sehingga memerlukan pendekatan yang komprehensif.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah pendekatan Look, Listen, Link, yang tidak hanya berfokus pada layanan konseling ketika masalah muncul, tetapi juga membangun sistem pendampingan sejak dini melalui skrining awal, pendampingan akademik, hingga mekanisme rujukan kepada tenaga profesional.
"Seluruh lapisan perlu dibekali kemampuan dasar untuk mengenali gejala awal, mendengarkan secara empatik, serta menghubungkan dengan layanan profesional," tutur Bambang.
Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga memberikan perhatian terhadap upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus yang inklusif hanya dapat terwujud apabila seluruh sivitas akademika merasa aman.
Karena itu, penguatan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) menjadi kebutuhan penting bagi setiap institusi pendidikan tinggi.
"Berikan dukungan kebijakan yang kuat, sistem pelaporan terpercaya, serta penanganan yang cepat dan berpihak kepada korban," tegasnya.
Ia juga menilai budaya antikekerasan harus dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan mengenai relasi yang sehat, etika pergaulan, serta penghormatan terhadap martabat setiap individu.
"Meningkatnya jumlah laporan tidak selalu berarti kampus gagal, melainkan dapat menjadi indikator meningkatnya kepercayaan terhadap sistem perlindungan yang dimiliki universitas," ujarnya.
Bambang berharap langkah kolektif seluruh pimpinan PTN-BH dapat memperkuat standar keselamatan, kesehatan mental, aksesibilitas, serta tata kelola kampus yang humanis. Ia mengajak seluruh perguruan tinggi menjadikan inklusivitas sebagai agenda bersama dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman dan setara.
Melalui pendekatan tersebut, ITS ingin menunjukkan bahwa teknologi dan kemanusiaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya harus berjalan beriringan untuk membangun masa depan pendidikan tinggi Indonesia yang lebih inklusif, bebas dari kekerasan, dan memiliki daya saing global.
Isu yang diangkat dalam forum ini juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 mengenai pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata, tujuan ke-10 tentang pengurangan kesenjangan melalui aksesibilitas yang setara, serta tujuan ke-17 yang mendorong kemitraan strategis dalam mewujudkan tata kelola perguruan tinggi yang humanis.(Tim)





Komentar