Dorong Minat Baca Generasi Muda, SMA Negeri 9 Surabaya Gelar Lomba Literasi
- analisapost

- 2 jam yang lalu
- 4 menit membaca
SURABAYA - analisapodt.com | SMA Negeri 9 Surabaya menggelar kegiatan Semarak Hari Perpustakaan dan Hari Buku 2026 di aula sekolah pada Rabu (17/6/26).

Mengusung tema "Jelajahi Dunia Lewat Literasi", kegiatan ini menghadirkan dua kompetisi utama, yakni Book Talk Challenge dan Book Cover Challenge, sebagai upaya meningkatkan minat baca sekaligus mengembangkan kreativitas peserta didik.
Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Perpustakaan dan Hari Buku Nasional tersebut diikuti oleh siswa kelas X dan XI, juga dihadiri Pemenang III Putri Duta Bahasa Jawa Timur 2025, Anindira Habibi Ayu Setiandar, anggota Komite Sekolah Saiful Bahri, serta sejumlah guru yang bertugas sebagai dewan juri.
Ketua Panitia, Nurani, M.Pd., saat di temui awak media AnalisaPost disela-sela kegiatan mengatakan bahwa penyelenggaraan lomba ini merupakan langkah positif untuk membangkitkan kembali budaya membaca di kalangan siswa di tengah tingginya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.
"Kami berharap dengan adanya kegiatan ini dapat membuka cakrawala mereka bahwa membaca itu sangat penting terutama agar mereka tidak hanya fokus pada telepon genggam. Semoga kedepan kegiatan seperti ini dapat kembali terlaksana dengan konsep yang lebih baik lagi," ujarnya.
Baca Juga: Universitas Ciputra Gelar Lomba Poster Nasional 2026, Angkat Tokoh Kebangsaan yang Terlupakan
Nurani menambahkan, masing-masing lomba diikuti oleh 21 peserta yang berasal dari kelas X dan XI. Setiap kelas mengirimkan dua perwakilan, yakni satu siswa untuk mengikuti Book Talk Challenge dan satu siswa lainnya untuk Book Cover Challenge.
Dalam Book Talk Challenge, peserta menerima buku secara acak yang terdiri dari buku fiksi maupun nonfiksi. Setelah membaca, peserta diminta membuat resensi dan mempresentasikan pemahamannya di hadapan dewan juri. Mereka juga harus menjawab sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan isi buku yang telah dibaca.
Sementara itu, Book Cover Challenge menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan kreativitas melalui desain sampul buku yang mampu merepresentasikan isi cerita secara visual.
Untuk menjaga objektivitas penilaian, panitia melibatkan guru sesuai bidang kompetensinya. Dewan juri Book Talk Challenge berasal dari guru Bahasa Indonesia, sedangkan Book Cover Challenge dinilai oleh guru Seni Budaya. Masing-masing kategori dinilai oleh tiga orang juri sehingga total terdapat enam juri dalam perlombaan tersebut.
Nurani menegaskan bahwa tujuan utama lomba bukan semata-mata mencari pemenang, melainkan menumbuhkan kecintaan siswa terhadap buku dan budaya membaca.

"Inti dari lomba ini adalah agar anak-anak mencintai dan membiasakan diri membaca buku. Apa pun buku yang dibaca, diharapkan dapat dipelajari dan ditekuni dengan baik," katanya.
Hal senada disampaikan oleh Anindira Habibi Ayu Setiandar. Menurutnya, peringatan Hari Buku dan Hari Perpustakaan yang diselenggarakan SMA Negeri 9 Surabaya merupakan bentuk nyata dukungan terhadap peningkatan literasi generasi muda.
"Tidak banyak sekolah yang menganggap momen ini penting. Padahal, kondisi literasi di Indonesia masih perlu mendapat perhatian. Karena itu, kolaborasi dan kegiatan yang berkaitan dengan membaca, mengulas buku, dan aktivitas literasi lainnya sangat diperlukan. Hal tersebut akan membantu siswa dalam proses belajar di sekolah maupun saat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi," tuturnya.
Salah satu juri Book Cover Challenge, Anie Setiawati, S.Pd., menjelaskan bahwa desain sampul buku memiliki fungsi yang berbeda dengan poster karena harus mampu menggambarkan keseluruhan isi buku.
"Book cover berbeda dengan poster karena berfungsi sebagai halaman depan buku. Judul yang dibuat harus mampu mewakili seluruh isi buku. Baik melalui gambar maupun tulisan, semuanya harus dapat menggambarkan isi yang terdapat di dalam buku. Harapannya, siswa mampu menggali kreativitas mereka melalui media apa pun yang digunakan," terang Anie.
Anie menambahkan, sebanyak 21 karya dari perwakilan kelas X dan XI mengikuti kategori tersebut. Seluruh karya dinilai berdasarkan aspek kreativitas, kesesuaian tema, serta kemampuan visual dalam merepresentasikan isi buku.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang perlombaan berlangsung. Salah satunya ditunjukkan oleh Lady Verinca Sagunawa, siswi kelas XI-B yang mengikuti Book Talk Challenge. Ia mengaku merasa lega setelah menyelesaikan presentasinya di hadapan dewan juri dan peserta lainnya.
"Yang pasti saya merasa lega karena sudah tampil dan sudah berusaha semaksimal mungkin. Untuk hasilnya nanti seperti apa, saya serahkan saja. Yang penting saya sudah memberikan yang terbaik," ujarnya.
Lady menilai lomba tersebut menjadi pengalaman yang menyenangkan karena membangkitkan kembali minat bacanya yang sempat menurun akibat kesibukan.
Baca Juga: Kritik Keras Tiyo Ardianto Soal MBG Kembali Disorot Usai Kasus Dugaan Korupsi BGN Terungkap
"Lomba ini seru karena saya bisa membagikan kembali rasa suka saya terhadap membaca. Sebenarnya saya memang hobi membaca, tetapi belakangan agak meredup karena cukup sibuk. Dengan adanya lomba ini, saya merasa hobi membaca saya bangkit kembali," cerita Lady.
Ia juga mengungkapkan bahwa waktu persiapan yang tersedia relatif singkat. Buku yang menjadi bahan lomba baru diterimanya pada Sabtu sehingga ia hanya memiliki waktu sekitar satu hari untuk membaca dan memahami isi buku secara menyeluruh.
"Persiapannya cukup singkat. Buku dari sekolah baru diberikan hari Sabtu, jadi saya hanya punya waktu sekitar satu hari untuk membaca buku tersebut secara keseluruhan," ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, Lady mewakili kelasnya hanya pada satu cabang lomba. "Saya hanya mewakili kelas untuk mengikuti lomba Book Talk," tuturnya.

Melalui pengalaman tersebut, Lady berharap dapat meningkatkan kebiasaan membaca sekaligus mengambil berbagai nilai positif dari buku yang dibacanya.
"Saya ingin bisa menjadi orang yang lebih gemar membaca. Sebenarnya saya suka membaca, tetapi kadang merasa jenuh. Semoga setelah mengikuti lomba ini saya bisa lebih memahami cerita yang saya baca sehingga tidak mudah bosan. Selain itu, saya juga berharap bisa mempelajari sifat-sifat baik yang ada dalam cerita dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Dalam presentasinya, Lady mengulas sebuah cerita bertema pertemuan kembali dengan masa lalu. Menurutnya, kisah tersebut menyajikan berbagai pelajaran hidup sekaligus menjadi sarana refleksi bagi tokoh-tokoh yang terlibat di dalam cerita.
Dengan semangat "Jelajahi Dunia Lewat Literasi", sekolah berharap membaca tidak hanya menjadi aktivitas sesaat, melainkan menjadi budaya dan gaya hidup yang melekat dalam kehidupan sehari-hari para peserta didik. (Che)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar